Pocong Wedon dari Makam Tua

 


Pocong Wedon dari Makam Tua

M. Faizullah Setiya Hayyu, A. Nabhan Nur Alfian & Bintang Wijaya Kusuma

Siswa SMP. Plus Maulana Malik Ibrahim Bojonegoro

 

Malam itu, angin bertiup kencang di desa Wonosari. Pohon-pohon kelapa meliuk seolah sedang berbisik. Di sebuah gardu dekat perempatan, lima pemuda tengah nongkrong sambil menyeruput kopi sachet dan bermain gitar sumbang. Mereka adalah Heru, Bayu, Rangga, Dian, dan Teguh.

“Ada yang berani ke makam tua belakang kebun pisang?” tanya Bayu tiba-tiba, memancing suasana.

“Makam mana? Yang katanya pernah ada pocong wedon?” sambut Rangga dengan tawa mengejek.

“Ah, itu mah cuma cerita orang dulu,” ujar Heru. “Cuma buat nakut-nakutin anak kecil biar gak main malam-malam.”

Dian menatap mereka dengan serius. “Tapi dulu, waktu kecil, aku pernah lihat sesuatu di sana. Bukan pocong biasa. Tingginya hampir dua meter, kain kafannya sobek-sobek, dan rambutnya panjang sampai tanah…”

Semua terdiam sejenak. Teguh tertawa kaku, mencoba mencairkan suasana. Tapi rasa penasaran telah tertanam.

Akhirnya, mereka sepakat. Tantangan malam itu: siapa takut ke makam tua, berarti pengecut.

……………………….

Malam semakin larut saat kelimanya menyusuri jalan tanah menuju makam tua. Hanya senter ponsel yang jadi penerang. Di tengah makam, ada satu nisan tua yang ditutupi lumut tebal. Konon, itu makam seorang perempuan muda yang meninggal tak wajar, dipasung keluarganya karena dianggap membawa aib.

“Katanya dia dikubur tak lengkap syaratnya. Kain kafannya gak diikat, dan dia belum benar-benar mati,” bisik Dian.

“Mitos!” sahut Heru.

Namun, saat Heru menyalakan rokok dan duduk di atas batu nisan yang tak jauh dari pusara tua itu, angin berhenti. Sunyi. Bahkan suara jangkrik pun lenyap.

Tiba-tiba terdengar jeritan perempuan—melengking, panjang, menyayat telinga.

Mereka semua berdiri panik. Dari balik rumpun pisang, sosok putih tinggi menjulang muncul, kain kafan kusut dan kotor, wajahnya tertutup rambut panjang. Tapi yang paling mengerikan adalah bau amis darah yang menyengat, dan suara isakan lirih yang menyayat hati.

“Itu… pocong wedon…” bisik Dian, tubuhnya gemetar hebat.

Sosok itu melayang perlahan, tak melompat seperti pocong biasa. Ia justru bergerak halus dan mendekat, tangannya keluar dari sela kain kafan, panjang dan kurus.

Heru menjerit. Teman-temannya lari tunggang langgang. Tapi Heru terpaku. Sosok itu berhenti tepat di depannya.

Dari balik rambut panjangnya, pocong wedon itu berbisik, "Kau telah duduk di atas makamku..."

Heru terjatuh. Pandangannya menghitam.

……………………….

Pagi harinya, warga menemukan Heru pingsan di tengah makam, wajahnya pucat, bibirnya membiru. Sejak hari itu, ia tak lagi bicara. Hanya duduk diam di teras rumahnya, memandangi jalan tanah menuju makam tua.

Bayu dan yang lain tak pernah lagi membahas kejadian malam itu. Tapi mereka tahu, malam itu bukan mimpi.

Karena setiap malam Jumat Kliwon, dari arah makam tua, terdengar isakan lirih perempuan… dan bisikan lirih memanggil nama:

"Heru..."

Selesai.

Comments