Bayangan di Ujung Mata Roni
Bayangan di Ujung Mata Roni
Hujan turun deras malam itu.
Desa Karangsari diselimuti kabut tebal, seolah alam pun enggan mengungkapkan
apa yang sedang terjadi di balik gelapnya malam.
Roni menatap kosong ke luar
jendela rumah kayunya. Sudah tiga malam berturut-turut ia tidak bisa tidur.
Bukan karena kopi atau masalah pekerjaan. Tapi karena bayangan hitam yang
selalu muncul di pojok kamarnya, hanya ketika malam datang.
Awalnya Roni pikir itu hanya
mimpi buruk. Tapi sejak ayam peliharaan miliknya mati satu per satu tanpa
sebab, dan ibunya mendadak lumpuh tanpa diagnosa medis yang jelas, Roni mulai
percaya: ia sedang disantet.
Desas-desus warga makin
memperkeruh suasana. Mereka bilang Roni telah membuat orang lain marah. Ada
yang bilang dia menolak lamaran gadis dari keluarga dukun. Ada pula yang bilang
Roni terlalu sombong sejak jadi pegawai kecamatan.
Tapi hanya satu yang ia tahu
pasti: hidupnya tidak lagi tenang sejak ia menolak menjual tanah warisan
kakeknya kepada Pak Dulrahman, seorang juragan tanah dan mantan dukun sakti di
masa lalu.
Malam keempat, Roni memberanikan
diri datang ke rumah Bu Murni, seorang wanita sepuh yang dikenal sebagai
"orang pintar" di desa. Dengan suara bergetar, ia menceritakan semua
yang dialaminya.
Bu Murni menatapnya tajam, lalu
berbisik, “Kau tidak salah, Roni. Tapi kau sudah menyakiti orang yang biasa
bermain di wilayah gelap. Ini bukan hanya soal tanah. Ini soal harga diri di
mata mereka.”
“Lalu apa yang harus saya
lakukan, Bu?” tanya Roni, putus asa.
Bu Murni mengambil sehelai kain
putih dan beberapa bunga kering dari dalam peti tua. “Kau harus hadapi ini.
Tapi bukan dengan dendam. Jika kau membalas santet dengan santet, maka hidupmu
takkan pernah bebas dari bayangan itu.”
Roni mengangguk, meski ia belum
sepenuhnya paham maksudnya.
Malam itu, ritual dilakukan.
Tubuh Roni dibaluri minyak wangi yang menusuk hidung. Di sekelilingnya, lilin
menyala redup. Bu Murni membaca mantra dalam bahasa yang tak dipahami. Angin
tiba-tiba berembus dari jendela yang tertutup rapat. Lilin satu per satu padam.
Dan di detik terakhir mantranya,
bayangan itu muncul—jelas, nyata, tinggi besar, bermata merah.
Roni memejamkan mata. Ia merasa
tubuhnya ringan, lalu seperti ditarik dari dalam dirinya sendiri.
Ketika ia membuka mata, pagi
telah datang. Semua terasa tenang. Ayam-ayamnya berkokok, ibunya bisa bicara
kembali meski belum bisa bangun dari ranjang. Tapi yang paling mengejutkan: Pak
Dulrahman ditemukan meninggal dunia di ladang, dengan mata membelalak dan mulut
berbusa.
Warga geger. Ada yang bilang itu
karma. Ada pula yang yakin santet itu telah berbalik arah.
Roni hanya diam. Ia tahu malam
itu adalah titik balik. Tapi ia juga sadar, dunia yang tak terlihat akan selalu
menuntut keseimbangan.
Ia tak pernah lagi melihat
bayangan itu. Tapi setiap malam, sebelum tidur, ia selalu berdoa—agar kegelapan
tak lagi mencari namanya.
Selesai.
Comments