Gaun Noni Itu

 


Gaun Noni Itu

Rizka Dewi Nur Aini

Siswi SMP. Plus Maulana Malik Ibrahim Bojonegoro

Matahari sore merayap turun perlahan di balik pepohonan jati, menyelimuti kota kecil dengan warna jingga yang hangat namun getir. Di sebuah gang sempit berbatu, di antara rumah-rumah beratap genteng merah yang mulai kusam, berdirilah Marni, anak perempuan yang biasa dipanggil si “Mata Embun”.

Matanya melekat pada sekelompok anak noni Belanda yang melintas di jalan besar, berlari-lari kecil dengan gaun-gaun yang berkibar. Salah satu di antaranya, gadis kecil dengan rambut pirang yang dikuncir dua, mengenakan gaun biru muda yang dihiasi renda dan pita berkilau. Gaun itu tampak hidup, seolah menari mengikuti langkah si pemiliknya.

Marni mengerutkan dahi, sebuah perasaan asing menggerayangi hatinya

"Betapa indahnya gaun itu," bisiknya lirih.

Malam itu, di rumah sederhana mereka, Marni duduk di dekat meja makan. Ayahnya, Pak Rahmat, baru saja kembali dari mengayuh becak. Tubuhnya lelah dan berkeringat, wajahnya kusam diterpa debu jalanan.

Marni menggenggam tangan ayahnya, matanya penuh harap.

"Ayah, aku ingin punya gaun seperti yang dipakai noni itu," ujarnya pelan, takut jika permintaan itu terlalu besar.

Pak Rahmat menarik napas panjang. Ia mengelus kepala putrinya dengan lembut, walau tangan itu kasar oleh kerja keras.

"Gaun itu mahal, Nak. Tapi kalau itu keinginanmu, Ayah akan berusaha."

Malam itu, Pak Rahmat duduk termenung di depan lampu minyak yang redup. Kepala dan dadanya berdenyut sakit, bukan hanya karena lelah, tapi oleh beban harapan yang tak ringan.
"Bagaimana aku bisa membeli gaun itu, sedangkan uang untuk makan saja kadang tak cukup?" gumamnya dalam hati.

Keesokan harinya, tanpa henti, ia mengayuh becaknya menyusuri jalan-jalan berdebu. Setiap tetes keringatnya adalah doa dan janji tak terucap. Ia berhenti sejenak di warung kecil, melihat uang receh yang terkumpul di dompetnya. Ia meraba-raba, berharap ada cukup untuk membeli sehelai kain dan renda yang setidaknya mendekati mimpi Marni.

Di tengah hiruk-pikuk kota kecil, suara Marni mengalun lirih saat ia bertemu ayahnya di pasar:

"Ayah, aku sudah menabung dari uang jajanku. Aku ingin membantu."

Pak Rahmat tersenyum, air mata menggenang di sudut matanya.

"Kau anak yang kuat, Nak. Tapi jangan terlalu memaksa diri."

Hari-hari berlalu, tubuh Pak Rahmat kian melemah. Namun semangatnya tetap berkobar, mengayuh becak dari pagi hingga larut malam. Suatu sore yang mendung, saat ia menjemput seorang penumpang di pasar tua, hujan mulai turun membasahi jalan licin.

Ketika ia membelokkan becak, roda depan tergelincir dan becak terjungkal dengan keras. Pak Rahmat terjatuh, tubuhnya terbentur keras pada batu jalan. Kerumunan orang segera mendekat, namun napasnya semakin melemah.

Di tangan kiri Pak Rahmat tergenggam erat selembar kertas kecil, bertuliskan:

"Untuk Marni. Gaun biru, dengan renda."

Marni tiba di tempat kejadian, tangannya menggenggam kain lusuh yang biasa dipakai ayahnya. Matanya berkaca-kaca saat melihat ayahnya terbaring tanpa suara. Ia merunduk dan berbisik pelan:

"Ayah, aku ingin gaun itu. Tapi aku ingin ayah tetap sehat. Aku mencintai ayah lebih dari gaun itu."

Malam itu, di dalam kesunyian yang berat, Marni menyadari bahwa cinta seorang ayah tidak terukur oleh apa yang bisa dibeli, melainkan oleh pengorbanan yang tak terlihat.

Selesai.

Comments

Popular posts from this blog

Terjemah Tausyeh Ibnu Qosim

Bisikan di Kamar Mandi

Sang Jenderal telah Menikah