DOA YANG TERSEKAT DI RONGGA LANGIT-LANGIT ASRAMA
DOA YANG TERSEKAT DI RONGGA LANGIT-LANGIT ASRAMA
M.
Alfin Zidna A.
Siswa
SMP. Plus Maulana Malik Ibrahim Bojonegoro
Langit Bojonegoro sore itu berwarna
jingga tua, seolah ikut berkabung. Angin yang berhembus dari arah sawah terasa
menyayat, membawa kabar buruk yang belum sampai ke telinga Rama, siswa kelas 7
SMP yang tengah asyik menghafal surat Al-Waqi'ah di kamar nomor 5, asrama
putra.
………………..
Beberapa Hari yang Lalu, di Sebuah Rumah Sederhana di Pinggiran Bojonegoro
"Aku sudah tidak tahan lagi,
Yan," bisik Warti, suaranya serak berisi air mata yang tak pernah
benar-benar kering.
"Tahan tidak tahan, itu sudah
kewajibanmu! Lihat anak kita, lihat Rama!" balas Yanto, suaranya
menggelegar seperti selalu, memecah kesunyian malam.
Perbincangan yang awalnya tenang,
berubah menjadi pertengkaran sengit. Kata-kata tajam dihunjamkan seperti pisau,
melukai dinding-dinding rumah yang selama ini menjadi saksi bisu kepedihan
mereka.
Tetangga di kiri-kanan hanya bisa
menghela napas, mendengar dentuman dan teriakan yang menjadi soundtrack pilu
keluarga itu. Hingga suatu pagi, mereka melihat Warti dan Yanto berangkat
bersama dengan wajah muram. Tujuannya jelas: Pengadilan Agama. Mereka pulang
dengan selembar kertas yang lebih ringan dari sehelai daun, tapi bobotnya
menghancurkan seluruh alam semesta kecil sebuah keluarga. Mereka resmi
bercerai.
………………..
Pagi Ini, di Pesantren
Rama sedang menyendiri di bawah
pohon rindang dekat kantin putra, menunggu bel berbunyi. Davin dan Kaffa,
sahabat karibnya, menghampiri dengan canda tawa seperti biasa.
"Ra, latihan kaligrafi nanti
sore, ya?" tanya Davin, menepuk pundaknya.
"Iya, Bang. Aku tunggu,"
jawab Rama dengan senyum tipisnya yang khas.
Tiba-tiba, Pak Akom, pengurus
keamanan putra, mendekat. "Rama, ada ibumu di depan. Katanya mau
jemput."
Rama terkejut. Bukan waktunya
pulang. Hatinya berdesir tak karuan. Saat sampai di pintu gerbang, ia melihat
ibunya sudah berdiri di samping sebuah mobil travel. Wajah ibunya pucat,
matanya bengkak.
"Pack cepat, Nak. Kita
boyong," ujar Warti, suaranya getar.
"Boyong? Sekarang? Kenapa, Bu?
Ada apa?"
"Jangan banyak tanya, Rama. Ayo
cepat!"
Rama yang memang anaknya rendah hati
dan penurut itu hanya bisa mengangguk patuh. Ia berlari ke asrama, melemparkan
pandangan sedih ke arah lemari besi tempat ia dan Davin biasa berbagi makanan
ringan, ke arah tempat tidur Kaffa yang selalu berantakan tapi penuh cerita. Ia
mengambil koper dan mengisinya dengan tergesa. Hatinya berontak, tapi ia tak
berani membantah. Di depan kantor pesantren, Kyai Ihsan yang kebetulan lewat
memandanginya dengan tatapan dalam, penuh makna. Seolah Kyai sudah tahu, badai
apa yang baru saja menerpa kehidupan santri kecil itu.
Di dalam mobil travel yang meluncur
meninggalkan Bojonegoro, baru lah Warti menemukan keberanian. Ia memegangi
tangan Rama erat-erat.
"Rama…," bisiknya, air
mata menetes deras. "Ibu dan Bapak… sudah tidak bersama lagi. Kita tidak
akan pulang ke rumah yang dulu. Kita akan ke Boyolali, tinggal dengan
nenek."
Dunia Rama runtuh dalam sekejap.
Kursi mobil terasa mengerut, menyesakkan dada. Ia memandang keluar jendela,
melihat pematang sawah, pohon-pohon jati, dan menara masjid pesantren yang
semakin menjauh. Semuanya kabur oleh genangan air mata yang tak terbendung. Ia
tak menangis. Ia membeku. Kesedihan itu terlalu besar untuk dilampiaskan. Ia
mengerti sekarang, mengapa langit pagi tadi terasa begitu kelam.
………………..
Sore yang Sama, di Pesantren,
Sebuah mobil pickup berdebu berhenti
kasar di depan gerbang. Yanto melompat keluar, wajahnya penuh penyesalan dan
kepanikan. Ia langsung menuju asrama putra, mencari Rama.
Davin dan Kaffa yang sedang
membersihkan kamar, terkejut melihatnya.
"Pak Yanto? Ada apa?"
tanya Davin.
"Rama, Di? Mana Rama? Aku mau
ajak dia pulang," desak Yanto, napasnya tersengal.
Davin dan Kaffa saling pandang. Hati
mereka berdua langsung cemaskan.
"Rama pagi tadi sudah boyong,
Pak. Sama Bu Warti," jawab Kaffa pelan.
Wajah Yanto langsung pucat pasi.
"Boyong? Tidak mungkin! Aku tidak izinkan!"
Mereka bergegas mencari Pak Misqol.
Sang pengurus keamanan putra mengkonfirmasi dengan wajah sedih, "Iya, Pak.
Pagi tadi. Ibu Rama yang menjemput."
Dengan hati yang hancur, Yanto,
didampingi Davin dan Kaffa, menuju kamar Rama. Lemari besi tua itu dibuka.
Isinya kosong. Hanya selembar kertas kecil terselip di sudutnya. Davin
mengambilnya. Itu adalah coretan kaligrafi nama "Rama" dan "Davin"
yang dilingkari hati, buatan Rama seminggu yang lalu.
Davin menatap lemari yang kosong
itu. Kaffa memunggungi mereka, bahunya bergerak-gerak menahan isak. Kamar nomor
5 yang biasanya hangat oleh canda mereka, kini terasa sepi dan dingin. Kosong,
persis seperti hati kedua sahabat itu.
Yanto terduduk lemas di dipan kayu
yang sudah usang. Ia menatap kosong ke dinding, menyadari bahwa keputusan keras
kepalanya telah merenggut bukan hanya istrinya, tetapi juga anak semata
wayangnya. Ia datang terlambat.
Davin memegang erat kertas coretan
itu, air mata akhirnya tumpah. Ia berjanji dalam hati, ia akan menyimpan
coretan itu, dan suatu hari nanti, ketika mereka bertemu lagi, ia akan menagih
janji latihan kaligrafi yang tersisa. Tapi untuk saat ini, yang tersisa
hanyalah kesedihan yang dalam, dan sebuah lemari kosong yang menjadi monumen
bagi persahabatan yang terpenggal di tengah jalan.
Sekian.

Comments