BALON-BALON YANG MENGGAPAI LANGIT NDALEM


BALON-BALON YANG MENGGAPAI LANGIT NDALEM

Yasmin Shofia Salwa

Siswa SMP. Plus Maulana Malik Ibrahim Bojonegoro

 

Sore di PP Maulana Malik Ibrahim Bojonegoro diwarnai langit jingga yang memudar. Angin berbisik pelan, membawa aroma tanah basah setelah hujan. Di balik jendela asrama putri, Vira dan Salwa sedang asyik menghafal. Tatapan Vira yang teduh dan kalem—soft spoken seperti bisikan angin—tertuju pada kitab di hadapannya.

Tiba-tiba, Salwa menepuk pundaknya. "Vir, lihat! Itu... Ayahmu?"

Vira menoleh. Di seberang jalan, tepat di depan pagar pondok, seorang lelaki berjalan agak tertatih. Tangannya menggenggam seikat tali, di ujungnya mengembang puluhan balon warna-warni—merah, hijau, biru, kuning—seperti pelangi yang tersesat di bumi. Itu Budi, ayahnya.

"Sal, aku ke luar sebentar," bisik Vira, air matanya hampir menitik. Salwa, sahabatnya yang penyabar dan selalu mengerti, hanya mengangguk.

Vira menyelinap keluar, diikuti Salwa dari kejauhan. Ia menyusul ayahnya yang sedang beristirahat sebentar di pinggir jalan.

"Ayah," sapa Vira lirih, tangannya menyalami tangan kasar ayahnya.

"Vira, Nak," senyum Budi lebar, meski matanya lelah. "Ayah mau jualan ke pasar malam. Kebetulan lewat sini. Ini, untukmu." Dia memberikan satu balon berbentuk bintang berwarna perak.

Dari balik pohon, tiga pasang mata mengintip. Nada, Keysa, dan Zilla. Mereka menyembunyikan tawa mereka dengan tangan.

"Lihat itu! Anak tukang jualan balon!" desis Nada, suaranya penuh hina.

"Kaya’ gelandangan!" tambah Keysa.

Sore itu, di kamar mandi umum asrama, Vira dan Salwa mengantri. Saat giliran Vira mendekati keran, tiba-tiba Nada melompat keluar dari bilik. Dengan ember penuh, dia menyiramkan air kotor ke tubuh Vira hingga basah kuyup.

"Heh! Apa maumu, Nad?" tanya Vira, gemetar.

"Bersih-bersih dikit, anak penjual balon! Biar nggak bau tanah!" ejek Nada, sebelum berlari pergi dengan tertawa terkekeh.

Air mata Vira bercampur air yang menetes dari rambutnya. Salwa memeluknya erat. "Sabarlah, Vir. Mereka tidak mengerti."

Kesedihan itu belum berakhir. Saat Vira duduk hening di mushola, mencoba melanjutkan hafalan Juz 21-nya, ketiga bully itu datang lagi.

"Sok alim banget sih menghafal. Emang jadi penghafal Qur'an bisa naikin derajat? Tetep aja anak penjual balon kampungan," sindir Zilla, suaranya dibuat-buat manis.

Vira hanya menunduk, jarinya terus mengikuti tulisan di mushaf. Dalam hatinya, dia berdoa, "Ya Allah, kuatkan hati hamba-Mu yang lemah ini."

Hari Sabtu, hari sambangan. Wajah-wajah orang tua memenuhi pelataran pondok. Vira, yang sudah berusaha tegar, tak kuasa menahan tangis saat melihat ibunya, Saroh, yang baik dan ramah itu, mendekat.

"Vira, Kenapa matamu merah, Nak?" tanya Saroh, lembut.

"Biasa, Bu, kelilipan debu," jawab Vira sambil memaksakan senyum tipis.

Di kejauhan, Nada, Keysa, dan Zilla masih tak henti menyoraki dengan pandangan sinis dan tawa menyeringai. Mereka melihat Vira dan ibunya yang sederhana sebagai tontonan.

Tapi, di mana Ayah Vira?

Tiba-tiba, keramaian di pelataran seketika meredup. Semua mata tertuju ke arah ndalem Kyai Ihsan. Dari sana, berjalanlah dua orang lelaki. Yang satu adalah Kyai Ihsan sendiri, dengan sorban putih dan kharismanya. Dan di sampingnya, berjalan dengan santainya, adalah Budi, ayah Vira, masih dengan baju sederhananya.

Mereka berjalan beriringan seperti dua sahabat karib. Kyai Ihsan menepuk punggung Budi, Budi membalas dengan senyuman lebar. Sesekali mereka tertawa terbahak-bahak, seperti berbagi cerita lucu. Tidak ada jarak. Tidak ada kecanggungan. Hanya persahabatan tulus yang terpancar jelas.

Wajah Nada, Keysa, dan Zilla berubah pucat pasi. Darah seolah mengering di pembuluh mereka. Kaki mereka gemetar.

"T-Teman dekat Kyai?" gumam Zilla, nyaris tak bersuara.

Mereka teringat semua ejekan, semua hinaan, semua air yang mereka siramkan. Rasanya dunia berputar kencang.

Sementara itu, Vira yang melihat pemandangan itu hanya bisa tercekat. Air matanya mengalir deras, tapi kali ini adalah air mata kebahagiaan dan kelegaan yang tak terkira.

Dari kejauhan, Budi melambai pada Vira. Dan Kyai Ihsan, dengan senyumnya yang hangat, ikut melambat.

Di langit, balon-balon warna-warni itu seolah telah mencapai puncaknya, menggapai langit ndalem, membawa semua kesedihan Vira pergi, menggantikannya dengan kedamaian yang selama ini ia rindukan.

Sekian. 

Comments

Popular posts from this blog

Terjemah Tausyeh Ibnu Qosim

Bisikan di Kamar Mandi

Sang Jenderal telah Menikah