Harga dari Sebuah Keinginan
Harga dari Sebuah Keinginan M. Kaffa Haidar Hadwan Atiq Siswa SMP. Plus Maulana Malik Ibrahim Bojonegoro Embun masih menempel di dedaunan sekitar mushola pesantren Maulana Malik Ibrahim Bojonegoro . Santri-santri sudah bersiap untuk shalat Dhuha dan bersih-bersih lingkungan, tapi satu suara meninggi di depan mushola, membuat semua kepala menoleh. Itu Jaka . “Pokoknya Jaka mau HP itu, Yah, Bu!” suaranya lantang, wajahnya merah karena emosi. “Teman-teman Jaka semua udah punya! Masa Jaka nggak?! Malu, Bu!” Di hadapannya berdiri Pak Dedi dan Bu Endang , orang tua Jaka, yang datang untuk sambangan. Keduanya tampak kikuk, menunduk menahan perasaan. Peluh di kening Pak Dedi masih menetes — ia bahkan belum sempat mengganti baju kerja setelah menempuh perjalanan jauh dari kampung. “Jaka…” ucap Bu Endang pelan, suaranya lembut tapi lelah, “Ibu belum bisa belikan yang itu, Nak. Harganya mahal sekali. Gaji Ibu di pabrik saja belum cukup buat bayar biaya pondok bulan...