JEJAK CERIA DI BAWAH LANGIT KELAM
JEJAK CERIA DI BAWAH LANGIT KELAM
Khaera
Nisa El Mufida
Siswa
SMP. Plus Maulana Malik Ibrahim Bojonegoro
“Ka, lihat deh coretanku!” seru
Karina, menodongkan buku gambarnya ke wajah Kalina yang sedang asyik membaca di
serambi asrama putri. “Ini karakter kita, namanya Kana dan Lina, petualang yang
bisa terbang ke awan!”
Kalina menyunggingkan senyum,
matanya yang kalem berbinar. “Bagus, Rin. Tapi kok sayapnya satu-satunya
patah?” godanya lembut.
“Ah, itu efek artistik!” bantah
Karina, tertawa renyah. Suaranya yang lantang dan ceria memecah kesunyian sore
di Pondok Maulana Malik Ibrahim Bojonegoro. Dialah energi, sementara Kalina
adalah keteduhannya. Dalam pertemanan mereka, Karina yang ekstrovert dan
sedikit pemarah selalu menemukan pelabuhan di dalam senyuman Kalina yang murah
hati.
Di situlah ide itu muncul, seperti
kilat di siang bolong. “Lin, gimana kalau kita bikin komik? Petualangan Kana
dan Lina! Aku yang gambar, kamu yang nulis ceritanya!”
Mata Kalina berbinar. “Iya, ya?
Boleh juga ide itu.”
Hari-hari berikutnya diwarnai oleh
semangat yang menggebu. Usai mengaji dan sekolah, mereka menyelinap ke kantin
putri. Kang Bahrul dan Mbak Qia, penjaga kantin, hanya bisa geleng-geleng
melihat kedua santriwati itu yang asyik berbisik di sudut, dikelilingi kertas
bergambar.
“Rina, jangan marah-marah nanti
gambarnya jelek,” bisik Kalina suatu kali ketika Karina kesal karena tintanya
tumpah.
“Iya, iya. Ayo lanjutin, bagian ini
Kana lagi sedih, Lina datang menghibur.”
Mereka adalah dua sahabat yang
melukis dunia mereka sendiri di atas kertas. Setiap panel adalah tawa, setiap
dialog adalah impian. Komik itu hampir selesai. Tinggal satu chapter terakhir,
di mana Kana dan Lina akhirnya mencapai ‘Awan Impian’.
Namun, takdir seringkali menulis
cerita yang berbeda.
Suatu pagi, Kalina tidak bangun
untuk shalat Subuh. Badannya panas, dan napasnya tersengal. Karina, yang
biasanya pemarah, panik. Dia memegangi tangan sahabatnya yang semakin dingin.
Kyai Ihsan dan Ning Fifi segera
dihubungi. Suasana pondok menjadi tegang. Pak Misqol dan Mbak Risa dari
keamanan membantu membawa Kalina yang lemah. Pak Akom dan Bu Hawa sebagai
pengurus segera mengatur koordinasi.
“Jangan khawatir, Rin. Kalina pasti
kuat,” bisik Bu Hawa mencoba menenangkan Karina yang gemetar.
Kalina harus dilarikan ke rumah
sakit, meninggalkan Karina sendirian di pondok. Kamar mereka yang biasanya
dipenuhi tawa, kini sunyi. Karina memeluk erat buku komik mereka, berharap
sahabatnya segera kembali.
Hari pertama, dia menunggu. Hari
kedua, dia menghabiskan waktu di kantin, menatap pintu. Kang Bahrul kasihan,
memberikannya teh hangat tanpa diminta. Hari ketiga, harapannya mulai retak.
Tiba-tiba, Ibu Kheira, ibunya
Karina, datang bersama Ibu Riana, ibunya Kalina. Wajah mereka pucat, mata
mereka bengkak.
“Rin, kita pulang sebentar, ya,”
ucap Ibu Kheira, suaranya parau.
“Kenapa, Bu? Kalina bagaimana?”
tanya Karina, jantungnya berdebar kencang.
Ibu Riana hanya memeluknya erat.
“Ayo, Nak. Kalina menunggumu.”
Perjalanan ke rumah Kalina terasa
seperti mimpi buruk. Mobil meluncur pelan, seolah enggan mencapai tujuan. Dan
ketika sampai, pemandangan itu membuat nafas Karina tersekat.
Rumah yang biasanya ramai dengan
tawa Kalina, kini dipenuhi orang. Suara lantunan ayat suci menggantung berat di
udara. Asep, ayah Kalina, berdiri di depan pintu, wajahnya hancur. Dia memeluk
Karina erat.
“Masuklah, Rin. Selia menunggumu,”
bisap Asep, suaranya bergetar pilu.
Karina dipimpin masuk. Di ruang
tengah, terbaring seorang dengan tubuh tertutup kain jarit berwarna putih.
Seketika, dunianya runtuh.
“Tidak…,” desisnya.
Ibu Riana berlutut di sampingnya,
pelan. “Dia sudah pergi, Sayang. Selia sudah kembali ke pangkuan-Nya. Tenang,
tanpa rasa sakit.”
Teriakan Karina pecah, menyayat hati
setiap orang yang hadir. Tangisnya yang kencang, histeris, adalah luapan dari
semua kesedihan, rasa bersalah, dan kerinduan yang tertahan. Dia memukul
lantai, merobek-robek dadanya sendiri. Dunia yang mereka bangun bersama,
tiba-tiba gelap gulita.
Setelah badai tangisnya mereda
menjadi isakan yang menyedihkan, Bapak Asep mendekat. Di tangannya, tersampir
sebuah amplop putih.
“Ini… Selia titipkan untukmu. Dia
menulisnya di rumah sakit,” katanya, suaranya bergetar.
Dengan tangan gemetar, Karina
membukanya. Surat itu ditulis dengan tulisan tangan Kalina yang cantik, meski
agak goyah.
…………….
“Untuk
Sahabatku, Karina,
Jika kau baca
surat ini, berarti aku sudah sampai di ‘Awan Impian’ kita lebih dulu. Jangan
sedih, ya. Jangan marah-marah lagi. Aku tahu kau kuat.
Komik kita,
Rin… Kau harus selesaikan. Selesaikan untuk kita berdua. Gambarlah untukku.
Terbangkan Kana dan Lina ke tempat yang paling indah. Gapai cita-cita kita,
walau kau harus melakukannya sendirian. Aku akan selalu menyaksikan dari sini,
dari tempat yang penuh cahaya.
Terima kasih
untuk semua tawa dan cerita kita. Kau adalah sahabat terhebat yang pernah aku
miliki.
Selamat jalan,
sahabatku. Sampai jumpa di surga.
Selamanya
milikmu,
Kalina.”
…………….
Air mata Karina kembali menetes,
tetapi kali ini, ada sebentuk kekuatan yang lahir dari antara huruf-huruf itu.
Dia memeluk surat itu erat-erat, seperti memeluk sahabatnya untuk terakhir
kali.
Kembali ke pondok, Karina duduk di
tempat mereka biasa membuat komik. Dengan mata yang masih bengkak, dia
mengambil pena. Dia mulai menggambar lagi. Kana dan Lina terbang menuju Awan
Impian, dan kali ini, meski hanya sendirian di dunia nyata, Karina tahu, Kalina
akan selalu ada di setiap goresan tinta, di setiap panel cerita, dan di setiap
impian yang mereka rajut bersama.
Dia akan menggapai cita-citanya,
untuk mereka berdua.
Sekian.

Comments