Puasa yang Tak Pernah Diceritakan Zahra

 Puasa yang Tak Pernah Diceritakan Zahra

Melva Kamilia Adwa Azkia

Siswa SMP. Plus Maulana Malik Ibrahim Bojonegoro

 

Siang itu, langit di atas Pondok Pesantren Maulana Malik Ibrahim Bojonegoro tampak redup, seolah matahari enggan bersinar terlalu lama. Udara panas yang biasanya membakar ubun-ubun kini terasa lembab, seperti diselimuti kabut tipis yang malas beranjak. Di kelas 7 putri, suara bel istirahat baru saja berbunyi panjang—tringggggggggg!—menandai waktu bebas yang paling dinanti para santri.

Bangku-bangku bergeser, tawa bertebaran, dan sandal-sandal beradu di lantai semen. Semua santri berhamburan keluar kelas menuju kantin. Bau ayam goreng dari arah dapur Mbak Qia, penjaga kantin putri, menyeruak ke setiap lorong, menggoda siapa pun yang lewat.

Namun di antara riuhnya langkah kaki dan teriakan riang, hanya satu orang yang tetap diam di dalam kelas.

Zahra Zavirana.

Ia duduk sendirian di bangku paling depan, kepalanya menunduk dalam, jemarinya memegang buku berjudul Fiqhul Ibadah. Jilbab putihnya jatuh rapi di bahu, wajahnya tenang tapi ada lelah yang mengintip di balik matanya.

Melva, sahabatnya yang dikenal ceria, melongok dari pintu sambil mengipas-ngipas wajah dengan buku.

“Zahra…” panggilnya pelan, “nggak ke kantin, nih? Ayam gorengnya Mbak Qia katanya lagi promo, lho! Cuma tiga ribu dapat nasi, sambal, sama teh es!”

Zahra menoleh perlahan, tersenyum kecil.

“Nggak, Mel. Aku puasa.”

Melva mengerutkan kening, lalu duduk di sebelahnya.

“Puasa? Sekarang bukan Senin-Kamis, lho. Kamu niat nazar, ya?”

Zahra menggeleng, senyumnya tetap. “Nggak, cuma… pengin aja.”

Melva menghela napas, menatap wajah Zahra lama. Ada sesuatu di sorot mata itu—sesuatu yang seperti sedang disembunyikan. Tapi Melva memilih tak bertanya lebih jauh. Ia tahu Zahra tipe orang yang jarang mengeluh.

“Yaudah deh, tapi nanti sore aku bawain es krim dari kantin, ya.”

Zahra tertawa kecil. “Nggak usah, Mel. Aku baik-baik aja, kok.”

Melva pun beranjak pergi. Suara sandal jepitnya menjauh, meninggalkan Zahra bersama kesunyian yang tiba-tiba terasa panjang. Di luar, tawa teman-temannya menggema, tapi bagi Zahra, suara itu justru seperti pisau kecil yang menusuk lembut di dada.

Ia menatap bukunya lagi. Huruf-huruf di halaman mulai kabur, bukan karena mengantuk, tapi karena pikirannya melayang. Ia ingat wajah Bu Shintia, ibunya, yang setiap kali menelpon selalu bilang,

“Zahra, sabar ya, Nak. Ayahmu lagi sepi kerjaan bulan ini. Uang sambangan agak terlambat.”

Dan Zahra, seperti biasa, hanya menjawab lembut,

“Iya, Bu. Zahra ngerti.”

Ia memang mengerti. Tapi memahami tak berarti tak merasa perih.

Sore hari tiba.

Di asrama Al Malik, suasana riuh luar biasa. Mbak Qia membuka lapak kecil di depan kantin, menjual chicken crispy panas dengan saus pedas yang menggoda. Aroma minyak goreng dan tepung bumbu memenuhi udara, memanggil siapa pun yang lewat untuk mampir.

“Yang pedes dua ya, Mbak Qia!” teriak Vania, sambil menyerahkan uang lima ribuan.

“Aku juga, Mbak! Tapi tambahin sausnya, ya!” sahut Shofi dari belakang.

Tawa mereka pecah, berbaur dengan suara wajan yang berdesis.

Zahra lewat pelan di belakang antrian, hanya memandang sekilas. Ia ingin sekali mencicipi, tapi sesuatu di dalam hatinya menahan. Dan mungkin, bukan cuma hati yang menahan—perutnya pun sudah lama menyesuaikan diri dengan kosong.

“Nggak beli, Zahra?” panggil Mbak Qia dari balik etalase, dengan senyum ramahnya.

Zahra berhenti, tersenyum sopan. “Nggak, Mbak. Terima kasih, ya.”

“Lho, kamu sakit? Biasanya paling suka crispy-ku, lho,” goda Mbak Qia.

Zahra hanya menggeleng, lalu melangkah pergi. Saat pintu asrama tertutup di belakangnya, ia menarik napas panjang. Bau ayam goreng yang masih melekat di udara membuat dadanya nyeri. Ia menatap tangannya—kosong, seperti isi dompetnya.

