Harga dari Sebuah Keinginan
Harga dari Sebuah Keinginan
M. Kaffa Haidar Hadwan Atiq
Siswa SMP. Plus Maulana Malik Ibrahim Bojonegoro
Embun
masih menempel di dedaunan sekitar mushola pesantren Maulana
Malik Ibrahim Bojonegoro. Santri-santri sudah bersiap untuk
shalat Dhuha dan bersih-bersih lingkungan, tapi satu suara meninggi di depan
mushola, membuat semua kepala menoleh.
Itu Jaka.
“Pokoknya
Jaka mau HP itu, Yah, Bu!” suaranya lantang, wajahnya merah karena emosi.
“Teman-teman
Jaka semua udah punya! Masa Jaka nggak?! Malu, Bu!”
Di
hadapannya berdiri Pak Dedi dan Bu Endang, orang tua Jaka, yang datang untuk
sambangan. Keduanya tampak kikuk, menunduk menahan perasaan. Peluh di kening
Pak Dedi masih menetes — ia bahkan belum sempat mengganti baju kerja setelah
menempuh perjalanan jauh dari kampung.
“Jaka…”
ucap Bu Endang pelan, suaranya lembut tapi lelah, “Ibu belum bisa belikan yang
itu, Nak. Harganya mahal sekali. Gaji Ibu di pabrik saja belum cukup buat bayar
biaya pondok bulan depan.”
Namun
Jaka membuang muka.
Ah,
Ibu selalu bilang nggak punya uang! Kalau gitu Jaka nggak usah mondok
sekalian!” katanya keras, menendang sandal di depannya.
Orang-orang
mulai melirik. Beberapa santri menunduk, sebagian lain berbisik pelan.
Wajah
Pak Dedi menegang, tapi ia tidak marah. Ia hanya menatap anaknya lama, lalu
berkata dengan suara berat,
“Jaka,
Bapak nggak bisa janji. Tapi Bapak usahakan, ya. Cuma jangan ngomong nggak mau
mondok. Mondok itu bukan buat kami, tapi buat kamu sendiri.”
Tapi
Jaka sudah terlanjur marah.
Ia
berbalik, berjalan cepat ke asrama tanpa menoleh lagi.
Dan
pagi itu, di depan mushola, sepasang orang tua hanya bisa berdiri diam—menatap
punggung anaknya yang menjauh, sementara di dada mereka, doa bergetar pelan,
memohon agar amarah anak itu suatu hari berubah jadi pengertian.
…
Rumah
sederhana di tepi sawah itu sunyi. Hanya terdengar suara ayam dan mesin pabrik
roti dari kejauhan. Di ruang tengah, Pak Dedi duduk termenung memandangi meja kayu tua,
sementara Bu
Endang sibuk menghitung uang receh di kaleng kecil.
“Cuma
segini, Den,” katanya lirih, “kalau dikumpulkan gajiku bulan ini, paling cukup
buat bayar listrik sama beras.”
Pak
Dedi menghela napas panjang. “Tapi anak itu udah bilang nggak mau mondok kalau
nggak dibelikan HP.”
Bu
Endang terdiam. Air matanya menetes pelan di atas uang receh yang ia hitung.
“Aku takut, Den… takut anak kita benar-benar kabur dari pondok. Aku nggak mau
dia berhenti ngaji.”
Laki-laki
itu berdiri, wajahnya muram tapi mantap. “Sudahlah, aku akan kerja tambahan
besok. Kalau perlu, aku angkut pasir sampai malam. Asal bisa cukup buat beli HP
itu.”
Bu
Endang memandang suaminya, matanya penuh cemas, tapi ia tahu tak mungkin
melarang. Keduanya hanya ingin melihat anaknya bahagia, meski dengan harga yang
mungkin terlalu mahal.
…
Udara
panas. Matahari belum tinggi tapi keringat sudah menetes dari pelipis Pak Dedi.
Ia mengangkat karung semen di proyek bangunan dengan tubuh yang lelah tapi
tekad yang keras.
“Pak
Dedi, istirahat dulu,” kata seorang rekan kerja.
Namun
ia menggeleng. “Masih banyak yang harus diangkat. Aku butuh tambahan upah
minggu ini.”
Sementara
itu, di rumah, Bu Endang masih bekerja membuat kue pesanan tetangga. Tangannya
gemetar karena demam, tapi ia tetap memaksa berdiri di depan tungku.
“Sedikit
lagi,” gumamnya, “sedikit lagi buat Jaka…”
Sore
hari, hujan turun deras. Petir berkelebat di langit.
Dan
di saat yang hampir bersamaan, dua kabar datang dari arah yang berbeda — Pak
Dedi pingsan di proyek karena kelelahan.
Bu
Endang pun jatuh tak sadarkan diri di dapur.
…
Kabar
itu sampai ke pondok Senin pagi.
Kyai
Ihsan memanggil Jaka ke kantor pesantren. Wajah beliau muram.
“Jaka,
Nak…” katanya pelan, “tadi malam orang tuamu dipanggil Allah.”
Jaka
terpaku. “A… apa, Yai? Bapak sama Ibu?”
Kyai
Ihsan mengangguk perlahan. “Keduanya. Mereka bekerja terlalu keras beberapa
hari terakhir. Katanya, sedang mengumpulkan uang untuk sesuatu yang kamu
minta.”
Wajah
Jaka pucat. Bibirnya bergetar, tapi tak ada suara keluar.
Ia
teringat kata-katanya di depan mushola — ancamannya, kemarahannya, nadanya yang
tinggi.
Semua
berputar di kepalanya seperti mimpi buruk yang tak bisa dihentikan.
Ia
berlari keluar kantor pesantren, tanpa arah, melewati halaman, melewati mushola
tempat ia pernah membentak orang tuanya.
Lalu
ia jatuh berlutut di tanah, tangannya menggenggam debu, dadanya bergetar hebat.
“Yaa
Allah…”
Tangisnya
pecah. “Jaka cuma pengin HP… bukan kehilangan Bapak sama Ibu…”
Hujan
turun perlahan sore itu, membasahi wajahnya.
…
Beberapa
hari kemudian, di makam sederhana di kampung, Jaka berdiri diam menatap dua
nisan yang baru.
Tangannya menggenggam mushaf kecil—pemberian Kyai Ihsan.
Di
sampulnya tertulis: “Hadiah untuk Jaka, agar hatinya tak
lagi buta oleh dunia.”
Jaka
membuka mushaf itu dan membaca dengan suara serak:
“Wala
tamutunna illa wa antum muslimun…”
“Dan
janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan berserah diri kepada Allah.”
Air
matanya jatuh membasahi halaman mushaf.
Di
depan dua batu nisan itu, ia berjanji,
“Mulai
hari ini, Jaka nggak akan minta apa-apa lagi, selain ampunan dari Allah untuk
Bapak dan Ibu.”
Angin
sore berhembus pelan, menyapu dedaunan.
Dan
mungkin, dari langit yang jauh, kedua orang tuanya tersenyum — bukan karena
Jaka akhirnya punya HP, tapi karena anak mereka akhirnya belajar menyesal
dengan sebenar-benarnya hati.
TAMAT

Comments