Setoran Terakhir
Setoran Terakhir
Suara adzan Maghrib mengalun lembut dari menara masjid Pondok Pesantren Al-Hikmah, memecah keheningan sore yang mulai beranjak gelap. Gus Ahmad menutup kitab kuning yang terbuka di hadapannya, kemudian beranjak dari kursi kayu tua yang sudah menemaninya mengajar selama bertahun-tahun.
"Yaudah, cukup sampai di sini dulu pelajaran hari ini," ujarnya pada para santri putra yang duduk bersila di lantai madrasah diniyah. "Jangan lupa, besok kita lanjutkan pembahasan tentang i'rob di bab selanjutnya."
Para santri beranjak satu per satu, mengucapkan salam sebelum keluar dari ruang kelas yang sederhana namun penuh berkah itu. Dinding bambu yang sudah menguning oleh waktu menyimpan ribuan doa dan ilmu yang telah dibagikan di dalamnya.
Gus Ahmad menunggu sejenak, kemudian berjalan menuju ruang sebelah—kelas putri yang dipisahkan oleh sekat bambu tipis. Langkahnya pelan, seperti biasa ketika akan mengajar santri putri. Ia selalu berhati-hati menjaga adab, bahkan dalam hal sekecil langkah kaki.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," sapa Gus Ahmad dari balik tirai yang menutupi pintu kelas putri.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab para santri putri serempak, suara mereka terdengar khusyuk dan penuh hormat.
Gus Ahmad duduk di kursi yang telah disediakan, membelakangi para santri putri dengan sekat kain yang membatasi. Cara mengajar seperti ini sudah menjadi tradisi turun-temurun di pesantren, menjaga kehormatan dan kesucian dalam menuntut ilmu.
"Baik, sebelum kita mulai setoran Alfiyah hari ini, saya absen dulu ya," ujar Gus Ahmad sambil membuka buku absen yang sudah lusuh. "Fatimah?"
"Hadir, Gus."
"Khadijah?"
"Hadir, Gus."
"Aisyah?"
"Hadir, Gus."
Satu per satu nama dipanggil, dan satu per satu jawaban "hadir" mengalun dengan nada yang hampir sama. Gus Ahmad mengangguk-angguk kecil, merasa puas karena sepertinya hari ini semua santri putri hadir lengkap.
"Zainab?"
"Hadir, Gus."
"Baik, alhamdulillah semua hadir," kata Gus Ahmad sambil menutup buku absen. "Sekarang kita mulai setoran Alfiyah. Siapa yang mau maju duluan?"
Fatimah, santri putri yang paling senior, mengangkat tangan. "Saya dulu, Gus."
"Silakan, Nak."
Fatimah mulai melafalkan bait-bait Alfiyah dengan tajwid yang bagus dan makhraj yang jelas. Gus Ahmad mendengarkan dengan saksama, sesekali mengoreksi atau memberikan penjelasan tentang makna yang terkandung dalam setiap bait.
Setelah Fatimah selesai, giliran Khadijah, kemudian Aisyah. Satu per satu santri putri maju untuk setoran, hingga tersisa nama terakhir yang belum dipanggil.
"Siti Maryam, maju ya," panggil Gus Ahmad.
Keheningan.
"Siti Maryam?" panggil Gus Ahmad sekali lagi, kali ini dengan nada sedikit lebih keras.
Masih hening. Gus Ahmad mengerutkan dahi. Ia yakin tadi saat absen, semua santri menjawab hadir. Atau jangan-jangan ia salah dengar?
"Lho, Siti Maryam kemana?" tanya Gus Ahmad kepada santri putri yang lain.
Para santri putri saling berpandangan, meski terhalang hijab yang menutupi wajah mereka. Suasana tiba-tiba menjadi senyap, seperti ada yang janggal.
"Fatimah, tolong bantu saya absen ulang ya," pinta Gus Ahmad sambil kembali membuka buku absen. "Hitunglah berapa jumlah teman-temanmu yang hadir hari ini."
Fatimah menoleh ke kiri dan kanan, menghitung dengan teliti. "Gus... yang hadir hari ini cuma 8 orang. Kurang satu."
Gus Ahmad terdiam. Ia merasa aneh. Tadi saat absen, ia yakin sekali semua menjawab hadir. Bahkan ia sempat merasa puas karena tidak ada yang bolos. Tapi kenapa sekarang kurang satu?
"Siti Maryam memang tidak hadir hari ini?" tanya Gus Ahmad lagi.
Khadijah, dengan suara yang pelan dan sedikit bergetar, menjawab, "Gus... Siti Maryam sudah boyong."
"Boyong? Kapan? Kenapa saya tidak diberitahu?"