Di atas ranjang, Zahra duduk lama. Cahaya sore masuk dari jendela, menimpa wajahnya yang pucat. Ia membuka dompet kecil berwarna hijau muda, menghitung isinya: tiga lembar sepuluh ribuan.

Cuma itu.

Tiga puluh ribu rupiah untuk sepuluh hari ke depan.

Ia menutup dompet itu rapat-rapat, memeluknya sebentar, lalu meletakkannya di bawah bantal. “Cukup, insya Allah,” bisiknya pelan, seolah sedang menenangkan dirinya sendiri.

Malamnya, di kelas diniyah, suasana lebih tenang. Lampu-lampu neon menggantung di langit-langit, sebagian berkedip pelan. Bu Hawa, sang roisah putri, berdiri di depan kelas sambil membawa buku catatan dan senyum lelah.

“Anak-anak, besok tolong setor iuran sapu, ya. Lima ribu per orang. Buat beli peralatan baru. Jangan lupa, ya.”

“Baik, Bu!” serempak para santri menjawab.

Besoknya, satu per satu mereka maju membayar. Faiq, Salwa, Shofi, Melva—semuanya sudah menyerahkan. Tapi Zahra, seperti biasa, hanya diam.

“Zahra, iuranmu belum, Nak,” kata Bu Hawa dengan nada lembut.

“Iya, Bu… nanti Zahra nyusul, ya.”

Setelah kelas bubar, Zahra membuka dompetnya lagi di meja kayu paling belakang. Tangannya gemetar pelan. Uang tiga puluh ribu itu kini terasa seperti beban yang berat. Ia menatapnya lama, berdebat dengan dirinya sendiri.

“Kalau aku bayar sekarang, tinggal dua puluh lima ribu. Sepuluh hari lagi sambangan. Kalau aku nggak bayar, nanti dibilang pelit…”

Ia menunduk, menahan air mata yang hampir jatuh.

Dari bangku belakang, Faiq yang sejak tadi pura-pura membereskan buku, tanpa sengaja melihat isi dompet Zahra. Ia cepat-cepat menunduk, berpura-pura tak tahu. Tapi hatinya menegang. Dalam sekejap, semua potongan puzzle itu menyatu di kepalanya: Zahra yang selalu puasa, Zahra yang menolak ke kantin, Zahra yang menahan lapar di malam hari.

Zahra tidak sedang berhemat.

Zahra sedang berjuang.

Malam itu, di halaman pesantren, Faiq duduk sendirian. Angin berhembus pelan membawa bau tanah basah, setelah gerimis turun sebentar. Di kejauhan, suara santri membaca wirid terdengar seperti alunan doa yang melayang di udara.

Faiq menatap langit. “Ya Allah… kuatkan Zahra. Kalau aku boleh bantu, tuntun aku caranya.”

Sementara itu, di kamar asrama, Zahra juga menatap langit yang sama dari jendela kecilnya. Ia menunduk di atas sajadah, wajahnya basah oleh air mata yang jatuh tanpa suara.

“Ya Allah,” bisiknya pelan, “terima kasih karena masih Kau beri lapar yang membuatku mengingat-Mu.”

Angin malam menyapu tirai jendela, membuatnya bergoyang perlahan seperti tangan yang menepuk lembut bahunya.

Beberapa hari kemudian, tanpa sepengetahuan Zahra, Faiq diam-diam menitipkan uang lima ribu ke Bu Hawa.

“Bilang aja dari anak yang belum sempat bayar, Bu,” katanya pelan.

Dan ketika Bu Hawa mengumumkan kalau semua iuran sudah lengkap, Zahra mengangkat wajah, terkejut sekaligus bingung. Tapi ia tak berkata apa-apa. Ia hanya tersenyum, dan entah kenapa, hatinya terasa hangat sekali.

Di malam Jumat itu, Zahra menulis di buku catatannya:

“Aku belajar sesuatu hari ini. Kadang, lapar bukan berarti kekurangan, tapi cara Allah mengajarkan arti kecukupan.

Dan kadang, pertolongan datang bukan dari tangan yang menepuk bahu, tapi dari seseorang yang memilih diam, agar pahala kebaikannya tetap utuh di sisi-Nya.”

Langit Bojonegoro kembali redup sore itu. Tapi di dalam hati Zahra, ada cahaya kecil yang menyalakan harapan baru. Ia masih harus bertahan sepuluh hari lagi, tapi kini ia tahu—ia tidak benar-benar sendirian.

Ada Allah yang menjaga.

Ada sahabat yang memahami tanpa harus diberi tahu.

Dan ada keikhlasan yang tumbuh dari setiap lapar yang tak pernah ia ceritakan pada siapa pun.

TAMAT.

 

Comments

Popular posts from this blog

Terjemah Tausyeh Ibnu Qosim

Bisikan di Kamar Mandi

Sang Jenderal telah Menikah