Malam Terakhir Ridho

 Malam Terakhir Ridho

Rehan Shofil Fu’ad

Siswa SMP. Plus Maulana Malik Ibrahim Bojonegoro

 

 

Waktu menunjuk 15.50 sore.

Udara pesantren sore itu terasa ganjil — tidak sehangat biasanya. Awan-awan menggantung rendah, seolah menahan sesuatu di dada langit. Dari kejauhan, suara santri membaca Al-Qur’an terdengar samar, berpadu dengan desir angin yang pelan menggoyang daun waru di halaman depan pondok.

Di beranda rumah pengasuh, seorang santri berwajah pucat duduk diam. Tangannya gemetar, matanya sembab, dan bibirnya nyaris tak mampu berucap. Ia adalah Ridho, santri kelas dua yang dikenal pendiam dan penurut. Ia jarang bicara, dan bila bicara pun suaranya lebih sering tenggelam di udara.

“Bu…” suaranya pelan, hampir tak terdengar. “Aku… aku dibully, Bu…”

Ibu Sumiati, yang datang menjenguk sore itu, menatap anaknya dengan kaget. “Dibully? Maksudmu apa, Nak? Siapa yang berbuat begitu padamu?”

Ridho menunduk dalam. Ia tak sanggup menyebut nama. Kata-kata itu terasa seperti duri yang menusuk dari dalam dadanya sendiri.

“Sudah, Bu. Aku cuma… takut aja.”

Sumiati memegang bahu anaknya, mencoba tersenyum meski hatinya bergetar. “Ibu akan cari tahu. Kalau memang ada yang berbuat buruk, Ibu nggak akan diam.”

Ridho hanya mengangguk pelan. Dalam hatinya, ia tahu langkah ibunya akan sia-sia. Sebab kejahatan di pondok tidak selalu tampak seperti kejahatan — terkadang, ia berwujud dalam bentuk ejekan kecil yang dibiarkan, dan luka yang disembunyikan.

Sumiati melangkah menuju asrama putra. Ia ditemani Bu Hawa, roisah putri, yang berusaha menenangkan suasana.

“Tenang, Bu. Santri di sini baik-baik semua. Mungkin anak panjenengan cuma salah paham,” ucap Bu Hawa lembut.

Namun hati Sumiati tak tenang. Ia ingin memastikan sendiri.

Di depan asrama, ia melihat tiga santri duduk di tangga — Vino, Dirga, dan Benu. Wajah mereka polos, seolah tak pernah mengenal salah.

“Ibu mau tanya,” ujar Sumiati lembut. “Kalian kenal Ridho, kan?”

Ketiganya saling pandang, lalu tersenyum kecil.

“Kenal, Bu,” jawab Vino. “Ridho itu temen kita. Baik, pendiam, malah sering bantu nyapu.”
“Dia nggak pernah kami ganggu, Bu,” timpal Dirga cepat, dengan nada meyakinkan.

Benu menambahkan sambil tertawa kecil, “Ridho itu suka melamun, Bu. Kadang dia ngomong aneh-aneh. Tapi ya nggak pernah kami apa-apain.”

Sumiati tersenyum kaku. “Oh, begitu…”

Ia menatap wajah ketiga santri itu. Tidak ada tanda-tanda kebohongan — setidaknya, tidak bagi seorang ibu yang hatinya ingin percaya.

Tanpa ia sadari, begitu ia pergi, ketiga anak itu saling pandang dan terkekeh pelan.
“Lain kali, jangan sok lapor, tuh bocah,” bisik Vino, suaranya dingin.

Langit berganti gelap.

Pukul 21.30. Asrama sunyi. Sebagian santri sudah tidur. Tapi di kamar ujung, Ridho duduk sendirian menatap lantai. Tangannya memegang mushaf kecil, tapi pikirannya tidak sedang membaca. Ia hanya ingin tenang.

Ketika pintu kamar tiba-tiba diketuk keras, jantungnya langsung berdegup cepat.

“Ridho! Keluar!”

Suara itu… suara yang membuat dadanya sesak. Vino. Dirga. Benu.

Ridho menggenggam selimutnya kuat-kuat. “Aku… aku nggak mau keluar. Aku capek.”

“Keluar, cepet! Disuruh beli rokok di warung depan!”

“Aku nggak punya uang,” jawabnya pelan.

Tiba-tiba pintu ditendang keras. Tiga anak itu masuk, wajah mereka gelap seperti bayangan malam.
Dirga langsung menarik kerah baju Ridho, menampar pipinya.

Benu menendang perutnya, membuatnya jatuh terjengkang.