Para santri putri terdiam sejenak. Aisyah akhirnya memberanikan diri berkata, "Sudah seminggu yang lalu, Gus. Siti Maryam... sudah mulih untuk selamanya."
Gus Ahmad merasa dadanya sesak. Mulih dalam bahasa Jawa bisa berarti pulang, tapi dalam konteks ini... ia tahu persis apa maksudnya.
"Maksudnya?" tanya Gus Ahmad, meski dalam hati ia sudah tahu jawabannya.
"Siti Maryam sudah meninggal, Gus," jawab Fatimah dengan suara yang hampir berbisik. "Seminggu yang lalu. Sakit panas tinggi yang tidak kunjung turun. Orangtuanya sudah menjemput, tapi..."
Gus Ahmad terduduk lemas di kursinya. Siti Maryam... santri putri yang rajin itu. Yang selalu antusias saat setoran Alfiyah. Yang suaranya merdu ketika membaca nazham. Yang tadi... yang tadi sepertinya menjawab hadir ketika diabsen.
"Kenapa kalian tidak memberitahu saya?" tanya Gus Ahmad dengan suara yang bergetar.
"Kami pikir Gus sudah tahu," jawab Zainab. "Kan beritanya sudah tersebar di pesantren."
Gus Ahmad menggeleng pelan. Ia memang jarang keluar dari area madrasah diniyah. Waktu luangnya selalu dihabiskan untuk mempersiapkan pelajaran atau mengaji sendiri. Pantas saja ia tidak tahu.
Tapi yang membuatnya bingung adalah... tadi saat absen, ia jelas mendengar suara menjawab ketika ia memanggil nama Siti Maryam. Suara yang familiar, suara yang sudah ia kenal selama bertahun-tahun mengajar di sini.
"Gus," panggil Fatimah pelan. "Boleh saya bertanya sesuatu?"
"Iya, Nak?"
"Tadi saat absen... apa Gus mendengar jawaban saat memanggil nama Siti Maryam?"
Gus Ahmad terdiam panjang. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Yang jelas, ia mendengar jawaban "hadir" dengan suara yang persis seperti suara Siti Maryam. Tapi bagaimana mungkin?
"Mungkin... mungkin Gus salah dengar," ujar Gus Ahmad akhirnya, meski dalam hati ia tidak yakin dengan jawabannya sendiri.
Para santri putri tidak ada yang berkata apa-apa. Mereka tahu ada sesuatu yang tidak biasa terjadi hari ini. Suasana kelas menjadi hening, hanya terdengar suara hembusan angin yang masuk melalui celah-celah bambu.
"Baik," kata Gus Ahmad sambil berusaha mengumpulkan kembali ketenangannya. "Kita akhiri dulu pelajaran hari ini. Mari kita doakan arwah Siti Maryam, semoga diterima di sisi Allah dan diampuni segala dosanya."
"Aamiin," jawab para santri putri dengan khusyuk.
Setelah membaca fatihah bersama-sama, para santri putri berpamitan satu per satu. Gus Ahmad masih duduk di tempatnya, merenung tentang kejadian aneh yang baru saja dialaminya.
Ketika ruang kelas sudah sepi, Gus Ahmad bangkit dan berjalan menuju jendela kecil yang menghadap ke halaman pesantren. Bulan purnama sudah mulai menampakkan diri di langit malam yang jernih. Suara jangkrik dan gemericik air dari sumur tua menciptakan simfoni malam yang menenangkan.
"Siti Maryam," bisik Gus Ahmad pelan. "Apakah kamu masih ingin belajar, Nak?"
Angin malam bertiup pelan, menggerakkan daun-daun pohon trembesi tua yang mengayomi pesantren. Entah mengapa, Gus Ahmad merasa seperti mendengar suara sayup-sayup dari kejauhan, seperti suara seseorang yang sedang membaca Alfiyah dengan lagu yang familiar.
Ia tersenyum tipis, kemudian mengambil tasbih dari saku bajunya dan mulai berdzikir. Malam itu, ia berdoa lebih panjang dari biasanya, memohon ampunan untuk semua muridnya yang telah tiada, terutama untuk Siti Maryam yang mungkin masih ingin menyetorkan hafalannya.
Sejak malam itu, Gus Ahmad selalu menyediakan satu tempat kosong di kelasnya. Bukan untuk siapa-siapa, hanya untuk menghormati mereka yang telah pergi namun cintanya pada ilmu masih tertinggal di madrasah diniyah yang sederhana itu.
Dan setiap kali ia mengabsen, ia selalu membaca doa khusus untuk para santri yang telah mulih, berharap ilmu yang pernah mereka pelajari menjadi bekal untuk kehidupan yang kekal di alam sana.
Wallahu a'lam.

Comments