Ketapel Petaka
Ketapel Petaka
Alif
Nur Afrizal
Alif
bukan pemuda yang suka bermain-main. Di Pesantren Maulana Malik Ibrahim
Bojonegoro, ia dikenal sebagai santri yang gila belajar. Waktunya habis untuk
menelaah kitab kuning dan menghafalkan Al-Qur'an. Tak heran jika nilai-nilainya
selalu yang tertinggi di madrasah diniyah.
Namun,
Minggu pagi itu berbeda. Seusai jamaah salat Subuh dan setoran mengaji, Alif
merasa jenuh. Sudah tiga hari berturut-turut ia tidak keluar dari kamar asrama
kecuali untuk kegiatan wajib pesantren. Matanya lelah membaca kitab hingga
larut malam.
"Lif,
ayo main bola!" ajak Syauqi yang bercita-cita jadi pemain bola profesional
itu. Bola kaki memang permainan favorit di pelataran depan musholla.
"Nggak
ah, panas," tolak Alif malas.
"Dasar
kutu buku!" ledek Farel yang baru bangun dari tidurnya. "Padahal kamu
butuh refreshing. Nanti otakmu meledak karena kebanyakan belajar."
Alif
memutar bola matanya. "Kamu sendiri kalau nggak tidur ya tidur. Paling
jago tidur sambil belajar."
Farel
tertawa mendengar sindiran Alif, lalu kembali menguap dan bersiap tidur lagi.
"Eh,
lihat apa yang kutemukan," Rado tiba-tiba masuk ke kamar dengan sebuah
ketapel kayu di tangannya. "Aku menemukannya di belakang dapur. Mungkin
milik santri lama yang tertinggal."
Alif
melirik ketapel itu. Sudah lama ia tidak bermain ketapel. Terakhir kali ia
memainkannya saat masih di kampung, sebelum menjadi santri. Entah mengapa,
tiba-tiba ia merasa tertarik.
"Boleh
kupinjam?" tanya Alif.
Rado
mengangkat alis heran. "Kamu mau main ketapel? Tumben."
"Sebentar
saja."
Alif
membawa ketapel itu keluar dari asrama. Ia berjalan ke arah belakang madrasah,
tempat yang jarang dilalui santri lain. Di sana terdapat sebidang tanah kosong
yang berbatasan langsung dengan sebuah rumah tua tak berpenghuni. Rumah itu
sudah lama ditinggalkan pemiliknya, entah karena apa. Beberapa santri
mengatakan rumah itu angker.
Alif
tidak percaya dengan cerita-cerita tahayul seperti itu. Ia santri modern yang
logis. Kalau ia menjauhi rumah itu, semata karena memang tidak ada keperluan
untuk mendekatinya.
Ia
mengambil beberapa kerikil kecil dan mulai menguji ketapel tersebut. Dengan
terampil, ia mengarahkan bidikannya ke batang pohon mangga di kejauhan. Satu
per satu kerikil melesat, sebagian mengenai sasaran, sebagian meleset. Ia
tersenyum puas, ternyata kemampuannya bermain ketapel masih cukup baik.
Ketika
hendak melakukan bidikan terakhir, tiba-tiba Alif mendengar suara aneh dari
arah rumah kosong. Seperti bisikan samar yang memanggil namanya. Ia menoleh ke
arah rumah tua itu. Jendela kacanya yang berdebu memantulkan sinar matahari
pagi, hampir menyilaukan mata.
"Aliiif..."
Ia
tersentak. Suara itu jelas terdengar, meski sangat lirih. Ia menggelengkan
kepala, mengenyahkan pikiran aneh yang mulai bermunculan. Pasti hanya angin.
Alif
mengubah arah bidikannya, kali ini ke jendela kaca rumah kosong itu. Ia hanya
ingin memastikan bahwa tidak ada apapun di sana. Tidak ada siapapun yang
memanggilnya.
"Aaaaaliiiif..."
