Balon-Balon di Persimpangan Jalan
Balon-Balon di Persimpangan Jalan
Faiqotu Zuhroh
Siswa SMP. Plus Maulana Malik Ibrahim Bojonegoro
Jam
Istirahat Pagi - Pukul 09.30
"Ayo,
Nisa! Kita ke toko buku sekarang. Nanti keburu habis waktu istirahatnya!"
ajak Faiq sambil menenteng tas kecil.
Aku
berjalan bersama Faiq, Salwa, Shofi, Melva, dan Yola menuju gerbang pondok.
Kami izin keluar sebentar untuk membeli alat-alat kelas—spidol, kertas karton,
dan beberapa perlengkapan untuk tugas kelompok besok.
Bu
Hawa memberikan izin dengan catatan harus kembali sebelum dzuhur.
"Jangan
lama-lama ya. Langsung beli terus balik," pesan Bu Hawa.
"Siap,
Bu!" jawab kami serempak.
Kami
berjalan kaki karena tokonya tidak terlalu jauh—hanya sekitar 15 menit dari
pondok. Cuaca pagi itu cerah. Angin sepoi-sepoi. Kami mengobrol sambil tertawa,
membicarakan tugas kelompok yang harus kami presentasikan besok.
"Nisa,
kamu yang jadi moderatornya ya," usul Shofi.
"Boleh.
Asal kalian kompak saat presentasi," jawabku sambil tersenyum.
Kami
melewati persimpangan jalan yang ramai. Banyak pedagang kaki lima berjualan di
sana—pedagang gorengan, es, mainan anak-anak.
Lalu
aku melihatnya.
Jantungku
langsung berhenti berdetak.
Di
pojok persimpangan, di bawah pohon rindang, ada dua orang yang sangat kukenal.
Seorang pria berkursi roda dengan balon-balon warna-warni terikat di kursinya.
Dan seorang wanita di sampingnya, menawarkan balon kepada anak-anak kecil yang
lewat.
Papa.
Mama.
Aku
terdiam di tengah jalan. Kakiku seperti tertanam di aspal.
"Nisa?
Kenapa berhenti?" tanya Yola sambil menoleh.
Aku
tidak menjawab. Mataku terus menatap Papa dan Mama yang sedang tersenyum ramah
pada seorang anak kecil, mencoba meyakinkan ibunya untuk membeli balon.
"Nisa,
kamu kenapa? Mukanya pucat," Faiq mendekatiku dengan wajah khawatir.
"A-aku...
aku tidak apa-apa," jawabku terbata-bata.
Tapi
aku tidak baik-baik saja.
Aku
melihat Papa—Papa yang dulu pemilik perusahaan konstruksi besar—sekarang duduk
di kursi roda menjual balon di pinggir jalan.
Aku
melihat Mama—Mama yang dulu pemilik butik mewah—sekarang berdiri di terik
matahari, menawarkan balon dengan senyum yang dipaksakan.
"Nisa,
itu..." Salwa mengikuti arah pandangku. "Itu... Papa dan Mama
kamu?"
Aku
langsung menarik tangan Salwa. "Bukan! Ayo kita jalan!"
"Tapi
Nisa, itu jelas—"
"Aku
bilang bukan!" bentakku dengan suara yang lebih keras dari yang
kuinginkan.
Teman-temanku
saling bertatapan bingung. Tapi mereka tidak bertanya lagi.
Kami
melanjutkan perjalanan ke toko buku. Tapi kakiku terasa berat. Dadaku sesak.
Mataku berkaca-kaca.
Aku
malu.
Sangat
malu.
…
Di
toko buku, aku hanya diam. Tidak ikut memilih barang seperti yang lain.
Pikiranku terus melayang pada Papa dan Mama di persimpangan tadi.
Kenapa
mereka harus jualan di situ? Kenapa harus di tempat yang ramai? Kenapa harus di
tempat yang mungkin dilewati teman-teman pondokku?
"Nisa,
kamu pilih warna apa untuk kertas kartonnya?" tanya Melva.
"Terserah,"
jawabku pendek.
Faiq
menatapku dengan tatapan khawatir. Dia tahu ada yang tidak beres. Tapi dia
tidak bertanya di depan teman-teman yang lain.
