Posts

Nyanyian dari Loteng

  Nyanyian dari Loteng   M. Faizullah Setiya Hayyu, A. Nabhan Nur Alfian & Bintang Wijaya Kusuma Siswa SMP. Plus Maulana Malik Ibrahim Bojonegoro Di sebuah kota kecil yang tenang, Beni dan adik perempuannya, Rini, baru saja pindah ke rumah warisan nenek mereka. Rumah tua dua lantai itu terletak di pinggir kota, dekat hutan kecil yang konon dikenal angker oleh warga sekitar. “Kenapa harus pindah ke sini, sih?” gerutu Beni sambil meletakkan kardus terakhir di ruang tamu. “Rumah ini peninggalan almarhumah Mbah Sarmi. Kata Mama, sayang kalau ditinggal kosong terus,” jawab Rini sambil menyapu debu di lantai. Hari-hari awal terasa biasa saja. Hingga malam keempat, Rini mengaku mendengar suara nyanyian perempuan dari loteng yang selama ini selalu terkunci. Suaranya pelan, mendayu-dayu, seperti lagu pengantar tidur. Beni menertawakannya. “Paling cuma suara angin atau tikus. Jangan sok horor, Rin.” Tapi malam-malam berikutnya, suara itu semakin jelas. Kadang diiringi ...

Pocong Wedon dari Makam Tua

  Pocong Wedon dari Makam Tua M. Faizullah Setiya Hayyu, A. Nabhan Nur Alfian & Bintang Wijaya Kusuma Siswa SMP. Plus Maulana Malik Ibrahim Bojonegoro   Malam itu, angin bertiup kencang di desa Wonosari. Pohon-pohon kelapa meliuk seolah sedang berbisik. Di sebuah gardu dekat perempatan, lima pemuda tengah nongkrong sambil menyeruput kopi sachet dan bermain gitar sumbang. Mereka adalah Heru, Bayu, Rangga, Dian, dan Teguh. “Ada yang berani ke makam tua belakang kebun pisang?” tanya Bayu tiba-tiba, memancing suasana. “Makam mana? Yang katanya pernah ada pocong wedon?” sambut Rangga dengan tawa mengejek. “Ah, itu mah cuma cerita orang dulu,” ujar Heru. “Cuma buat nakut-nakutin anak kecil biar gak main malam-malam.” Dian menatap mereka dengan serius. “Tapi dulu, waktu kecil, aku pernah lihat sesuatu di sana. Bukan pocong biasa. Tingginya hampir dua meter, kain kafannya sobek-sobek, dan rambutnya panjang sampai tanah…” Semua terdiam sejenak. Teguh tertawa kaku, men...

Bayangan di Ujung Mata Roni

  Bayangan di Ujung Mata Roni M. Faizullah Setiya Hayyu, A. Nabhan Nur Alfian & Bintang Wijaya Kusuma Siswa SMP. Plus Maulana Malik Ibrahim Bojonegoro   Hujan turun deras malam itu. Desa Karangsari diselimuti kabut tebal, seolah alam pun enggan mengungkapkan apa yang sedang terjadi di balik gelapnya malam. Roni menatap kosong ke luar jendela rumah kayunya. Sudah tiga malam berturut-turut ia tidak bisa tidur. Bukan karena kopi atau masalah pekerjaan. Tapi karena bayangan hitam yang selalu muncul di pojok kamarnya, hanya ketika malam datang. Awalnya Roni pikir itu hanya mimpi buruk. Tapi sejak ayam peliharaan miliknya mati satu per satu tanpa sebab, dan ibunya mendadak lumpuh tanpa diagnosa medis yang jelas, Roni mulai percaya: ia sedang disantet. Desas-desus warga makin memperkeruh suasana. Mereka bilang Roni telah membuat orang lain marah. Ada yang bilang dia menolak lamaran gadis dari keluarga dukun. Ada pula yang bilang Roni terlalu sombong sejak jadi pegawai k...