Suara
itu terdengar lagi. Tangannya sedikit gemetar, membuat bidikannya tidak tepat.
Kerikil melesat dan...
PRANG!
Kaca
jendela rumah itu pecah.
Alif
terdiam kaku. Ia tidak bermaksud memecahkan kaca tersebut. Itu hanya
kecelakaan. Ia harus segera pergi sebelum ketahuan telah merusak properti orang
lain.
Namun
kakinya seperti dipaku ke tanah. Ia tidak bisa bergerak. Dari jendela yang
pecah itu, muncul kepulan asap hitam tipis yang perlahan bergerak ke arahnya.
Alif mengucek matanya, tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Astagfirullah,"
gumamnya lirih.
Kepulan
asap itu semakin dekat. Alif merasakan hawa dingin yang menusuk tulang. Ia
ingin berteriak, tapi suaranya tertahan di tenggorokan. Tubuhnya mulai
bergetar. Bukan karena takut, tapi karena sesuatu yang lain. Sesuatu yang ia
sendiri tidak pahami.
"Lif!
Alif!"
Samar-samar
ia mendengar suara Rado memanggilnya. Pandangannya mulai kabur. Hal terakhir
yang ia ingat adalah tubuhnya yang terhuyung ke belakang, ketapel terlepas dari
genggamannya, dan kegelapan yang menyelimutinya.
"Alif!
Bangun, Lif!"
Alif
membuka mata perlahan. Wajah cemas Rado dan Farel menyambutnya. Ia berada di
ruang kesehatan pesantren, berbaring di ranjang dengan keringat dingin
membasahi seluruh tubuhnya.
"Alhamdulillah,
kamu sadar," ucap Farel lega.
"Apa
yang terjadi?" tanya Alif lemah.
"Kamu
pingsan di belakang madrasah," jawab Rado. "Aku mencarimu karena kamu
lama sekali tidak kembali ke asrama. Saat kutemukan, kamu sudah tergeletak di
tanah."
Alif
mencoba duduk, tapi kepalanya terasa sangat berat. Tubuhnya lemas seperti tidak
bertenaga.
"Istirahatlah
dulu," kata Pak Nusa yang tiba-tiba masuk ke ruangan. Ustadz yang hobi
berolahraga itu membawa segelas air putih. "Minumlah."
Alif
meminum air itu perlahan. Kepalanya masih berputar-putar.
"Apa
yang terjadi, Lif?" tanya Pak Nusa. "Tidak biasanya kamu sampai
pingsan begini."
Alif
menggeleng lemah. "Saya tidak ingat, Ustadz. Saya hanya bermain ketapel,
lalu..." Ia mencoba mengingat, tapi kepalanya semakin sakit. "Lalu
saya tidak ingat apa-apa lagi."
Pak
Nusa mengangguk. "Baiklah, beristirahatlah dulu. Nanti kalau sudah merasa
lebih baik, kamu bisa kembali ke asrama."
Setelah
Pak Nusa keluar, Rado berbisik pada Alif. "Kamu memecahkan kaca rumah
kosong itu, ya?"
Alif
terdiam. Potongan ingatan mulai bermunculan di kepalanya. Kaca pecah, asap
hitam, dan hawa dingin yang menusuk.
"Rado,"
panggil Alif dengan suara bergetar. "Aku melihat sesuatu..."
"Apa?"
tanya Rado penasaran.
"Seperti...
asap hitam yang keluar dari jendela rumah itu."
Farel
dan Rado saling berpandangan dengan wajah tegang.
"Sudah
kubilang rumah itu memang angker," kata Farel. "Banyak santri senior
yang pernah melihat penampakan di sana."
"Omong
kosong," bantah Alif, meski suaranya tidak terdengar yakin. "Aku cuma
kelelahan."
"Terserah
kamu mau percaya atau tidak," kata Rado. "Tapi sebaiknya kita jauhi
rumah itu."
Malam
itu, Alif tidak bisa tidur. Setiap kali memejamkan mata, ia seperti mendengar
suara-suara aneh yang memanggilnya. Keringat dingin terus mengucur dari
tubuhnya meski udara malam itu cukup sejuk.
