Posts

JEJAK CERIA DI BAWAH LANGIT KELAM

Image
  JEJAK CERIA DI BAWAH LANGIT KELAM Khaera Nisa El Mufida Siswa SMP. Plus Maulana Malik Ibrahim Bojonegoro   “Ka, lihat deh coretanku!” seru Karina, menodongkan buku gambarnya ke wajah Kalina yang sedang asyik membaca di serambi asrama putri. “Ini karakter kita, namanya Kana dan Lina, petualang yang bisa terbang ke awan!” Kalina menyunggingkan senyum, matanya yang kalem berbinar. “Bagus, Rin. Tapi kok sayapnya satu-satunya patah?” godanya lembut. “Ah, itu efek artistik!” bantah Karina, tertawa renyah. Suaranya yang lantang dan ceria memecah kesunyian sore di Pondok Maulana Malik Ibrahim Bojonegoro. Dialah energi, sementara Kalina adalah keteduhannya. Dalam pertemanan mereka, Karina yang ekstrovert dan sedikit pemarah selalu menemukan pelabuhan di dalam senyuman Kalina yang murah hati. Di situlah ide itu muncul, seperti kilat di siang bolong. “Lin, gimana kalau kita bikin komik? Petualangan Kana dan Lina! Aku yang gambar, kamu yang nulis ceritanya!” Mata Kalina ...

LUKA DI KAKI, LUKISAN DI LANGIT

Image
  LUKA DI KAKI, LUKISAN DI LANGIT Charish Adnan Siswa SMP. Plus Maulana Malik Ibrahim Bojonegoro   Langit di atas Bojonegoro sore itu begitu biru, seolah dicat oleh tangan Tuhan sendiri. Tapi bagi Rio, biru itu hanya jadi latar bagi kesendiriannya yang pekat. Pesantren Maulana Malik Ibrahim sepi. Para santri lainnya telah pulang menuju pelukan keluarga. Hanya Rio yang masih berkeliaran di asrama, menunggu Arya, ayahnya, yang janjinya menguap ditelan kesibukan. "Ditinggal lagi, ya, Rio?" suara Kyai Ihsan lembut dari balik jendela musholla. Rio hanya mengangguk kecil, senyumnya getir. "Biarin, Kyai. Nanti juga ayah datang." Tapi hatinya menjerit. Ia rindu permainan, teriakan, dan tawa. Rindu hal-hal yang seharusnya dimiliki anak laki-laki berusia dua belas tahun. Keheningannya pecah oleh suara bola dan langkah berderap. Charis, dengan kulit legam dan sorot mata nakal yang selalu membara, menghampiri. Di pesantren, mereka seperti air dan minyak. Rio yan...

Malam Terakhir Ridho

Image
  Malam Terakhir Ridho Rehan Shofil Fu’ad Siswa SMP. Plus Maulana Malik Ibrahim Bojonegoro     Waktu menunjuk 15.50 sore. Udara pesantren sore itu terasa ganjil — tidak sehangat biasanya. Awan-awan menggantung rendah, seolah menahan sesuatu di dada langit. Dari kejauhan, suara santri membaca Al-Qur’an terdengar samar, berpadu dengan desir angin yang pelan menggoyang daun waru di halaman depan pondok. Di beranda rumah pengasuh, seorang santri berwajah pucat duduk diam. Tangannya gemetar, matanya sembab, dan bibirnya nyaris tak mampu berucap. Ia adalah Ridho , santri kelas dua yang dikenal pendiam dan penurut. Ia jarang bicara, dan bila bicara pun suaranya lebih sering tenggelam di udara. “Bu…” suaranya pelan, hampir tak terdengar. “Aku… aku dibully, Bu…” Ibu Sumiati , yang datang menjenguk sore itu, menatap anaknya dengan kaget. “Dibully? Maksudmu apa, Nak? Siapa yang berbuat begitu padamu?” Ridho menunduk dalam. Ia tak sanggup menyebut nama. Kata-kata ...

DOA YANG TERSEKAT DI RONGGA LANGIT-LANGIT ASRAMA

Image
  DOA YANG TERSEKAT DI RONGGA LANGIT-LANGIT ASRAMA M. Alfin Zidna A. Siswa SMP. Plus Maulana Malik Ibrahim Bojonegoro   Langit Bojonegoro sore itu berwarna jingga tua, seolah ikut berkabung. Angin yang berhembus dari arah sawah terasa menyayat, membawa kabar buruk yang belum sampai ke telinga Rama, siswa kelas 7 SMP yang tengah asyik menghafal surat Al-Waqi'ah di kamar nomor 5, asrama putra. ……………….. Beberapa Hari yang Lalu, di Sebuah Rumah Sederhana di Pinggiran B ojonegoro "Aku sudah tidak tahan lagi, Yan," bisik Warti, suaranya serak berisi air mata yang tak pernah benar-benar kering. "Tahan tidak tahan, itu sudah kewajibanmu! Lihat anak kita, lihat Rama!" balas Yanto, suaranya menggelegar seperti selalu, memecah kesunyian malam. Perbincangan yang awalnya tenang, berubah menjadi pertengkaran sengit. Kata-kata tajam dihunjamkan seperti pisau, melukai dinding-dinding rumah yang selama ini menjadi saksi bisu kepedihan mereka. Tetangga di kiri...

Puasa yang Tak Pernah Diceritakan Zahra

Image
  Puasa yang Tak Pernah Diceritakan Zahra Melva Kamilia Adwa Azkia Siswa SMP. Plus Maulana Malik Ibrahim Bojonegoro   Siang itu, langit di atas Pondok Pesantren Maulana Malik Ibrahim Bojonegoro tampak redup, seolah matahari enggan bersinar terlalu lama. Udara panas yang biasanya membakar ubun-ubun kini terasa lembab, seperti diselimuti kabut tipis yang malas beranjak. Di kelas 7 putri, suara bel istirahat baru saja berbunyi panjang— tringggggggggg! —menandai waktu bebas yang paling dinanti para santri. Bangku-bangku bergeser, tawa bertebaran, dan sandal-sandal beradu di lantai semen. Semua santri berhamburan keluar kelas menuju kantin. Bau ayam goreng dari arah dapur Mbak Qia, penjaga kantin putri, menyeruak ke setiap lorong, menggoda siapa pun yang lewat. Namun di antara riuhnya langkah kaki dan teriakan riang, hanya satu orang yang tetap diam di dalam kelas. Zahra Zavirana. Ia duduk sendirian di bangku paling depan, kepalanya menunduk dalam, jemarinya memegan...