Sambangan Terakhir

 Sambangan Terakhir

Syahrani Taufiq

SMP. Plus Maulana Malik Ibrahim Bojonegoro

 

Pagi di Pondok Pesantren Maulana Malik Ibrahim Bojonegoro selalu dimulai dengan suara lembut Al-Qur’an yang mengalun dari serambi masjid. Udara dingin menusuk kulit, tapi justru itulah yang membuat suasana pondok terasa hidup—seperti pagi yang tumbuh dari lantunan doa.

Hari itu Jumat.

Dan di antara ratusan santri yang sibuk menjemur pakaian, menyapu halaman, dan menyiapkan hafalan untuk setoran, ada satu wajah yang bersinar lebih cerah dari biasanya.

Zahra.

Santri kelas dua aliyah, hafizah Qur’an yang ceria dan mudah bergaul. Semua orang mengenalnya sebagai gadis yang selalu tertawa paling keras setiap kali bercanda di serambi asrama, tapi juga yang paling khusyuk ketika melantunkan ayat. Ia bukan tipe santri yang pendiam; ia hidup dengan semangat yang menular.

Dan pagi itu, semangatnya sedang berlipat-lipat.

“Ran, Ale, kalian tahu nggak? Hari ini sambangan!” seru Zahra sambil melipat mukenanya yang baru saja dijemur.

Rani—teman sekamarnya yang halus dan lembut dalam berbicara—tersenyum kecil, “Tiap sambangan kamu semangat banget, Ra. Padahal baru dua minggu lalu juga disambang, kan?”

Zahra tertawa, lesung pipitnya muncul. “Iya, tapi kali ini beda. Nenek mau datang. Katanya mau bawain jenang jagung kesukaanku.”

Aleta, kakak kelas yang sedang menata jilbab di depan kaca, ikut menimpali, “Nenekmu itu yang sering kamu ceritain itu, ya? Yang suka nemenin kamu murojaah waktu kecil?”

Zahra mengangguk cepat, matanya berbinar. “Iya, Kak. Nenek itu orang paling sabar di dunia. Waktu aku kecil, setiap kali aku salah hafalan, beliau nggak pernah marah. Cuma bilang, ‘nggak apa-apa, Ra, yang penting terus diulang sampai hatimu hafal, bukan cuma kepalamu.’

Rani tersenyum tipis. “Kedengarannya beliau sangat menyayangimu.”

Zahra menghela napas kecil, menatap langit pondok yang biru muda. “Iya, Ran. Aku hafizah karena beliau. Dulu beliau yang bangunkan aku tiap subuh, yang nyuapin nasi waktu aku ngantuk saat murojaah. Kalau nanti aku lulus dan jadi penghafal Qur’an seutuhnya, aku mau kasih hadiah buat Nenek—aku mau bacain satu juz khusus untuk beliau setiap malam Jumat.”

Kata-katanya ringan, tapi ada ketulusan yang menetes di dalamnya.

Di kejauhan, suara Bu Hawa, Roisah Putri, terdengar tegas namun lembut, mengatur barisan santri. Pak Akom di halaman putra sibuk mengatur parkiran mobil wali santri yang mulai berdatangan. Pak Misqol terlihat memeriksa gerbang bersama Mbak Risa. Dari kantin, aroma gorengan buatan Mbak Qia dan Kang Bahrul menyebar, menandai bahwa sambangan benar-benar dimulai.

Pondok hari itu hidup dalam kebahagiaan yang sederhana.

Menjelang siang, deru mobil satu per satu masuk halaman. Santri-santri mulai bersorak kecil, berlarian menyambut keluarganya. Zahra ikut berdiri di depan asrama, melongok ke arah gerbang, matanya berbinar mencari wajah yang ia rindukan.

“Zahra!” suara lantang itu membuatnya berbalik.

Ayah Udin turun dari mobil, disusul Ibu Citra. Zahra berlari, memeluk keduanya erat-erat. Wajahnya berseri-seri. “Ayah, Ibu! Alhamdulillah, kalian datang. Tapi... mana Nenek?”

Ibu Citra diam sejenak, menelan ludah. Ayah menatapnya dengan mata yang dalam.

“Nenek nggak ikut, Zahra,” jawab Ayah akhirnya, pelan.

Zahra cemberut, tapi cepat tersenyum lagi. “Pasti karena capek, ya? Makanya nggak ikut? Ya sudah, nanti aku pulang pas liburan, aku bawain Nenek mukena baru.”

Ayah tidak menjawab. Ibu menunduk, wajahnya berusaha tersenyum meski matanya basah.

Setelah berbincang sebentar dengan Kyai Ihsan dan Neng Fifi, tiba-tiba Ayah berkata, “Zahra, siap-siap ya, Nak. Kita pulang sekarang.”

Zahra mengerutkan dahi. “Pulang? Sekarang? Tapi, Yah... ini masih sambangan. Aku belum izin, belum siap juga.”

Ayah mengusap kepala Zahra lembut. “Nanti Ayah yang urus izinnya. Kamu ikut dulu, ya. Ada hal penting di rumah.”