"Aliiif...
Kembalilah..."
Alif
tersentak. Suara itu terdengar jelas di telinganya. Ia bangkit dari tempat
tidur dan melihat sekeliling. Semua santri di kamarnya tertidur lelap, termasuk
Farel yang biasanya paling peka terhadap suara sekecil apapun.
Tanpa
sadar, Alif melangkah keluar dari kamar. Kakinya bergerak sendiri, membawanya
menuju belakang madrasah. Langit malam itu sangat gelap, tanpa bintang dan
bulan yang tersembunyi di balik awan tebal.
"Aliiif...
Kami menunggumu..."
Suara
itu semakin jelas. Alif terus berjalan seperti terhipnotis. Ia sudah berada di
tanah kosong belakang madrasah, tepat menghadap rumah tua yang kacanya ia
pecahkan tadi pagi.
Dari
jendela yang pecah itu, asap hitam kembali mengepul, lebih tebal dari
sebelumnya. Asap itu perlahan membentuk sosok tinggi besar dengan mata merah
menyala.
"Bismillah,"
Alif mengucap lirih, kesadarannya mulai kembali. Ia mencoba berbalik, tapi
tubuhnya tidak bisa digerakkan.
"ALIIIIIF!"
Teriakan
itu menggema di kepalanya. Tubuh Alif tiba-tiba bergetar hebat. Ia roboh ke
tanah dengan mata terbalik, hanya menampakkan bagian putihnya saja. Mulutnya
mengeluarkan busa.
"ALIF!"
Suara
teriakan lain terdengar. Kali ini bukan dari sosok asap itu, melainkan dari
Aldo yang kebetulan sedang ke kamar mandi dan melihat Alif keluar asrama.
"TOLONG!
PAK AKOM! TOLONG!" Aldo berteriak sekuat tenaga, membangunkan seisi
pesantren.
"Astagfirullah,
apa yang terjadi pada Alif?"
Kyai
Ihsanuddin tampak cemas melihat kondisi Alif yang terbaring di musholah dengan
tubuh bergetar hebat. Para santri berkumpul mengelilinginya dengan wajah
ketakutan. Pak Akom dan beberapa ustadz berusaha menenangkan Alif yang terus
mengeluarkan busa dari mulutnya.
"Saya
melihatnya berjalan sendiri ke arah belakang madrasah, Kyai," jelas Aldo.
"Saat saya menghampirinya, tiba-tiba dia kejang seperti ini."
Kyai
Ihsan membaca ayat-ayat Al-Qur'an dan meniupkannya ke wajah Alif. Namun,
bukannya tenang, tubuh Alif justru semakin keras bergetar. Mulutnya
mengeluarkan suara-suara aneh yang bukan suaranya.
"Dia...
kesurupan," bisik Rado ngeri.
Bunyai
Fifi segera mengambil air dalam baskom dan membacakan doa-doa. Ia memercikkan
air tersebut ke tubuh Alif, tapi tidak ada perubahan.
"Panggil
Gus Iib," perintah Kyai Ihsan kepada Kang Wahab, khodamnya yang pendiam
itu. Kang Wahab segera berlari ke rumah Gus Iib yang berada di samping
pesantren.
Tidak
lama kemudian, Gus Iib datang dengan tergesa-gesa. Adik Kyai Ihsan yang ahli
dalam hal ghaib itu langsung mendekat ke arah Alif.
"Bismillahirrahmanirrahim,"
Gus Iib memulai dengan membaca ta'awudz. Tangannya memegang dahi Alif yang
panas membara. "Ini bukan kesurupan biasa. Makhluk yang merasuki Alif
sangat kuat."
"Apa
yang harus kita lakukan, Gus?" tanya Pak Akom cemas.
"Kita
perlu bantuan Pak Misqol," jawab Gus Iib. "Makhluk ini terlalu kuat
untuk saya tangani sendiri."
