Bayangan di Ujung Mata Roni

 

Bayangan di Ujung Mata Roni

M. Faizullah Setiya Hayyu, A. Nabhan Nur Alfian & Bintang Wijaya Kusuma

Siswa SMP. Plus Maulana Malik Ibrahim Bojonegoro

 

Hujan turun deras malam itu. Desa Karangsari diselimuti kabut tebal, seolah alam pun enggan mengungkapkan apa yang sedang terjadi di balik gelapnya malam.

Roni menatap kosong ke luar jendela rumah kayunya. Sudah tiga malam berturut-turut ia tidak bisa tidur. Bukan karena kopi atau masalah pekerjaan. Tapi karena bayangan hitam yang selalu muncul di pojok kamarnya, hanya ketika malam datang.

Awalnya Roni pikir itu hanya mimpi buruk. Tapi sejak ayam peliharaan miliknya mati satu per satu tanpa sebab, dan ibunya mendadak lumpuh tanpa diagnosa medis yang jelas, Roni mulai percaya: ia sedang disantet.

Desas-desus warga makin memperkeruh suasana. Mereka bilang Roni telah membuat orang lain marah. Ada yang bilang dia menolak lamaran gadis dari keluarga dukun. Ada pula yang bilang Roni terlalu sombong sejak jadi pegawai kecamatan.

Tapi hanya satu yang ia tahu pasti: hidupnya tidak lagi tenang sejak ia menolak menjual tanah warisan kakeknya kepada Pak Dulrahman, seorang juragan tanah dan mantan dukun sakti di masa lalu.

Malam keempat, Roni memberanikan diri datang ke rumah Bu Murni, seorang wanita sepuh yang dikenal sebagai "orang pintar" di desa. Dengan suara bergetar, ia menceritakan semua yang dialaminya.

Bu Murni menatapnya tajam, lalu berbisik, “Kau tidak salah, Roni. Tapi kau sudah menyakiti orang yang biasa bermain di wilayah gelap. Ini bukan hanya soal tanah. Ini soal harga diri di mata mereka.”

“Lalu apa yang harus saya lakukan, Bu?” tanya Roni, putus asa.

Bu Murni mengambil sehelai kain putih dan beberapa bunga kering dari dalam peti tua. “Kau harus hadapi ini. Tapi bukan dengan dendam. Jika kau membalas santet dengan santet, maka hidupmu takkan pernah bebas dari bayangan itu.”

Roni mengangguk, meski ia belum sepenuhnya paham maksudnya.

Malam itu, ritual dilakukan. Tubuh Roni dibaluri minyak wangi yang menusuk hidung. Di sekelilingnya, lilin menyala redup. Bu Murni membaca mantra dalam bahasa yang tak dipahami. Angin tiba-tiba berembus dari jendela yang tertutup rapat. Lilin satu per satu padam.

Dan di detik terakhir mantranya, bayangan itu muncul—jelas, nyata, tinggi besar, bermata merah.

Roni memejamkan mata. Ia merasa tubuhnya ringan, lalu seperti ditarik dari dalam dirinya sendiri.

Ketika ia membuka mata, pagi telah datang. Semua terasa tenang. Ayam-ayamnya berkokok, ibunya bisa bicara kembali meski belum bisa bangun dari ranjang. Tapi yang paling mengejutkan: Pak Dulrahman ditemukan meninggal dunia di ladang, dengan mata membelalak dan mulut berbusa.

Warga geger. Ada yang bilang itu karma. Ada pula yang yakin santet itu telah berbalik arah.

Roni hanya diam. Ia tahu malam itu adalah titik balik. Tapi ia juga sadar, dunia yang tak terlihat akan selalu menuntut keseimbangan.

Ia tak pernah lagi melihat bayangan itu. Tapi setiap malam, sebelum tidur, ia selalu berdoa—agar kegelapan tak lagi mencari namanya.

Selesai.

Comments

Popular posts from this blog

Terjemah Tausyeh Ibnu Qosim

Bisikan di Kamar Mandi

Sang Jenderal telah Menikah