Posts

Langkah di Atas Genteng

Image
  Langkah di Atas Genteng  Aldo Zakaria Siswa SMP. Plus Maulana Malik Ibrahim Bojonegoro   Kampung itu bernama Sendangjati, terletak jauh dari keramaian kota. Di sana, ada satu rumah tua di ujung jalan buntu—rumah panggung, berdinding kayu, beratap genteng merah kusam. Sudah lama kosong, tapi masih sering dibicarakan. Karena dulu, kata warga… ada sesuatu yang tinggal di atas atapnya. “Kalau malam, terdengar langkah berat… seperti kaki raksasa menyusuri genteng satu per satu. Kadang, terdengar napas dari cerobong dapur.” Begitu kata Pak Darto, tetua kampung, dengan suara rendah setiap kali cerita itu dibuka. Mereka menyebutnya genderuwo. Makhluk hitam besar, berbulu kasar, matanya merah, dan baunya… menyengat seperti bangkai yang sudah lama tak dikubur. …………….. Setelah puluhan tahun kosong, rumah itu akhirnya dibeli oleh keluarga baru: sepasang suami istri dan anak laki-laki mereka yang berumur 12 tahun, Rafa. Orang-orang kampung sempat heran—kenapa r...

Pindah Tanpa Jejak

Image
  Pindah Tanpa Jejak  Aldo Zakaria Siswa SMP. Plus Maulana Malik Ibrahim Bojonegoro   Namanya Fahri. Usianya baru tiga belas tahun, santri kelas tujuh di sebuah pesantren yang terletak di ujung desa, berbatasan dengan sawah dan hutan kecil. Malam itu, listrik sempat padam. Karena suasana di asrama terlalu pengap, Fahri memutuskan membawa sajadah dan bantal kecil ke mushola yang letaknya persis di samping bangunan utama pondok. “Cuma sebentar, sampe listrik nyala lagi…” gumamnya pelan. Ia berbaring di pojok ruangan, dekat rak Al-Qur’an. Udara malam terasa lebih sejuk di sana. Lantunan ngaji dari santri kakak kelas di ruang sebelah masih terdengar samar, lalu lama-lama hilang ditelan kantuk. Fahri pun tertidur dan kemudian, semuanya gelap. …………….. Ia terbangun karena tubuhnya terasa dingin—bukan dingin biasa. Tapi dingin basah, seperti tidur di atas lantai yang baru disiram. Matanya terbuka pelan. Di atasnya bukan langit-langit mushola, tapi… atap kamar ma...

Teman di Bawah Ranjang

Image
  Teman di Bawah Ranjang    Aldo Zakaria Siswa SMP. Plus Maulana Malik Ibrahim Bojonegoro Rumah itu kecil, sederhana, berada di pinggir kota. Ditempati oleh seorang janda muda bernama Bu Rika dan anak semata wayangnya yang berusia delapan tahun, Revan. Sejak pindah ke rumah itu tiga bulan lalu, Revan sering bermain sendiri. Bu Rika mengira itu hal biasa. Tapi belakangan, ia mulai memperhatikan sesuatu yang membuat bulu kuduknya berdiri. Setiap sore, Revan duduk di lantai kamar, menghadap ke bawah ranjang. Ia tertawa, kadang berbisik, dan sesekali tampak serius seperti sedang berdebat. “Revan ngobrol sama siapa, Nak?” tanya Bu Rika, setengah bercanda. Revan menjawab ringan. “Sama Kakak Hitam.” Bu Rika terdiam. “Kakak… siapa?” “Kakak yang suka duduk di bawah ranjang. Dia gak suka lampu dinyalain.” …………….. Awalnya Bu Rika mengira Revan hanya berimajinasi. Tapi malam-malam berikutnya, ia mulai mendengar sendiri suara berbisik dari kamar Revan. Kadang ter...

Rambut di Barisan Ketujuh

Image
Rambut di Barisan Ketujuh  Aldo Zakaria Siswa SMP. Plus Maulana Malik Ibrahim Bojonegoro Malam itu, langit di atas pondok begitu pekat. Hujan belum turun, tapi angin membawa aroma tanah yang basah sebelum waktunya. Di masjid kecil pesantren putri, shalat Isya baru saja selesai. Lantunan doa perlahan mereda, berganti suara sandal yang diseret pelan menuju asrama. Di antara para santri yang berjalan pelan itu, ada seorang santri kelas 7 bernama Laras. Ia pendiam. Dikenal rapi, dan lebih sering duduk di pojok ruangan sambil membaca atau menulis. Malam itu, ia menjadi yang terakhir keluar dari masjid, karena lupa mukena-nya tertinggal di dalam. “Larasss, cepetan, jangan sendirian…” bisik Aina, teman sekamarnya, setengah berlari menuju asrama. Laras hanya mengangguk, lalu berbalik masuk ke masjid. Ruangan itu kini sepi dan gelap, hanya diterangi cahaya bulan dari kisi-kisi jendela tinggi. Suara angin terdengar jelas menyusup lewat sela kayu tua. Ketika ia menemukan mukena-ny...

