Jejak Peluru di Senja
Jejak Peluru di Senja
Syauqi Muhammad
Siswa SMP. Plus Maulana Malik Ibrahim Bojonegoro
Senja mulai turun perlahan, menyirami
hutan bambu di pinggiran desa dengan warna emas yang merona. Angin lembut
menggesek dedaunan, membawa aroma tanah basah dan cerita lama yang tersimpan di
balik setiap batang bambu.
Di antara pepohonan, sekelompok
tentara Indonesia merayap perlahan. Mereka mengenakan seragam lusuh, membawa
senjata yang sederhana, dan wajah-wajah mereka menyimpan harapan yang tak
pernah padam. Di antara mereka, berdiri seorang pemuda bernama Jaya, matanya
tajam memandang ke depan, hati penuh semangat perjuangan.
Pak Rahman, pemimpin kelompok itu,
menghentikan langkahnya dan berbisik,
“Jaya, kita harus waspada. Pos Jepang
itu bukan sekadar tempat, tapi pintu neraka bagi kita.”
Jaya mengangguk, napasnya berat, tapi
tekadnya lebih berat lagi.
“Aku tahu, Pak. Tapi kita tidak bisa
diam saja, bukan?”
Mereka menyelinap lebih dekat, suara
alam menjadi saksi bisu keberanian mereka. Tiba-tiba, dari balik semak bambu,
muncul sesosok tentara Jepang, membawa senapan mesin. Wajahnya keras dan dingin
seperti batu. Tanpa peringatan, ia menembak.
Dentuman peluru memecah sunyi, dan
Jaya terkena tembakan di dadanya. Tubuhnya tersungkur, matanya mencari-cari
langit yang mulai gelap.
Kawan-kawannya berlari menghampirinya.
“Jaya! Tahan, Jaya!” teriak salah
seorang rekan.
Jaya menggenggam tangan teman di
sisinya, suaranya parau,
“Jangan... biarkan mereka...
menang...”
Pak Rahman menatap luka tembak itu
dengan mata berapi. Malam itu, di tenda yang remang, ia berkata pelan, “Ini
tidak bisa dibiarkan. Siapa pun yang berani menembak Jaya harus kami temukan.”
Hari-hari berikutnya, mereka menyusuri
jejak kaki, meraba bekas peluru yang berserakan, dan mengintai gerak-gerik
musuh di pos Jepang. Seorang prajurit muda, Suryo, berbisik,
“Kita harus berhati-hati, Pak. Mereka
sudah curiga.”
Pak Rahman mengangguk. “Kesabaran
adalah senjata kita. Kita cari mereka bukan hanya untuk balas, tapi untuk
keadilan.”
Malam-malam berganti, tekad mereka
kian membara. Suatu malam, rembulan menggantung tinggi, memantulkan cahaya
temaram di pepohonan. Mereka menyelinap ke sebuah pos Jepang yang lebih besar,
bersiap menghadapi pertarungan.
“Ini bukan hanya tentang peluru itu,”
ujar Pak Rahman dengan suara rendah tapi tegas.
“Tapi tentang harga diri dan
kemerdekaan kita.”
Pertempuran pecah. Suara letusan dan
teriakan menggema di hutan, tapi di balik itu semua, tekad mereka tak pernah
pudar.
Selesai.

Comments