Nyanyian dari Loteng

 


Nyanyian dari Loteng

 M. Faizullah Setiya Hayyu, A. Nabhan Nur Alfian & Bintang Wijaya Kusuma

Siswa SMP. Plus Maulana Malik Ibrahim Bojonegoro


Di sebuah kota kecil yang tenang, Beni dan adik perempuannya, Rini, baru saja pindah ke rumah warisan nenek mereka. Rumah tua dua lantai itu terletak di pinggir kota, dekat hutan kecil yang konon dikenal angker oleh warga sekitar.

“Kenapa harus pindah ke sini, sih?” gerutu Beni sambil meletakkan kardus terakhir di ruang tamu.

“Rumah ini peninggalan almarhumah Mbah Sarmi. Kata Mama, sayang kalau ditinggal kosong terus,” jawab Rini sambil menyapu debu di lantai.

Hari-hari awal terasa biasa saja. Hingga malam keempat, Rini mengaku mendengar suara nyanyian perempuan dari loteng yang selama ini selalu terkunci. Suaranya pelan, mendayu-dayu, seperti lagu pengantar tidur.

Beni menertawakannya. “Paling cuma suara angin atau tikus. Jangan sok horor, Rin.”

Tapi malam-malam berikutnya, suara itu semakin jelas. Kadang diiringi tangisan lirih, kadang terdengar ketukan lembut dari atas plafon. Rini mulai takut tidur sendiri, sementara Beni, yang mulai terganggu tidurnya, memutuskan menyelidiki loteng itu.

Suatu malam, saat orang tua mereka pergi ke luar kota, Beni memberanikan diri mencari kunci loteng. Ia menemukannya di dalam laci tua kamar nenek. Bersama kunci itu, ia juga menemukan foto hitam putih seorang perempuan muda berpakaian putih, berdiri di depan rumah yang kini mereka tempati. Di belakang foto, tertulis:

“Sari. Anak yang tak sempat lahir.”

Merasa penasaran, Beni memanjat tangga ke loteng. Rini mengikutinya, meski wajahnya pucat ketakutan.

Begitu pintu loteng dibuka, udara dingin menyeruak keluar. Ruangan itu gelap dan penuh debu. Namun di pojok ruangan, mereka melihat ayunan tua kayu yang perlahan bergoyang… sendiri.

Beni mendekat, senter di tangan gemetar. Tiba-tiba—AYUNAN ITU BERHENTI MENDADAK, dan dari belakangnya terdengar suara perempuan:

“Kembalikan mainanku…”

Mereka berbalik. Di depan mereka berdiri sosok perempuan berambut panjang, wajahnya pucat, mengenakan gaun putih. Matanya hitam kosong, dan dari perutnya mengalir darah.

Kuntilanak.

Rini berteriak histeris, Beni menarik tangannya dan lari turun tangga. Mereka mengunci pintu loteng secepat mungkin. Namun suara nyanyian itu terus terdengar, makin keras, makin histeris, hingga malam menjelang pagi.

Keesokan harinya, mereka menceritakan semuanya pada orang tua mereka. Sang ibu pucat. Ia akhirnya mengakui sesuatu yang selama ini disembunyikan:

Mbah Sarmi dulu pernah punya anak gadis yang hamil di luar nikah. Anak itu disembunyikan, dan konon meninggal saat melahirkan diam-diam di loteng rumah. Bayinya pun tidak pernah ditemukan…

Sejak malam itu, keluarga Beni tidak pernah lagi menempati rumah itu.

Namun setiap malam Jumat, tetangga sekitar bersumpah mendengar suara nyanyian dan ayunan kayu yang berderit pelan dari atas rumah kosong itu.

Selesai.

Comments

Popular posts from this blog

Terjemah Tausyeh Ibnu Qosim

Bisikan di Kamar Mandi

Petunjuk dari Mimpi