Vino mendekat, berbisik di telinganya dengan suara dingin, “Kamu pikir kami nggak tahu kamu ngadu ke ibumu? Coba aja kamu buka mulut lagi… aku sumpah, kamu bakal nyesel.”

Setelah itu, mereka pergi, meninggalkan Ridho yang tergeletak di lantai. Di sudut matanya, mengalir air mata yang tak bersuara. Ia tidak menjerit, tidak melawan — hanya menatap kosong ke arah langit-langit kamar.

Malam itu, suara jangkrik di luar jendela terasa lebih nyaring dari biasanya.

Pukul 00.30.

Telepon umum di samping kantor pondok berdering. Petugas keamanan, Pak Misqol, menyerahkan gagang ke Ridho yang dipanggil.

“Bu…” suaranya pelan.

“Ibu sudah datang ke pondok tadi siang, Nak,” jawab Sumiati dari seberang. “Ibu sudah tanya teman-temanmu. Kata mereka, kamu nggak pernah dibully. Jadi laporanmu salah, ya?”

Ridho terdiam. Tenggorokannya kering. Suara ibunya terasa jauh, sangat jauh.

“Maaf, Bu…”

“Lain kali jangan bikin Ibu khawatir, ya.”

“...Iya, Bu.”

Ketika telepon ditutup, Ridho berdiri lama di depan dinding kosong. Dunia terasa seperti ruangan yang makin sempit, makin gelap. Ia kembali ke kamarnya, menatap tas kecil berisi kitab dan beberapa pakaian.

Di bawah ranjang, ada seutas tali tambang bekas latihan pramuka. Ia menatap benda itu lama, sangat lama — seolah di sanalah letak semua jawabannya.

Suara ayam jantan belum sempat terdengar. Seorang santri yang hendak berwudhu melihat sesuatu menggantung di dek belakang asrama. Ia menjerit.

“Pak Misqol! Ada orang gantung diri!”

Dalam hitungan menit, seluruh pondok terbangun. Kyai Ihsan datang tergesa, wajahnya pucat. Ia berdiri lama di depan jasad Ridho yang menggantung diam, dengan mata tertutup dan wajah tenang — tenang seperti orang yang akhirnya berhenti berlari dari ketakutan.

Ning Fifi memeluk pundak Bu Hawa yang menangis tersedu.

“Anak sebaik itu… kenapa harus seberat ini jalannya…”

Pak Misqol menurunkan tubuh Ridho perlahan, membaringkannya di atas sajadah. Tidak ada yang berbicara. Hanya desahan tangis pelan dari setiap sudut asrama.

Beberapa jam kemudian, mobil berwarna perak berhenti di depan gerbang pondok. Dari dalam, turun seorang perempuan dengan wajah sembab — Sumiati. Langkahnya limbung, tapi matanya mencari sesuatu. Hingga pandangannya berhenti di ruang tamu pondok, di mana tubuh anaknya terbujur di atas kain putih.

Ia berlari.

“Ridho! Nak! Bangun, Nak! Ibu datang, Nak! Ibu salah! Ibu salah percaya!”

Tangisnya pecah, histeris.

Suara itu menggema di setiap dinding pesantren, menembus hati setiap orang yang mendengar.
Kyai Ihsan hanya bisa menunduk dalam-dalam. “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un…”

Sumiati memeluk tubuh anaknya, mengguncangnya pelan, berharap ada sedikit keajaiban. Tapi yang tersisa hanya dingin — dingin yang menusuk sampai tulang.

Di luar, matahari mulai naik perlahan. Langit yang tadi gelap kini berwarna jingga. Tapi hari itu tak lagi sama.

Karena bagi seorang ibu, tidak ada pagi setelah kehilangan anaknya.

Minggu berikutnya, pondok itu sunyi.

Kyai Ihsan memanggil semua santri ke masjid, termasuk tiga wajah yang sejak hari itu tak lagi menegakkan kepala: Vino, Dirga, dan Benu.

Suara Kyai Ihsan tenang namun berat.

“Ridho bukan mati karena dirinya. Ia mati karena kelalaian kita semua… karena lidah yang tak dijaga, karena tangan yang tak dikendalikan, karena hati yang kehilangan kasih.”

Tiga anak itu menunduk, air mata jatuh satu per satu. Tapi penyesalan selalu datang terlambat.
Ridho telah pergi, meninggalkan mereka dengan bayangan yang akan menghantui sepanjang hidup.

Dan di malam-malam tertentu, beberapa santri bersumpah mendengar suara lirih dari dek belakang — suara anak muda yang membaca Al-Qur’an dengan getar lembut, lalu hilang bersama angin subuh.

Comments

Popular posts from this blog

Terjemah Tausyeh Ibnu Qosim

Bisikan di Kamar Mandi

Sang Jenderal telah Menikah