Kang
Alfan, khodam Kyai yang gemoy itu, langsung diperintahkan untuk menjemput Pak
Misqol di Balen. Dalam keadaan darurat seperti ini, pesantren rela membangunkan
ahli supranatural itu meski hari sudah larut malam.
Sementara
menunggu Pak Misqol datang, Gus Iib terus membaca ayat-ayat khusus untuk
menenangkan Alif. Para santri diminta untuk membaca Surat Yasin bersama-sama.
"Ada
apa ini sebenarnya?" bisik Farel pada Rado.
"Aku
tidak tahu pasti," jawab Rado. "Tapi kurasa ini ada hubungannya
dengan kaca rumah kosong yang dipecahkan Alif tadi pagi."
"Farel,
Rado," panggil Kyai Ihsan. "Apa kalian tahu sesuatu tentang kondisi
Alif?"
Dengan
takut-takut, Rado menceritakan tentang ketapel dan kaca jendela rumah kosong
yang dipecahkan Alif. Kyai Ihsan dan Gus Iib saling berpandangan dengan wajah
serius.
"Jadi
begitu," gumam Gus Iib. "Rumah itu memang tidak boleh diganggu. Ada
sesuatu yang sudah lama terkurung di sana."
"Dan
sekarang, makhluk itu berhasil keluar karena pecahnya kaca jendela
tersebut," sambung Kyai Ihsan. "Astaghfirullah."
Tak
lama kemudian, Pak Misqol tiba dengan wajah mengantuk namun tampak serius. Ahli
supranatural dari Balen itu langsung mendekati Alif yang masih kejang-kejang.
"Saya
sudah lama memperingatkan tentang rumah itu," kata Pak Misqol sambil
mempersiapkan beberapa botol ramuan dan dupa. "Di dalamnya tersegel jin
yang sangat kuat, yang dikurung oleh leluhur desa ini ratusan tahun lalu."
"Bagaimana
cara mengeluarkannya dari tubuh Alif?" tanya Kyai Ihsan cemas.
Pak
Misqol menatap Kyai dengan wajah serius. "Tidak mudah. Jin ini sudah
terlalu lama terkurung dan sangat marah. Dia mencari wadah untuk balas
dendam."
"Ya
Allah," Bunyai Fifi menutup mulutnya kaget.
"Kita
perlu melakukan ritual khusus," lanjut Pak Misqol. "Dan harus
dilakukan di tempat jin itu keluar."
"Maksudnya,
di rumah kosong itu?" tanya Gus Iib.
Pak
Misqol mengangguk. "Tepat. Kita harus membawanya ke sana, dan melakukan
ritual di depan jendela yang pecah."
Beberapa
santri terlihat ketakutan mendengar hal itu. Membawa Alif ke rumah angker di
tengah malam bukanlah ide yang menyenangkan.
"Baiklah,"
kata Kyai Ihsan tegas. "Kang Wahab, Kang Alfan, tolong bantu angkat Alif.
Gus Iib, Pak Misqol, saya, dan Pak Akom akan ikut ke sana. Yang lain tetap di
sini dan lanjutkan membaca Yasin."
Rumah
kosong itu tampak lebih menyeramkan di malam hari. Angin dingin berhembus
kencang saat rombongan kecil itu tiba di depan rumah tersebut. Kang Wahab dan
Kang Alfan dengan hati-hati meletakkan Alif di tanah, tepat di depan jendela
yang pecah.
Pak
Misqol mulai menyalakan dupa dan membacakan mantra-mantra dalam bahasa yang
tidak dimengerti. Gus Iib dan Kyai Ihsan terus membaca ayat-ayat Al-Qur'an.
Suasana semakin mencekam ketika angin bertiup semakin kencang dan awan hitam
menutupi langit malam.
"Keluarlah
dari tubuh anak ini!" teriak Pak Misqol dengan suara lantang.
"Kembalilah ke tempatmu! Bismillah!"