Setelah
selesai belanja, kami berjalan kembali ke pondok. Aku sengaja mengambil jalan
lain—jalan yang lebih jauh—agar tidak melewati persimpangan tadi lagi.
"Nisa,
kenapa kita lewat sini? Bukannya lebih cepat lewat jalan tadi?" tanya
Yola.
"Aku...
aku mau lihat-lihat. Jalan ini lebih sejuk," alasanku sambil menunduk.
…
Kami
tiba di pondok tepat sebelum adzan dzuhur berkumandang. Bu Hawa sudah menunggu
di gerbang dengan wajah lega.
"Alhamdulillah
kalian tepat waktu. Ayo, langsung wudhu. Sebentar lagi dzuhur," perintah
Bu Hawa.
Kami
berpencar. Aku berjalan cepat menuju kamar untuk menaruh belanjaan. Tapi
langkahku terhenti saat mendengar suara dari arah koridor.
Suara
Melva dan Salwa.
Mereka
sedang berbincang sambil berjalan di depanku, tidak menyadari kehadiranku di
belakang.
"Salwa,
tadi itu beneran Papa dan Mama Nisa kan?" tanya Melva dengan suara agak
keras.
"Iya,
aku yakin itu mereka. Aku pernah lihat foto Papa Nisa yang dikasih lihat Nisa
dulu. Yang pake kursi roda itu," jawab Salwa.
"Wah,
kasihan juga ya. Dulu Nisa cerita Papa-nya pengusaha besar. Sekarang jualan
balon di pinggir jalan," kata Melva dengan nada... mengejek.
Salwa
tertawa kecil. "Iya, dari mobil mewah jadi jualan balon. Turun drastis
banget ya."
"Kamu
bayangin nggak sih, Nisa yang dulu sombong banget, ternyata Papa Mama-nya
sekarang jadi pedagang kaki lima. Ironis banget," Melva tertawa lebih
keras.
"Makanya
jangan sombong. Hidup itu berputar," sahut Salwa sambil ikut tertawa.
Mereka
tertawa. Tertawa lepas. Seperti sedang membicarakan lelucon.
Dadaku
terasa diremas. Napas ku sesak. Tanganku mengepal erat sampai kuku-kukuku
menancap di telapak tangan.
Aku
ingin berteriak. Ingin menghampiri mereka dan membentak. Tapi kakiku tidak bisa
bergerak.
Aku
hanya berdiri di situ, mendengar tawa mereka yang terasa seperti ribuan jarum
menusuk hatiku.
Setelah
mereka pergi, aku berlari ke kamar. Menutup pintu. Dan menangis.
Menangis
karena malu. Menangis karena marah. Menangis karena tidak bisa menerima
kenyataan.
…
Faiq
mengetuk pintu kamarku sebelum dzuhur.
"Nisa,
sholat dzuhur. Ayo," ajaknya lembut dari luar.
"Aku...
aku tidak enak badan. Aku sholat di kamar saja," jawabku dengan suara
serak.
"Nisa,
kamu baik-baik saja? Boleh aku masuk?"
"Tidak
usah, Faiq. Aku mau istirahat."
Faiq
terdiam sebentar. "Baiklah. Tapi kalau kamu butuh teman, aku ada di sini
ya."
Aku
tidak menjawab. Hanya terus menangis dalam diam.
…
Pak
Misqol memanggilku ke pos keamanan.
"Nisa,
ada tamu. Papa dan Mama kamu datang," katanya dengan senyum ramah.
Jantungku
berdegup keras. Aku tidak siap bertemu mereka. Tidak setelah apa yang terjadi
pagi tadi.
Tapi
aku harus ke sana.
Papa
dan Mama duduk di ruang tamu pondok. Papa di kursi roda, Mama di sampingnya.
Wajah mereka terlihat lelah. Pakaian mereka lusuh—beda jauh dengan dulu saat
mereka datang dengan pakaian rapi dan wangi.
"Nisa
sayang!" Mama berdiri, hendak memelukku.
Aku
mundur selangkah. Tidak menerima pelukan Mama.
Wajah
Mama berubah. Terluka. Bingung.
