BUNGA DI TEBING JANJI

Bunga di Tebing Janji

Viyola Dwi Azzahra

Siswa SMP. Plus Maulana Malik Ibrahim Bojonegoro

 

Langit Bojonegoro sore itu lembayung, memantulkan cahaya hangat di wajah Livia. Hari itu adalah hari terindah dalam ingatannya sejak menjadi santriwati di PP Maulana Malik Ibrahim. Bukan karena pelajaran nahwu yang akhirnya ia pahami, atau karena ia mendapat pujian dari Bu Hawa, Roisah Putri. Tapi karena hari itu adalah hari sabungan.

Dan ibunya, Rina, datang.

Bukan sekadar datang. Ibunya datang dengan senyum lebar yang jarang ia lihat akhir-akhir ini. Di tangan ibunya, bukan hanya bungkusan biasa. Ada dua kardus besar berisi nasi kotak spesial dari warung Kang Bahrul, lengkap dengan ayam goreng dan telur balado. Ada juga es krim dalam kotak styrofoam yang dibeli dari kota, sesuatu yang mewah bagi mereka.

"Liv, ayo kita ke toko," ujar Bu Rina, tangannya yang kasar menggenggam erat tangan Livia.

Mereka pergi ke toko serba ada kecil di dekat pondok. Ibunya seperti orang yang memegang tongkat sihir. Dia mengambil minyak goreng, sabun mandi, pasta gigi, sepatu sandal baru untuk Livia, dan bahkan sebuah mukena berwarna biru muda yang sejak lama diidamkan Livia. Livia hanya bisa terdiam, matanya berkaca-kaca melihat keranjang belanja yang penuh. Yola, teman sekamarnya, yang ikut menemani, hanya bisa melongo dan berbisik, "Ibu kamu keren sekali, Liv."

Pulang ke pondok, tangan mereka penuh dengan belanjaan. Hati Livia pun penuh, dipenuhi kebahagiaan yang membuatnya ingin menangis. Malam itu, ia membagikan jajanannya pada Yola dan teman-teman lainnya di asrama. Tawa mereka riang, mengisi langit-langit kamar yang biasanya hanya diisi deru kipas angin dan lantunan hafalan.

Tapi, di tengah riuhnya tawa, sebuah pertanyaan tajam menusuk kalbu Livia. Sebuah pertanyaan yang dingin, menggelitik nalarnya. Dari mana uang sebanyak ini?

Ingatannya melayang pada rumah mereka yang sederhana di pelosok Blora. Pada ayahnya, Budi, yang setiap hari berjibaku dengan cangkul di ladang yang tak seberapa hasilnya. Pada ibunya yang hanya sesekali mendapat pesanan jahitan. Uang untuk mondoknya saja mereka kumpulkan dengan susah payah, seperti memeras batu untuk mendapatkan setetes embun.

Kegembiraan itu tiba-tiba terasa berat. Seperti jubah mewah yang dijahit dengan benang keraguan.

Keesokan harinya, setelah matahari tergelincir, Livia memberanikan diri mendatangi kantor pengurus putri. Ia meminta izin pada Mbak Risa untuk menelepon ibunya. Jarinya gemetar memencet nomor yang sudah hafal di luar kepala.

"Assalamu'alaikum, Bu," suara Livia bergetar.

"Wa'alaikumsalam, Nak! Kenapa, Liv? Kurang sesuatu?" suara Rina terdengar ceria, terlalu ceria.

"Tidak, Bu. Liv cuma mau tanya... kapan sabungan lagi?" tanya Livia, berusaha membuat suaranya terdengar normal.

"Oh, InsyaAllah Jumat depan, Nak. Ibu akan bawa lagi martabak telor kesukaanmu, ya," jawab Rina cepat.

Livia hendak mengucapkan terima kasih, tapi tiba-tiba, dari balik suara ibunya, terdengar suara lain. Suara perempuan yang keras dan penuh amarah. Suara yang sangat ia kenal. Suara Bu Sumi, tetangga mereka yang sering meminjamkan uang.

"Sudah berapa kali kamu berjanji, Rin?! Uangku bukan uang panas! Aku juga butuh! Anakmu saja yang bisa mondok di pondok mewah, tapi bayar hutang selalu nanti, nanti, dan nanti!"

Livia membeku. Telepon masih menempel di telinganya, seakan menyetrum seluruh tubuhnya.

Ia tidak bisa mendengar lagi suara ibunya. Yang ada hanyalah suara isak tangis yang tersedu-sedu, tercekik, penuh rasa malu dan putus asa. Isak tangis yang ia dengar dari kedua ujung telepon: dari speaker ponsel dan dari hatinya sendiri yang pecah.

Air matanya mengalir deras, membasahi gagang telepon yang dingin. Ia tak sanggup berkata apa-apa. Tak sanggup menutup telepon. Ia hanya berdiri di sana, di depan Mbak Risa yang mulai menyadari sesuatu dan mendekat dengan wajah prihatin.

Rahasia itu akhirnya terbongkar. Kebahagiaan yang ia rasakan kemarin, senyum lebar ibunya, kardus-kardus belanjaan, mukena biru yang cantik... semuanya dibeli dengan kepingan-kepingan harga diri yang digadaikan. Dibeli dengan hutang yang membuat ibunya menanggung malu dan teriakan.

Dia, Livia, dengan seragam putih abu-abu dan kerudung rapihnya, adalah bunga yang tumbuh di tebing janji yang curam. Indah dilihat, tapi akarnya mencengkeram erat pada tanah yang rapuh, tanah yang digali dengan nestapa dan air mata ibunya. Dan di ujung telepon yang masih tersambung, di antara teriakan Bu Sumi dan isak tangis ibunya, Livia mendengar bunyi tebing itu mulai retak. Sekian.

 

Comments

Popular posts from this blog

Terjemah Tausyeh Ibnu Qosim

Bisikan di Kamar Mandi

Sang Jenderal telah Menikah