Tubuh
Alif tiba-tiba mengejang lebih kuat dari sebelumnya. Mulutnya terbuka lebar,
dan suara berat yang bukan miliknya keluar dari sana.
"AKU
TIDAK AKAN KEMBALI! AKU SUDAH TERLALU LAMA TERKURUNG!"
Kyai
Ihsan tidak gentar. Dengan suara tegas, beliau membaca ayat Kursi
berulang-ulang. Gus Iib menyiramkan air yang sudah dibacakan doa ke wajah Alif.
"ARRRGHHHH!"
Alif berteriak kesakitan, tapi itu bukan suaranya.
Pak
Misqol meningkatkan ritualnya. Ia meniupkan asap dupa ke wajah Alif dan terus
membaca mantra.
"Atas
nama Allah Yang Maha Kuasa, aku perintahkan kau untuk keluar!" seru Pak
Misqol.
Tiba-tiba,
tanah di sekitar mereka bergetar. Angin bertiup semakin kencang, nyaris
menerbangkan sorban Kyai Ihsan. Dari mulut Alif, kepulan asap hitam mulai
keluar perlahan.
"Terus
bacakan ayat Kursi!" perintah Pak Misqol pada Kyai Ihsan dan Gus Iib.
Kedua
ulama itu memperkeras bacaan mereka. Asap hitam yang keluar dari mulut Alif
semakin tebal, membentuk sosok besar mengerikan dengan mata merah menyala.
"KAU
TIDAK BISA MENGUSIRKU!" teriak sosok itu.
"Bismill─"
belum sempat Pak Misqol menyelesaikan kalimatnya, sosok asap itu tiba-tiba
menyerang ke arahnya. Pak Misqol terhempas beberapa meter ke belakang.
"Pak
Misqol!" teriak Kyai Ihsan kaget.
Gus
Iib tidak menyerah. Ia melangkah maju, menghadapi sosok asap itu dengan berani.
"Dengan
nama Allah, pergilah kau! Laa ilaaha illallah!"
Sosok
asap itu meraung kesakitan. Ia berputar-putar di udara, mencoba mencari jalan
keluar. Gus Iib terus membaca ayat-ayat pengusir jin, sementara Kyai Ihsan
menghampiri Pak Misqol yang terluka.
"Apa
yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Kyai Ihsan.
Pak
Misqol, meski terluka, masih bisa berbicara. "Kita harus menyegel kembali
jin itu ke dalam rumah. Tapi kacanya sudah pecah. Kita butuh segel baru."
"Segel
apa?" tanya Kyai Ihsan cemas.
"Darah
orang yang membebaskannya," jawab Pak Misqol lemah.
Kyai
Ihsan tersentak. "Maksudmu... darah Alif?"
Pak
Misqol mengangguk. "Hanya setetes. Tapi harus diberikan dengan keikhlasan,
bukan dengan paksaan."
Kyai
Ihsan segera menghampiri Alif yang masih terbaring lemah di tanah. Sosok asap
itu masih berputar-putar di udara, terus melawan bacaan Gus Iib.
"Alif,
anakku," panggil Kyai Ihsan lembut. "Bisa kau dengar aku?"
Alif
membuka matanya perlahan. Kesadarannya mulai kembali setelah jin itu keluar
dari tubuhnya.
"K-Kyai..."
lirihnya lemah.
"Alif,
kita butuh bantuanmu untuk menyegel kembali makhluk itu," kata Kyai Ihsan.
"Tapi ini harus dengan keikhlasanmu."
"A-apa
yang harus saya lakukan, Kyai?" tanya Alif dengan suara bergetar.
"Kita
butuh setetes darahmu untuk menyegel jendela itu kembali," jawab Kyai
Ihsan jujur. "Tapi hanya jika kamu ikhlas memberikannya."
Alif
menatap sosok asap yang masih berputar-putar di udara. Ia merasa bertanggung
jawab atas apa yang terjadi. Kalau saja ia tidak iseng bermain ketapel dan
memecahkan kaca jendela itu, semua ini tidak akan terjadi.