"Nisa...
kenapa?" tanya Mama pelan.
"Kenapa?
Mama tanya kenapa?!" aku meninggikan suara. "Kenapa Mama dan Papa
jualan di persimpangan tadi?! Kenapa harus di situ?! Kenapa harus di tempat
yang rame?!"
Papa
menatapku dengan tatapan terkejut. "Nisa, itu karena—"
"Karena
apa?! Karena Papa dan Mama mau mempermalukanku?!" bentakku sambil
menangis.
"Nisa,
jangan bicara seperti itu," Mama berusaha menenangkan dengan suara
bergetar. "Papa dan Mama jualan itu untuk—"
"Untuk
apa?! Untuk bikin aku malu?! Tadi teman-temanku lihat! Mereka lihat Papa dan
Mama jualan balon kayak pedagang kaki lima biasa! Mereka ketawa-ketawa
ngomongin Papa dan Mama! Ngomongin aku!" aku berteriak tidak terkendali.
Air
mata Mama jatuh. Papa hanya menunduk, menggigit bibir.
"Nisa,
Papa dan Mama jualan itu untuk biaya hidupmu. Untuk biaya pondokmu.
Untuk—"
"Aku
tidak butuh! Aku tidak butuh uang hasil jualan balon! Aku malu punya orang tua
yang jadi pedagang kaki lima!" aku memotong kata-kata Papa dengan kejam.
Kalimat
itu keluar begitu saja. Dan begitu keluar, aku langsung menyesal. Tapi sudah
terlambat.
Papa
menatapku dengan mata yang berkaca-kaca. Mama menutupi mulutnya, menahan isak.
"Nisa..."
suara Papa bergetar. "Papa... Papa melakukan ini semua untuk kamu. Papa
tidak bisa bekerja lagi. Papa cuma punya ini—jualan balon—untuk bisa kasih
makan keluarga kita. Untuk bisa bayar pondokmu."
"Aku
tidak peduli! Yang aku peduli, Papa dan Mama mempermalukanku!" teriakku
lagi.
Mama
menangis terisak-isak. "Nisa... Nisa sayang... Mama mohon jangan bicara
seperti itu. Mama tahu ini malu. Tapi Mama tidak punya pilihan lain. Mama mau
kamu tetap bisa sekolah. Tetap bisa mengaji."
"Kalau
Papa dan Mama sayang aku, berhenti jualan! Berhenti jualan di sekitar sini! Aku
tidak mau teman-temanku lihat lagi!" bentakku dengan air mata yang
mengalir deras.
Papa
dan Mama hanya terdiam.
Tidak
membantah. Tidak marah. Hanya terdiam dengan wajah yang hancur.
Lalu
Papa menggerakkan kursi rodanya, berbalik menghadap pintu.
"Ayo,
Yanti. Kita pulang," kata Papa dengan suara yang sangat pelan. Suara yang
penuh luka.
Mama
mengikuti Papa dengan langkah gontai. Sebelum keluar, Mama menoleh ke arahku.
Menatapku dengan tatapan yang tidak bisa kulupakan.
Tatapan
sakit. Tatapan kecewa. Tatapan hancur.
"Maafin
Mama, Nisa. Maafin Mama yang jadi beban untukmu," bisik Mama sebelum
mereka pergi.
Pintu
tertutup.
Dan
aku terduduk lemas di lantai. Menangis.
Tapi
kali ini bukan karena malu.
Tapi
karena menyesal.
…
Faiq
menemukanku di ruang tamu setengah jam kemudian. Aku masih duduk di lantai,
memeluk lutut, menangis.
"Nisa..."
dia duduk di sampingku. "Aku dengar semuanya dari Pak Misqol. Kenapa kamu
bicara seperti itu ke Papa dan Mama kamu?"
"Aku...
aku malu, Faiq. Aku tidak kuat lihat mereka seperti itu," jawabku di
sela-sela isakan.
"Malu?
Malu kenapa? Malu karena Papa dan Mama kamu berjuang keras untuk kamu?"
"Tapi
mereka jualan balon! Di pinggir jalan! Seperti orang miskin!"
Faiq
menatapku dengan tatapan yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Tatapan kecewa.
