Nyanyian dari Loteng
Nyanyian dari Loteng M. Faizullah Setiya Hayyu, A. Nabhan Nur Alfian & Bintang Wijaya Kusuma Siswa SMP. Plus Maulana Malik Ibrahim Bojonegoro Di sebuah kota kecil yang tenang, Beni dan adik perempuannya, Rini, baru saja pindah ke rumah warisan nenek mereka. Rumah tua dua lantai itu terletak di pinggir kota, dekat hutan kecil yang konon dikenal angker oleh warga sekitar. “Kenapa harus pindah ke sini, sih?” gerutu Beni sambil meletakkan kardus terakhir di ruang tamu. “Rumah ini peninggalan almarhumah Mbah Sarmi. Kata Mama, sayang kalau ditinggal kosong terus,” jawab Rini sambil menyapu debu di lantai. Hari-hari awal terasa biasa saja. Hingga malam keempat, Rini mengaku mendengar suara nyanyian perempuan dari loteng yang selama ini selalu terkunci. Suaranya pelan, mendayu-dayu, seperti lagu pengantar tidur. Beni menertawakannya. “Paling cuma suara angin atau tikus. Jangan sok horor, Rin.” Tapi malam-malam berikutnya, suara itu semakin jelas. Kadang diiringi ...