"Saya
ikhlas, Kyai," kata Alif mantap.
Kyai
Ihsan mengangguk. Dengan hati-hati, beliau mengambil pecahan kaca jendela dan
menggoreskannya sedikit di ujung jari Alif. Setetes darah keluar dari sana.
"Pak
Misqol, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Kyai Ihsan.
Pak
Misqol, yang sudah dibantu berdiri oleh Kang Wahab, berjalan tertatih mendekati
mereka. "Oleskan darah itu di seluruh pinggiran jendela yang pecah, sambil
membaca Bismillah."
Kyai
Ihsan menuruti instruksi tersebut. Ia mengoleskan darah Alif di pinggiran
jendela yang pecah sambil membaca Bismillah berulang-ulang. Gus Iib terus
membaca ayat-ayat pengusir jin, membuat sosok asap itu terus meraung kesakitan.
"Sekarang,
Alif harus mengucapkan kalimat ini," kata Pak Misqol, memberikan secarik
kertas pada Alif. "Bacalah dengan sungguh-sungguh."
Alif
menerima kertas itu dengan tangan gemetar. Di kertas tersebut tertulis kalimat
dalam bahasa Arab yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
"Bismill─"
Alif mulai membaca.
"TIDAK!"
raung sosok asap itu marah. Ia bergerak cepat ke arah Alif, mencoba
menghentikannya.
"Teruskan,
Lif!" teriak Gus Iib, menahan sosok itu dengan bacaan ayat-ayatnya.
Alif,
meski ketakutan, terus membaca kalimat tersebut hingga selesai. Seketika, angin
berhenti bertiup. Sosok asap itu seperti tersedot ke arah jendela yang sudah
diolesi darah Alif. Ia berputar semakin cepat, meraung-raung kesakitan, hingga
akhirnya masuk kembali ke dalam rumah melalui jendela yang pecah.
BLARRR!
Suara
ledakan kecil terdengar dari dalam rumah, diikuti dengan kilatan cahaya yang
menyilaukan mata. Setelah itu, hening. Angin berhenti bertiup, dan suasana
kembali tenang.
"Alhamdulillah,"
Kyai Ihsan mengusap keringat di dahinya. "Berhasil."
Pak
Misqol mengangguk puas. "Segel baru telah terpasang. Jin itu tidak akan
bisa keluar lagi, setidaknya untuk beberapa generasi ke depan."
Alif
yang masih lemah, memandang rumah kosong itu dengan mata berkaca-kaca.
"Maafkan saya, Kyai. Gara-gara keiseng-an saya, semua jadi begini."
Kyai
Ihsan tersenyum bijak. "Yang penting kamu sudah belajar dari kesalahan,
Lif. Inilah gunanya ilmu. Bukan hanya untuk mengejar prestasi, tapi juga untuk
memahami batas-batas yang tidak boleh dilanggar."
Gus
Iib menepuk pundak Alif pelan. "Terkadang, kita memang perlu diingatkan
dengan cara yang tidak biasa, agar kita lebih berhati-hati di masa depan."
Alif
mengangguk lemah. Ia bersyukur semuanya telah berakhir. Meski tubuhnya masih
terasa lemas, tapi hatinya lega. Ia telah belajar pelajaran berharga tentang
konsekuensi dari tindakan isengnya.
"Ayo
kita kembali ke pesantren," ajak Kyai Ihsan. "Para santri lain pasti
cemas menunggu kabar."
Kang
Wahab dan Kang Alfan membantu Alif berdiri. Mereka berjalan perlahan
meninggalkan rumah kosong itu, yang kini kembali sunyi dan gelap seperti sedia
kala.
Keesokan
harinya, berita tentang kejadian semalam menyebar dengan cepat ke seluruh
pesantren. Para santri berbisik-bisik penasaran, terutama saat melihat Alif
yang masih terbaring lemah di ruang kesehatan.
