Posts

Kuli Kecil untuk Ibu

  Kuli Kecil untuk Ibu  M. Sabrar Fadhila & Rehan Shofil Fu’ad Siswa SMP. Plus Maulana Malik Ibrahim Bojonegoro   Pagi itu, suara ayam jantan di kampung sudah tiga kali berkokok. Embun masih menggantung di ujung daun singkong, dan udara pagi membawa aroma tanah basah. Di sebuah rumah kayu sederhana, Rafi terbangun lebih awal dari biasanya. Usianya baru lima belas tahun, tapi wajahnya jauh lebih tua dari anak-anak sebayanya. Ia duduk menatap ibunya yang masih terbaring di kasur tipis. Sejak terserang stroke tiga bulan lalu, separuh tubuh ibunya lumpuh. Wajahnya kaku, bibirnya sulit digerakkan, dan setiap kata yang keluar terdengar terbata. Namun di balik kelemahan itu, matanya masih penuh kasih, menatap anak tunggal yang kini menjadi satu-satunya harapannya. “Rafi…” suara lirih itu terdengar pelan, “sarapan dulu, Nak…” Rafi menggeleng. “Ibu jangan mikir Rafi dulu. Ibu minum air hangat, ya. Rafi mau berangkat kerja.” Wanita itu terdiam. Ia tahu anaknya kini ...

Kerajaan di Balik Kabut

  Kerajaan di Balik Kabut  M. Sabrar Fadhila & Rehan Shofil Fu’ad Siswa SMP. Plus Maulana Malik Ibrahim Bojonegoro   Di kaki Gunung Lawu, ada sebuah desa kecil bernama Desa Sumberjati. Letaknya terpencil, diapit hutan pinus dan kebun bambu yang lebat. Rumah-rumah panggungnya berjajar rapi, dindingnya dari anyaman bambu, atapnya dari seng yang sudah berkarat di beberapa bagian. Warga desa hidup sederhana: bertani, beternak, dan sebagian kecil berdagang di pasar. Tidak ada listrik yang menyala terang di malam hari, hanya lampu minyak yang menggantung di depan rumah. Meski tampak damai, desa ini menyimpan cerita yang diwariskan turun-temurun. Orang-orang tua selalu berkata, “Jangan pernah berjalan sendirian saat kabut turun, apalagi di bulan Safar. Batas dunia kita dan dunia lain menjadi sangat tipis.” Banyak anak muda menganggapnya mitos untuk menakut-nakuti. Tapi ada sebagian warga yang benar-benar percaya—terutama mereka yang pernah kehilangan seseorang ta...

Sepotong Rezeki untuk Si Belang

Sepotong Rezeki untuk Si Belang    M. Sabrar Fadhila & Rehan Shofil Fu’ad Siswa SMP. Plus Maulana Malik Ibrahim Bojonegoro Pagi itu, awan kelabu menggantung rendah di langit Jakarta. Jalanan gang dipenuhi genangan air sisa hujan semalam. Bau tanah basah bercampur dengan aroma gorengan dari warung ujung gang. Di tengah udara dingin yang menusuk, seekor kucing kecil berbulu belang duduk meringkuk di sudut trotoar. Bulunya kotor, penuh lumpur, dan sebagian rontok. Matanya yang bulat tampak sayu, seolah sudah kehilangan cahaya kehidupan. Ia berjalan pelan, langkahnya gontai. Kadang berhenti untuk mencium kantong plastik yang dibawa pejalan kaki, berharap ada remah nasi atau potongan ikan yang jatuh. Tapi berkali-kali ia diusir. “Hus! Pergi sana!” “Jangan deket-deket, najis!” Si Belang sudah terbiasa dengan hardikan itu. Ia hanya menunduk dan pergi, menahan rasa lapar yang sudah membakar perutnya sejak kemarin siang. …………………… Dulu, Si Belang bukanlah kucing liar...

Sepatu Impian untuk Aira

  Sepatu Impian untuk Aira  M. Sabrar Fadhila & Rehan Shofil Fu’ad Siswa SMP. Plus Maulana Malik Ibrahim Bojonegoro   Jam lima pagi di Jakarta selalu punya suasana yang berbeda. Jalanan belum ramai, udara masih dingin, dan lampu-lampu jalan memancarkan cahaya kuning pucat. Di sebuah kontrakan sempit di pinggir kota, Pak Hadi sudah duduk di tepi ranjang, menatap jaket ojek online yang tergantung di dinding. Warnanya sudah mulai pudar, resletingnya agak macet, tapi itulah pelindungnya dari panas, hujan, dan debu jalanan. Di ruang tengah, suara langkah kecil terdengar. Aira, putri semata wayangnya, keluar sambil mengucek mata. Rambutnya berantakan, tapi senyum tipisnya selalu memberi semangat. “Ayah berangkat lagi pagi-pagi?” tanyanya, duduk di pangkuan. “Iya, Nak. Kalau pagi, rejekinya lebih banyak,” jawab Pak Hadi sambil mencium kening putrinya. Aira tidak pernah minta banyak. Tapi beberapa minggu lalu, ia bilang di sekolah teman-temannya punya sepatu olahr...