"Nisa,
kamu tahu apa yang paling menyedihkan dari semua ini?"
Aku
mengangkat wajah, menatapnya.
"Yang
paling menyedihkan adalah kamu lebih peduli dengan apa kata orang lain,
daripada peduli dengan perjuangan Papa dan Mama kamu. Mereka menjual harga diri
mereka demi kamu. Dan kamu malah menyalahkan mereka."
Kata-kata
Faiq menohok. Tepat di jantung.
"Papa
kamu yang dulu pengusaha besar, sekarang duduk di kursi roda menjual balon di
terik matahari. Mama kamu yang dulu punya butik mewah, sekarang berdiri
berjam-jam di pinggir jalan. Mereka melakukan itu semua untuk siapa? Untuk
kamu, Nisa. Untuk kamu tetap bisa sekolah di sini."
Air
mataku mengalir semakin deras.
"Dan
kamu malah bilang kamu malu punya orang tua seperti mereka? Kamu tahu siapa
yang seharusnya malu? Kamu, Nisa. Kamu yang harusnya malu punya anak seperti
kamu."
Faiq
berdiri, meninggalkanku sendirian.
Dan
aku menangis. Menangis sejadi-jadinya. Karena aku tahu, Faiq benar.
Aku
yang salah.
Aku
yang jahat.
Aku
yang tidak tahu berterima kasih.
…
Malam
itu, aku tidak bisa tidur. Aku terus membayangkan wajah Papa dan Mama saat aku
membentak mereka. Terus mendengar suara Mama yang bergetar saat meminta maaf.
Aku
mengambil HP—yang sekarang cuma HP jadul untuk telepon saja—dan menelepon
rumah.
Tidak
ada yang angkat.
Aku
coba lagi. Masih tidak ada yang angkat.
Aku
coba lagi. Dan lagi. Dan lagi.
Sampai
akhirnya, telepon diangkat. Suara Mama terdengar pelan.
"Halo?"
"Mama..."
aku langsung menangis. "Mama, maafin aku. Maafin aku, Ma. Aku jahat. Aku
salah. Maafin aku..."
Mama
terdiam. Lalu terdengar suara isakannya.
"Nisa...
Nisa sayang..."
"Mama,
aku minta maaf. Aku tidak tahu apa yang aku pikirkan tadi. Aku... aku cuma
malu. Tapi aku salah, Ma. Aku salah besar. Harusnya aku bangga sama Papa dan
Mama. Bangga karena Papa dan Mama berjuang keras untuk aku."
"Nisa...
Mama tidak marah sama kamu, Nak. Mama cuma sedih. Sedih karena Mama tidak bisa
kasih hidup yang layak untuk kamu," kata Mama di sela-sela tangisannya.
"Mama
jangan bilang begitu! Mama dan Papa sudah kasih aku segalanya! Kalian berjuang
mati-matian untuk aku! Aku yang tidak peka! Aku yang egois!"
Terdengar
suara Papa di latar belakang. "Yanti, siapa?"
"Papa,
ini Nisa," jawab Mama.
"Papa..."
aku memanggil dengan suara bergetar. "Papa, maafin aku. Maafin kata-kata
aku tadi. Aku jahat. Aku tidak berhak bilang begitu ke Papa dan Mama."
Papa
terdiam lama. Lalu terdengar suaranya—suara yang penuh luka tapi juga penuh
kasih sayang.
"Nisa,
Papa tidak pernah marah sama kamu. Papa cuma ingin kamu mengerti, bahwa Papa
melakukan ini bukan untuk mempermalukanmu. Tapi karena Papa sayang sama
kamu."
"Aku
tahu, Pa. Sekarang aku tahu. Dan aku minta maaf. Aku janji tidak akan pernah
bicara seperti itu lagi."
"Papa
dan Mama memaafkanmu, Nak. Tapi Papa mau kamu belajar. Belajar untuk tidak malu
dengan keadaan kita. Belajar untuk bangga dengan usaha kita, sekecil apapun
itu."
Aku
mengangguk walau mereka tidak bisa melihat. "Aku janji, Pa. Aku
janji."