Nada itu berbeda. Ada sesuatu yang bergetar di ujung suaranya. Tapi Zahra tetap saja mengira semuanya baik-baik saja. Ia hanya merasa senang—akhirnya bisa pulang lebih cepat, bertemu dengan nenek tercinta.

Perjalanan ke rumah ditemani sore yang muram. Langit abu-abu. Pohon jati di sepanjang jalan tampak menunduk, seperti ikut mengantuk. Zahra duduk di kursi belakang, sibuk bercerita tentang hafalan barunya.

“Surah Al-Mulk udah lancar, Yah. Nanti Nenek pasti senang banget. Aku mau murojaah bareng beliau malam ini.”

Ayah hanya menatap ke depan. Ibu menggenggam tasnya erat. Suasana di mobil sepi.

Zahra tidak menyadari air mata kecil yang jatuh di pipi ibunya.

Ketika mobil berhenti di depan rumah, Zahra langsung membuka pintu dan turun tanpa menunggu. Ia berlari secepat mungkin ke dalam.

“Neeeek! Nenek, Zahra pulang!” serunya riang.

Namun langkahnya berhenti begitu memasuki ruang tengah.

Suara orang membaca Yasin bergema pelan. Bau bunga kamboja menyengat. Di tengah ruangan, ada tubuh terbujur kaku, terbungkus kain kafan putih, dengan selembar daun pandan di atas dada.

Zahra tertegun. “Ini siapa…?”

Ia mencari ke seluruh penjuru rumah. “Nenek? Nenek di mana?” suaranya gemetar.

Ibu Citra masuk beberapa detik kemudian, wajahnya basah air mata. Ia mendekat, memeluk bahu anaknya erat, lalu berbisik lirih di telinganya:

“Zahra… itu Nenek, Nak. Nenek sudah berpulang.”

Waktu berhenti.

Suara Yasin dari mulut para tetangga terasa jauh. Nafas Zahra tercekat. Ia menatap tubuh yang terbujur itu lama, seperti tak percaya. Lalu perlahan, langkahnya goyah, lututnya lemas.

“Neeek…” suaranya pecah, “Nenek… Zahra pulang, Nek… kenapa nggak nunggu Zahra dulu…”

Ia berlutut, memeluk tubuh itu erat, menangis sejadi-jadinya.

Air matanya jatuh membasahi kain kafan yang dingin, tapi di balik kain itu, wajah Nenek tampak tenang—seolah sedang tersenyum dalam tidur panjangnya.

Azan Magrib berkumandang dari kejauhan.

Zahra masih menangis, memeluk tubuh itu seperti anak kecil yang menolak kenyataan.

Malamnya, rumah itu sunyi.

Ayah duduk termenung di serambi, sementara Ibu sibuk menyiapkan tamu-tamu tahlilan. Zahra masih duduk di sisi jenazah yang kini sudah dibungkus rapi. Rani dan Aleta menelepon dari pondok. Suara Rani lembut seperti biasa, “Zahra… sabar, ya. Aku yakin Nenekmu bahagia di sisi Allah.”

Zahra hanya bisa menjawab pelan, “Ran, aku belum sempat bilang terima kasih. Belum sempat baca hafalanku di depannya.”

Malam itu, setelah semua orang tertidur, Zahra membuka mushafnya. Ia duduk di dekat kepala Nenek, dan mulai membaca Al-Mulk, surah yang baru ia hafal minggu lalu.

Suaranya bergetar, air matanya jatuh di setiap ayat.

“Alladzi khalaqal mauta wal hayata liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amala…”

Dialah yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kalian, siapa di antara kalian yang paling baik amalnya…

Zahra berhenti sejenak, menatap tubuh neneknya.

“Nenek… Zahra janji, setiap malam Jumat, Zahra akan baca surah ini untuk Nenek. Doakan Zahra kuat, ya.”

Angin malam berhembus pelan, mengelus wajahnya seperti tangan lembut yang dulu sering membenarkan kerudungnya.

Dan entah kenapa, Zahra merasa, di antara suara serangga dan desir dedaunan, ada bisikan lembut yang menjawab,

“Teruslah hafal, Nak… teruslah jadi cahaya…”

Beberapa minggu kemudian, Zahra kembali ke pondok. Kyai Ihsan menyambutnya dengan senyum lembut.

“Zahra, kehilangan itu memang pahit. Tapi ingat, santri yang sabar dalam duka, akan ditinggikan derajatnya. Jadikan air matamu doa, bukan penyesalan.”

Zahra mengangguk. Dan malam itu, di bawah cahaya lampu asrama, ia kembali membuka mushaf.

Suara hafalannya mengalun lembut, pelan tapi penuh makna.

Rani duduk di sebelahnya, mendengarkan diam-diam. Aleta sesekali menatap dari jauh, tersenyum bangga.
Dan di langit yang jauh di atas Bojonegoro, mungkin, seorang nenek tersenyum, mendengarkan cucunya membaca ayat-ayat yang ia tanam di hatinya sejak kecil.

TAMAT.

 

Comments

Popular posts from this blog

Terjemah Tausyeh Ibnu Qosim

Bisikan di Kamar Mandi

Sang Jenderal telah Menikah