Pondok Langit Senja

Image
  Pondok Langit Senja  Aldo Zakaria Siswa SMP. Plus Maulana Malik Ibrahim Bojonegoro Pondok itu bernama Langit Senja. Letaknya di kaki bukit, jauh dari pusat desa. Dikelilingi sawah, dan di belakangnya—hutan kecil yang tua dan jarang dimasuki siapa pun. Saat bulan Safar tiba, angin mulai berubah. Siang terasa lebih gerah, malam lebih lembab, dan suara adzan kadang terdengar seperti dua kali, meskipun muadzinnya cuma satu. Saat itu juga, gangguan mulai datang. Hari pertama, seorang santri bernama Hilma tiba-tiba berteriak saat sedang tahfidz di serambi masjid. Ia menangis sambil memegangi kepala, lalu berkata dengan suara berat: “Jangan dibangun di atas kami… jangan ganggu kami…” Hari kedua, seorang anak kelas 7 pingsan di kamar mandi. Saat sadar, ia tidak mengenali siapa pun. Bahkan tidak ingat siapa namanya sendiri. Hari ketiga, yang kesurupan dua orang sekaligus, dan salah satunya berbicara dalam bahasa yang tidak dikenal siapa pun—seperti bahasa Arab, tapi k...

Kuli Kecil untuk Ibu

Image
  Kuli Kecil untuk Ibu  M. Sabrar Fadhila & Rehan Shofil Fu’ad Siswa SMP. Plus Maulana Malik Ibrahim Bojonegoro   Pagi itu, suara ayam jantan di kampung sudah tiga kali berkokok. Embun masih menggantung di ujung daun singkong, dan udara pagi membawa aroma tanah basah. Di sebuah rumah kayu sederhana, Rafi terbangun lebih awal dari biasanya. Usianya baru lima belas tahun, tapi wajahnya jauh lebih tua dari anak-anak sebayanya. Ia duduk menatap ibunya yang masih terbaring di kasur tipis. Sejak terserang stroke tiga bulan lalu, separuh tubuh ibunya lumpuh. Wajahnya kaku, bibirnya sulit digerakkan, dan setiap kata yang keluar terdengar terbata. Namun di balik kelemahan itu, matanya masih penuh kasih, menatap anak tunggal yang kini menjadi satu-satunya harapannya. “Rafi…” suara lirih itu terdengar pelan, “sarapan dulu, Nak…” Rafi menggeleng. “Ibu jangan mikir Rafi dulu. Ibu minum air hangat, ya. Rafi mau berangkat kerja.” Wanita itu terdiam. Ia tahu anaknya kini ...

Kerajaan di Balik Kabut

Image
  Kerajaan di Balik Kabut  M. Sabrar Fadhila & Rehan Shofil Fu’ad Siswa SMP. Plus Maulana Malik Ibrahim Bojonegoro   Di kaki Gunung Lawu, ada sebuah desa kecil bernama Desa Sumberjati. Letaknya terpencil, diapit hutan pinus dan kebun bambu yang lebat. Rumah-rumah panggungnya berjajar rapi, dindingnya dari anyaman bambu, atapnya dari seng yang sudah berkarat di beberapa bagian. Warga desa hidup sederhana: bertani, beternak, dan sebagian kecil berdagang di pasar. Tidak ada listrik yang menyala terang di malam hari, hanya lampu minyak yang menggantung di depan rumah. Meski tampak damai, desa ini menyimpan cerita yang diwariskan turun-temurun. Orang-orang tua selalu berkata, “Jangan pernah berjalan sendirian saat kabut turun, apalagi di bulan Safar. Batas dunia kita dan dunia lain menjadi sangat tipis.” Banyak anak muda menganggapnya mitos untuk menakut-nakuti. Tapi ada sebagian warga yang benar-benar percaya—terutama mereka yang pernah kehilangan seseorang ta...