Perempuan di Pohon Mangga

 


Perempuan di Pohon Mangga

  Aldo Zakaria

Siswa SMP. Plus Maulana Malik Ibrahim Bojonegoro

Di ujung pesantren kecil itu, berdirilah sebuah rumah tua bercat hijau pucat. Rumah itu milik Bunyai Mariyah, istri almarhum Kiai Muchtar, pendiri pondok yang kini diasuh oleh anak mereka.

Bunyai tinggal sendirian, meski setiap sore banyak santri yang mengaji di serambi rumahnya.

Di halaman rumah itu tumbuh satu pohon mangga besar. Rindang. Tua. Akar-akar besarnya menyembul ke tanah, dan batangnya melengkung seperti membungkuk. Konon, pohon itu sudah ada bahkan sebelum rumah Bunyai dibangun.

Dan sejak beberapa minggu terakhir... pohon itu tidak lagi teduh, tapi membuat merinding.

……………..

Namanya Nisa, santri kelas delapan yang sering membantu Bunyai membersihkan rumah. Suatu sore selepas ashar, ia sedang menyapu halaman ketika tiba-tiba ia merasakan sesuatu.

Ada yang memperhatikan.

Ketika ia menoleh ke atas pohon mangga, tubuhnya langsung kaku.

Di antara dahan-dahan tinggi, ada sosok perempuan duduk memeluk lutut. Rambutnya panjang dan berantakan, menjuntai hingga ke bawah cabang. Wajahnya tak terlihat jelas, tapi ada mata—mata yang menatap lurus ke arah Nisa tanpa berkedip.

Pakaian sosok itu koyak. Tubuhnya terlalu kurus. Dan kulitnya… seperti bukan kulit manusia.

Nisa ingin berteriak, tapi suaranya hilang. Ia hanya bisa mundur perlahan, sambil membaca ayat kursi dalam hati.

Begitu ia berkedip… sosok itu menghilang.

……………..

Nisa menceritakan semuanya kepada Bunyai. Tapi Bunyai hanya diam sejenak, lalu menutup mushafnya perlahan.

“Sudah waktunya ia menampakkan diri lagi…” katanya pelan.

Nisa menatap bingung. “Maksud Bunyai… sudah pernah terlihat sebelumnya?”

Bunyai mengangguk.

“Dulu… sebelum pondok ini dibuka, Kiai pernah mimpi ada perempuan menangis di bawah pohon itu. Katanya, ia ditanam tanpa nama. Tanpa doa. Tanpa kafan.”

“Kami kira… sudah tenang. Tapi mungkin, ada yang lupa didoakan.”

Malam Jumat itu, Bunyai mengajak beberapa santri mengaji Yasin dan tahlil khusus di bawah pohon mangga. Lampu digantung di dahan terendah. Angin malam berhembus pelan.

Saat bacaan sampai pada kalimat “Allahummaghfirlaha, warhamha, wa’afiha, wa’fu ‘anha…”

—lampu gantung berkedip tiga kali.

Lalu… terdengar suara lirih.

Tangisan.

Tapi bukan dari santri.

Dari atas pohon.

Tak ada yang bicara. Tapi semua tahu… ia mendengar.

……………..

Sejak malam itu, tak ada lagi yang melihat sosok perempuan di atas pohon. Nisa pun kembali menyapu halaman tanpa rasa takut.

Tapi setiap selesai ashar, Bunyai selalu berdiri sejenak di bawah pohon mangga itu, menengadahkan tangan, dan berbisik:

“Kalau kau masih di sini, semoga Allah memberi tempat yang tenang bagimu…”

Karena kadang, yang menyeramkan bukan karena mereka jahat. Tapi karena mereka lupa… pernah jadi manusia. Selesai.

Comments

Popular posts from this blog

Terjemah Tausyeh Ibnu Qosim

Bisikan di Kamar Mandi

Sang Jenderal telah Menikah