…
Keesokan
harinya, aku menemui Melva dan Salwa di kantin setelah subuh.
"Melva,
Salwa, aku mau bicara," kataku dengan tegas.
Mereka
menoleh, sedikit terkejut dengan nadaku.
"Kemarin
aku dengar kalian ngomongin Papa dan Mama aku. Ngomongin mereka sambil
ketawa."
Wajah
Melva dan Salwa langsung berubah. Mereka saling pandang, gugup.
"Nisa,
kami... kami cuma—" Melva mencoba membela diri.
"Dengar
aku dulu," aku memotong. "Aku tidak marah. Aku cuma mau kalian tahu.
Papa aku yang jualan balon itu, dia dulu pengusaha sukses. Tapi kecelakaan
bikin dia lumpuh dan bisnis kami bangkrut. Mama aku yang jualan balon itu, dia
dulu punya butik mewah. Tapi dia relakan semuanya untuk aku bisa tetap
sekolah."
Air
mataku mulai berkumpul di pelupuk mata.
"Mereka
berdua duduk berjam-jam di terik matahari, menjual balon seharga lima ribu
rupiah. Bukan karena mereka mau. Tapi karena mereka tidak punya pilihan lain.
Dan kalian... kalian tertawa mendengarnya?"
Melva
dan Salwa menunduk dalam. Wajah mereka memerah.
"Nisa,
maafin kami. Kami tidak tahu. Kami tidak mikir," kata Salwa dengan suara
bergetar.
"Kami
jahat. Kami tidak sensitif. Maafin kami, Nisa," tambah Melva sambil
menangis.
Aku
mengusap air mataku. "Aku maafin kalian. Tapi aku mau kalian belajar.
Jangan pernah menertawakan perjuangan orang lain. Karena kalian tidak tahu
seberapa keras perjuangan itu."
Mereka
mengangguk sambil menangis. Lalu Salwa memelukku erat.
"Maafin
kami, Nisa. Kami janji tidak akan kayak gitu lagi."
…
Sore
harinya, aku izin keluar pondok bersama Faiq.
"Mau
kemana?" tanya Bu Hawa.
"Bu,
aku mau ke persimpangan jalan. Mau ketemu Papa dan Mama aku," jawabku
dengan yakin.
Bu
Hawa tersenyum. "Pergi sana. Tapi jangan lama-lama."
Kami
berjalan ke persimpangan tempat Papa dan Mama berjualan. Dan mereka ada di
sana. Di tempat yang sama. Dengan balon-balon warna-warni yang sama.
Aku
berlari menghampiri mereka. Papa terkejut melihatku. Mama berdiri, bingung.
"Nisa?
Kenapa kamu ke sini?" tanya Mama.
Aku
tidak menjawab. Aku langsung memeluk Mama erat. Lalu berlutut di samping kursi
roda Papa, memeluk kakinya.
"Papa,
Mama, maafin aku. Aku jahat. Aku egois. Maafin aku," kataku sambil
menangis.
Papa
mengusap kepalaku dengan tangan yang bergetar. "Sudah, Nak. Papa dan Mama
sudah maafin kamu."
Aku
mengangkat wajah, menatap mereka berdua. "Papa, Mama, aku bangga sama Papa
dan Mama. Bangga karena Papa dan Mama mau berjuang keras untuk keluarga kita.
Untuk aku."
Mama
menangis, memelukku erat. "Terima kasih, Nisa. Terima kasih sudah
mengerti."
Aku
berdiri, lalu mengambil beberapa balon dari tangan Mama.
"Nisa,
mau ngapain?" tanya Mama bingung.
"Aku
mau bantu jualan. Aku mau belajar bagaimana rasanya berjuang," jawabku
dengan senyum.
Papa
dan Mama menatapku dengan mata berkaca-kaca.
Faiq
tersenyum lebar di sampingku. "Aku bantu juga. Ayo kita jualan
bareng."
Kami
berempat berdiri di persimpangan itu. Menawarkan balon kepada anak-anak yang
lewat.
Dan
untuk pertama kalinya sejak lama, aku merasa bangga.
Bangga
menjadi bagian dari perjuangan keluarga kecil kami.
…
TAMAT

Comments