Mangkuk yang Tidak Pernah Kosong

  Mangkuk yang Tidak Pernah Kosong  M. Sabrar Fadhila & Rehan Shofil Fu’ad Siswa SMP. Plus Maulana Malik Ibrahim Bojonegoro   Perempatan Jalan Ngemplak sore itu lengang. Hanya satu benda yang mencolok di sana: sebuah gerobak mie ayam tua, catnya terkelupas, kaca depannya buram, dan papan namanya nyaris lepas. Anehnya, gerobak itu selalu ada di tempat yang sama sejak dulu, tapi tak ada yang berjualan. Warga bilang, kalau kamu membuka tutup panci kuahnya saat malam Jumat Kliwon, kamu akan mencium aroma mie ayam segar… dan suara seseorang memanggil pelan dari dalam. …………………… Aku, Raka, pendatang baru di desa ini. Orangtuaku pindah karena urusan pekerjaan. Awalnya aku tak begitu tertarik dengan cerita-cerita kampung. Tapi suatu malam, aku melihat gerobak itu dari jauh. Bulan separuh, jalan sepi, tapi aku bersumpah melihat asap tipis keluar dari panci besar di gerobak. Besoknya, aku tanya ke tetangga sebelah rumah, Pak Mardi. “Oh, itu gerobaknya Pak Sarman,” ka...

Penjaga Tak Kasat Mata di Sosrodilogo

  Penjaga Tak Kasat Mata di Sosrodilogo  M. Sabrar Fadhila & Rehan Shofil Fu’ad Siswa SMP. Plus Maulana Malik Ibrahim Bojonegoro   Bagi warga Bojonegoro, Jembatan Sosrodilogo adalah nadi kota. Panjangnya membentang gagah di atas Bengawan Solo, menghubungkan dua sisi yang dulunya hanya dihubungkan rakit sederhana. Namun, di balik konstruksi baja dan beton, ada satu hal yang tetap hidup dari masa lalu: cerita tentang “penjaga tak kasat mata”. Konon, jauh sebelum jembatan ini dibangun, daerah itu menjadi jalur strategis perdagangan kayu jati dan hasil bumi. Di masa Mataram, seorang prajurit bernama Ki Sosro dilabuhkan tugas menjaga titik penyeberangan. Ia dikenal setia, tidak pernah meninggalkan posnya meski perang berkecamuk. Namun, suatu malam saat air Bengawan meluap dan perahu-perahu karam, Ki Sosro ikut terseret arus ketika menolong warga. Mayatnya tak pernah ditemukan. Orang-orang percaya, arwahnya tetap berada di sana, menjaga jalur itu agar orang ...

Rumah yang Menelan Suara

  Rumah yang Menelan Suara    M. Sabrar Fadhila & Rehan Shofil Fu’ad Siswa SMP. Plus Maulana Malik Ibrahim Bojonegoro Di ujung gang kecil di Desa Karangjati, berdiri sebuah rumah tua yang sudah lama tak berpenghuni. Cat temboknya terkelupas seperti kulit kering, jendela-jendelanya retak, dan atapnya dipenuhi lumut tebal yang menggantung seperti rambut tua. Warga menyebutnya Rumah Prawiro—mengambil nama pemilik terakhirnya yang hilang entah ke mana. Dari luar, rumah itu seperti bangunan biasa yang hanya dimakan usia. Tapi bagi warga desa, rumah itu adalah sesuatu yang lain—ia punya mata, telinga, dan mulut sendiri. Mereka percaya, rumah itu “memanggil” orang-orang yang kurang hati-hati, lalu menyimpannya di dalam, tak pernah mengembalikan. …………………… Sore itu, udara terasa lengket oleh kelembapan setelah hujan siang. Anak-anak bermain di gang dengan tawa yang memantul di dinding rumah. Rafi, bocah sepuluh tahun yang energik dan tak kenal takut, sibuk menendang ...