LUKA DI KAKI, LUKISAN DI LANGIT
LUKA DI KAKI, LUKISAN DI LANGIT
Charish
Adnan
Siswa
SMP. Plus Maulana Malik Ibrahim Bojonegoro
Langit di atas Bojonegoro sore itu
begitu biru, seolah dicat oleh tangan Tuhan sendiri. Tapi bagi Rio, biru itu
hanya jadi latar bagi kesendiriannya yang pekat. Pesantren Maulana Malik
Ibrahim sepi. Para santri lainnya telah pulang menuju pelukan keluarga. Hanya
Rio yang masih berkeliaran di asrama, menunggu Arya, ayahnya, yang janjinya
menguap ditelan kesibukan.
"Ditinggal lagi, ya, Rio?"
suara Kyai Ihsan lembut dari balik jendela musholla. Rio hanya mengangguk
kecil, senyumnya getir.
"Biarin, Kyai. Nanti juga ayah
datang."
Tapi hatinya menjerit. Ia rindu
permainan, teriakan, dan tawa. Rindu hal-hal yang seharusnya dimiliki anak
laki-laki berusia dua belas tahun.
Keheningannya pecah oleh suara bola
dan langkah berderap. Charis, dengan kulit legam dan sorot mata nakal yang
selalu membara, menghampiri. Di pesantren, mereka seperti air dan minyak. Rio
yang kalem dan pendiam, Charis yang berisik dan tak pernah diam. Tapi hari ini,
bahkan musuh terasa seperti penyelamat.
"Masa’ liburan main sendirian?
Ayo, main bola! Kami butuh kiper!" teriak Charis, tanpa basa-basi.
Rio ragu. Tapi desakan Charis dan
kerinduannya pada permainan mengalahkan segalanya. "Baiklah."
Di lapangan rumput belakang
pesantren, mereka bermain. Awalnya canggung, tapi lama-lama, semangat kompetisi
memanas. Rio, dengan naluri yang tajam, berhasil menepis banyak bola. Charis,
yang biasanya mudah mencetak gol, kini kesulitan. Wajahnya mulai memerah,
napasnya tersengal.
"Yah, hampir!" teriak
Charis saat tendangannya lagi-lagi ditepis Rio.
Pertandingan berubah menjadi duel
sengit. Gol berganti gol. Keringat membasahi baju mereka. Sampai pada sebuah
momen, Charis menerobos pertahanan, hanya berhadapan dengan Rio. Dengan segala
tenaga, Charis melepaskan tendangan keras. Bola melesat. Rio menerjang,
berusaha menangkap. Tapi yang terjadi adalah bunyi 'krak!' yang pendek, tajam,
dan mengerikan, diikuti jerit kesakitan Rio yang menyayat.
Charis tersentak kaku. Dia melihat
Rio terguling, memegangi kakinya yang sudah berbentuk aneh, air mata mengalir
deras.
"Aduh... kaki... kakiku!"
"Rio! Maaf, Rio! Aku tidak
sengaja!" Charis berlutut, panik. Wajah nakalnya luluh menjadi ketakutan
murni. Tanpa pikir panjang, dia mengangkat tubuh Rio yang ringkih dan
memanggulnya. "Aku antar kamu pulang."
Tapi rumah Rio, yang tak jauh dari
pesantren, terkunci. Arya dan Anisa belum pulang. Rio meringis kesakitan,
tangisnya semakin menjadi.
Charis tidak menunggu. Meski
rumahnya lebih jauh, dia berlari. Langkahnya terhuyung-huyung membawa beban di
pundaknya, napasnya seperti pisau yang mengoyak dadanya. Butuh waktu lama
sampai akhirnya dia tiba di puskesmas, dengan baju basah oleh keringat dan air
mata Rio.
"Tolong... tolong
temanku!" teriaknya pada perawat yang sedang bertugas.
Diagnosa dokter cepat dan kejam:
patah tulang. Saat Arya dan Anisa datang, wajah mereka berubah dari khawatir
menjadi amarah yang meluap saat mengetahui penyebabnya.
"Kamu! Anak nakal! Lihat apa
yang kau lakukan pada anakku!" hardik Arya, jarinya menunjuk hidung Charis
yang pucat pasi.
Anisa, yang biasanya ramah, kini
menatap dengan dingin. "Kamu harus bertanggung jawab. Biaya pengobatan,
biaya segala-galanya. Lima belas juta. Kamu dengar? Lima belas juta!"
Charis hanya bisa mengangguk,
hancur. Kata-kata itu lebih menyakitkan daripada patah tulang manapun.
Pulang ke rumah, dia menyampaikan
tuntutan itu pada orang tuanya. Keluarga yang hidupnya pas-pasan itu
tercengang. Lima belas juta seperti gunung yang mustahil didaki. Tapi mereka
orang tua yang menjunjung tinggi tanggung jawab. Esok harinya, mereka mulai
menjual apa saja. Televisi tua, sepeda motor satu-satunya yang dipakai ayahnya
untuk cari nafkah, perhiasan emas titipan ibu, bahkan lemari pakaian. Tetangga
berbisik, mata mereka berkaca-kaca melihat pengorbanan keluarga Charis.
Charis sendiri mengosongkan
celengannya, uang yang dikumpulkannya bertahun-tahun dari jaga warung Kang
Bahrul dan Mbak Qia. Satu juta rupiah. Jumlah yang dulu terasa seperti harta
karun, kini terasa begitu sedikit.
Dua minggu kemudian, dengan mata
berkaca-kaca, keluarga Charis menyerahkan sebuah tas plastik hitam berisi uang
kepada keluarga Rio. Empat belas juta dari hasil jual barang, ditambah satu
juta dari tabungan Charis.
"Kami minta maaf yang
sebesar-besarnya," kata ayah Charis, suaranya parau.
Mereka membungkuk, lalu pergi. Dan
sejak hari itu, mereka menghilang. Seperti ditelan bumi Bojonegoro.
Bulan berganti. Kaki Rio sembuh
perlahan. Tapi ada sesuatu yang patah di dalam hatinya. Rumah terasa lebih
sunyi tanpa kehadiran Charis, bahkan jika sebelumnya mereka bertengkar. Dia
mencari Charis ke mana-mana. Ke lapangan, ke warung Kang Bahrul, bahkan
menanyakan pada Pak Misqol dan Mbak Risa. Tidak ada jawaban.
Hingga suatu sore, saat membersihkan
kamarnya, Rio menemukan bola yang dulu mereka mainkan. Dia memeluknya erat.
Kemarahan yang lama tertahan akhirnya meledak.
"Kenapa kalian minta uang
sebanyak itu?!" teriaknya pada Arya dan Anisa yang terkejut. "Dia
temanku! Dia satu-satunya teman yang mau ajak aku main saat kalian sibuk!
Sekarang dia hilang!"
Air mata Rio mengalir deras,
menghanyutkan segala kesedihan dan penyesalan. Dia melihat ke luar jendela, ke
langit biru yang sama. Kini, biru itu tak lagi jadi latar kesendirian, tapi
menjadi kanvas kosong yang menyimpan lukisan tentang seorang anak laki-laki
bermata nakal, yang memanggulnya dengan setia, dan sebuah persahabatan yang
terpenggal oleh sebuah tendangan, dan sebuah harga yang terlalu mahal untuk
sebuah kesalahan tidak disengaja.
Dan Rio tahu, luka di kakinya akan
sembuh. Tapi luka karena kehilangan sahabat satu-satunya, itu akan menjadi
lukisan abadi di langit-langit jiwanya.
Sekian.

Comments