Kamar Mandi dan Kepala Yang Hilang

Image
  Kamar Mandi dan Kepala Yang Hilang  Aldo Zakaria Siswa SMP. Plus Maulana Malik Ibrahim Bojonegoro   Di sebuah rumah tua yang terletak di pinggir desa, ada kamar mandi yang sudah lama jarang dipakai. Rumah itu milik nenek Laila, yang tinggal bersama cucunya, Fauzan. Kamar mandi itu kecil, dengan dinding keramik putih yang mulai retak dan pintu kayu yang berderit jika dibuka. Di sana pernah terjadi sesuatu yang tak bisa dijelaskan. …………….. Fauzan pertama kali mendengar cerita dari neneknya tentang penampakan yang muncul di kamar mandi itu. “Dulu, waktu aku masih kecil, aku pernah melihat sesuatu yang sangat menakutkan. Sebuah kepala tanpa badan muncul di cermin kamar mandi,” ujar nenek Laila dengan suara pelan. Fauzan yang penasaran mulai memperhatikan kamar mandi itu setiap kali ia hendak mandi. Beberapa kali ia merasakan hawa dingin yang tiba-tiba dan bayangan samar di cermin. Suatu malam, saat Fauzan hendak mengambil handuk, ia menatap cermin dan meliha...

Bayang Bayi Merah di Bawah Beduk

Image
Bayang Bayi Merah di Bawah Beduk  Aldo Zakaria Siswa SMP. Plus Maulana Malik Ibrahim Bojonegoro   Masjid kecil di desa Pancawarna sudah berdiri puluhan tahun. Di sudut masjid, ada sebuah beduk besar yang kayunya sudah mulai rapuh, namun tetap dijaga dengan baik oleh para jamaah. Setiap kali adzan maghrib berkumandang, beduk itu dipukul sebagai tanda waktu sholat. Namun, ada cerita yang membuat banyak orang di desa merasa ngeri dan penasaran. …………….. Beberapa santri dan warga yang sering duduk dekat beduk mengaku melihat sesuatu yang aneh. “Aku sering lihat bayangan kecil, seperti bayi yang memakai baju merah, duduk di bawah beduk,” kata Danu, salah satu santri. Bayi itu hanya muncul saat malam menjelang sholat Maghrib. Wajahnya samar, tapi tubuhnya kecil dan berwarna merah menyala seperti api. Namun, yang membuat bulu kuduk merinding, bayi itu tidak pernah menangis. Ia hanya menatap ke arah beduk dengan mata yang penuh kesedihan. …………….. Suatu hari, ustad...

Sosok Gelap di Pos Ronda

Image
  Sosok Gelap di Pos Ronda  Aldo Zakaria Siswa SMP. Plus Maulana Malik Ibrahim Bojonegoro   Di sebuah desa kecil, terdapat sebuah pos ronda yang sudah berpuluh tahun berdiri di persimpangan jalan. Pos itu sederhana, terbuat dari kayu dan beratapkan genteng tua. Setiap malam, seorang petugas ronda berjaga untuk menjaga keamanan desa. Namun, sejak beberapa minggu terakhir, ada sesuatu yang membuat suasana pos itu berubah. “Setiap malam, aku lihat ada sosok gelap berdiri di ujung jalan,” kata Pak Wira, petugas ronda muda yang baru dua bulan bertugas. Sosok itu hanya berdiri diam, tidak bergerak, tidak berbicara. Hanya bayangan hitam pekat, yang terasa seperti menelan cahaya. …………….. Pak Wira bercerita pada teman-temannya. Mereka bilang itu cuma imajinasi, mungkin kelelahan. Tapi Pak Wira yakin, sosok itu nyata. Malam demi malam, ia mencoba mendekati sosok itu. Tapi setiap kali langkahnya mendekat, sosok itu menghilang begitu saja, seperti menguap ke udara d...

Perempuan di Pohon Mangga

Image
  Perempuan di Pohon Mangga    Aldo Zakaria Siswa SMP. Plus Maulana Malik Ibrahim Bojonegoro Di ujung pesantren kecil itu, berdirilah sebuah rumah tua bercat hijau pucat. Rumah itu milik Bunyai Mariyah, istri almarhum Kiai Muchtar, pendiri pondok yang kini diasuh oleh anak mereka. Bunyai tinggal sendirian, meski setiap sore banyak santri yang mengaji di serambi rumahnya. Di halaman rumah itu tumbuh satu pohon mangga besar. Rindang. Tua. Akar-akar besarnya menyembul ke tanah, dan batangnya melengkung seperti membungkuk. Konon, pohon itu sudah ada bahkan sebelum rumah Bunyai dibangun. Dan sejak beberapa minggu terakhir... pohon itu tidak lagi teduh, tapi membuat merinding. …………….. Namanya Nisa, santri kelas delapan yang sering membantu Bunyai membersihkan rumah. Suatu sore selepas ashar, ia sedang menyapu halaman ketika tiba-tiba ia merasakan sesuatu. Ada yang memperhatikan. Ketika ia menoleh ke atas pohon mangga, tubuhnya langsung kaku. Di antara dahan-...