Sosok Gelap di Pos Ronda


 

Sosok Gelap di Pos Ronda

 Aldo Zakaria

Siswa SMP. Plus Maulana Malik Ibrahim Bojonegoro 

Di sebuah desa kecil, terdapat sebuah pos ronda yang sudah berpuluh tahun berdiri di persimpangan jalan. Pos itu sederhana, terbuat dari kayu dan beratapkan genteng tua. Setiap malam, seorang petugas ronda berjaga untuk menjaga keamanan desa.

Namun, sejak beberapa minggu terakhir, ada sesuatu yang membuat suasana pos itu berubah.

“Setiap malam, aku lihat ada sosok gelap berdiri di ujung jalan,” kata Pak Wira, petugas ronda muda yang baru dua bulan bertugas.

Sosok itu hanya berdiri diam, tidak bergerak, tidak berbicara. Hanya bayangan hitam pekat, yang terasa seperti menelan cahaya.

……………..

Pak Wira bercerita pada teman-temannya.

Mereka bilang itu cuma imajinasi, mungkin kelelahan. Tapi Pak Wira yakin, sosok itu nyata.

Malam demi malam, ia mencoba mendekati sosok itu. Tapi setiap kali langkahnya mendekat, sosok itu menghilang begitu saja, seperti menguap ke udara dingin.

Pak Wira merasa berat di dadanya, seolah-olah ada yang mengawasinya lebih dari sekadar sosok gelap itu.

……………..

Suatu malam, Pak Wira memutuskan untuk tidak takut. Ia membawa mushaf Al-Qur’an dan mulai membaca ayat-ayat pelindung seperti Ayat Kursi dan Surah Al-Falaq, An-Naas.

Sosok itu muncul lagi, berdiri di ujung jalan. Tapi malam itu berbeda.

Saat Pak Wira membacakan doa dengan lantang dan penuh yakin, bayangan hitam itu mulai mengecil, sampai akhirnya hilang tanpa jejak.

Sejak malam itu, tidak ada lagi sosok gelap yang muncul di pos ronda.

……………..

Pak Wira belajar bahwa terkadang, apa yang kita takuti hanyalah ujian yang harus dilalui dengan iman dan doa.

Desa itu kembali tenang, dan pos ronda yang dulu menyeramkan kini menjadi tempat yang damai.

Dan setiap malam, di bawah cahaya rembulan, Pak Wira selalu berdoa agar kegelapan tak pernah mengalahkan cahaya iman. Selesai.

Comments

Popular posts from this blog

Terjemah Tausyeh Ibnu Qosim

Bisikan di Kamar Mandi

Sang Jenderal telah Menikah