"Jadi,
benar ya Alif kesurupan gara-gara memecahkan kaca rumah kosong?" tanya
Rizka yang selalu ikut campur urusan orang lain itu.
"Iya,
katanya jin yang sudah ratusan tahun terkurung di sana lepas gara-gara
Alif," jawab Ulfa dengan mulutnya yang tidak bisa diam.
"Ssst,
jangan keras-keras," tegur Husna sambil mengetuk-ngetuk meja seperti
kebiasaannya menabuh apa saja.
Di
ruang kesehatan, Alif mendapat kunjungan dari Kyai Ihsan dan Bunyai Fifi.
"Bagaimana
keadaanmu, Lif?" tanya Bunyai Fifi lembut.
"Sudah
jauh lebih baik, Bunyai," jawab Alif lemah. "Alhamdulillah."
Kyai
Ihsan tersenyum. "Setiap kesalahan adalah pelajaran berharga, Lif. Semoga
kejadian ini bisa menjadi hikmah, bukan hanya untukmu, tapi juga untuk
santri-santri lain."
"Insya
Allah, Kyai. Saya berjanji tidak akan iseng lagi," ucap Alif
sungguh-sungguh.
"Nah,
sekarang istirahatlah dulu," kata Bunyai Fifi sambil memberikan segelas
air zam-zam. "Minumlah, insya Allah berkah."
Setelah
Kyai dan Bunyai keluar, Farel, Rado, Aldo, dan Azka masuk untuk menjenguk Alif.
"Gimana
rasanya kesurupan, Lif?" tanya Azka yang suka menghayal itu dengan mata
berbinar.
"Jangan
bodoh," tegur Aldo dengan kalimatnya yang tajam seperti biasa.
"Kesurupan itu bukan hal yang bisa dijadikan lelucon."
Alif
tersenyum lemah. "Yang jelas, itu pengalaman yang tidak ingin kuulang lagi
seumur hidup."
"Kamu
hebat bisa bertahan, Lif," puji Farel tulus. "Kata Pak Akom, biasanya
orang yang kesurupan jin sekuat itu bisa meninggal."
"Itu
karena Alif memang pintar dan kuat," kata Rado. "Meski kadang
iseng."
Mereka
tertawa bersama, meski Alif masih harus beristirahat beberapa hari untuk
memulihkan tenaganya.
Sementara
itu, di rumah Pak Misqol di Balen, ahli supranatural itu sedang berbincang
serius dengan Gus Iib.
"Jin
itu sudah terkurung lagi, tapi saya khawatir segel darah itu tidak akan
bertahan selama segel aslinya," kata Pak Misqol.
"Berapa
lama kira-kira?" tanya Gus Iib cemas.
"Paling
lama sepuluh tahun," jawab Pak Misqol. "Setelah itu, kita harus
mencari cara lain untuk menyegelnya secara permanen."
Gus
Iib mengangguk serius. "Akan kubicarakan dengan Kyai Ihsan nanti. Mungkin
kita perlu bantuan Pak Sokhib untuk membuat semacam alat pendeteksi energi
negatif di sekitar rumah itu."
"Ide
bagus," setuju Pak Misqol. "Tapi yang terpenting, jangan ada lagi
yang mendekati rumah itu. Terutama anak-anak iseng dengan ketapel mereka."
Di
pesantren, cerita tentang Alif dan rumah kosong itu menjadi pelajaran berharga
bagi semua santri. Bahwa ada batas-batas yang tidak boleh dilanggar, bahkan
untuk sekadar iseng. Karena terkadang, konsekuensi dari keiseng-an bisa sangat
mahal harganya.
Dan
rumah kosong di belakang pesantren Maulana Malik Ibrahim itu kini dijaga ketat.
Kyai Ihsanuddin memerintahkan Pak Emi sebagai kepala keamanan putra untuk
membuat pagar pembatas tinggi mengelilingi rumah tersebut. Tak ada seorang
santri pun yang boleh mendekati area itu tanpa izin khusus.
Tamat.

Comments