Bayangan di Antara Kita
Bayangan di Antara Kita
M. Sabrar Fadhila & Rehan Shofil Fu’ad
Siswa SMP. Plus Maulana Malik Ibrahim Bojonegoro
Sejak kecil, Awan selalu merasa ada jarak antara
dirinya dan ibunya. Bukan jarak fisik—mereka tinggal di rumah yang sama, makan
di meja yang sama—tetapi jarak yang terasa di dalam hati.
Setiap pagi sebelum sekolah, Ibu selalu
membangunkan mereka berdua. Untuk Langit, anak sulungnya, Ibu menyiapkan
sarapan dengan telaten, bahkan menyelipkan bekal ekstra di tasnya. Sementara
Awan… kadang hanya mendapat roti tawar dengan olesan tipis mentega.
Itu bukan karena Ibu tidak memberinya makan, tapi
entah kenapa Awan selalu merasa perhatian itu lebih hangat, lebih istimewa,
saat tertuju pada Langit.
Di sekolah, Langit memang anak yang luar biasa.
Ia selalu juara kelas, pandai dalam olahraga, dan aktif dalam kegiatan masjid.
Hampir setiap rapat orang tua murid, Ibu pulang dengan senyum bangga.
“Kakakmu dapat nilai sempurna lagi, Wan,” katanya
suatu kali sambil memperlihatkan sertifikat.
Awan hanya mengangguk. Di kepalanya, satu
pertanyaan berputar: “Kalau aku dapat nilai bagus, apakah Ibu akan tersenyum
selebar itu?”
Masa kecil Awan diisi dengan momen-momen seperti
itu—kecil, tapi menumpuk. Saat ia jatuh dari sepeda, Ibu hanya berkata,
“Makanya hati-hati, Wan.”
Tapi saat Langit terkilir kakinya, Ibu sampai
menunda pekerjaannya untuk mengompres kaki kakaknya sambil duduk di tepi
ranjang.
Lama-lama, rasa iri itu menjadi seperti benih
yang tumbuh di tempat gelap. Awan tak pernah membicarakannya pada siapa pun. Ia
hanya menyimpannya, membiarkan akarnya merambat.
Malam itu, hujan turun deras. Angin membuat tirai
jendela berayun pelan. Awan duduk di kamarnya, menatap lampu redup yang
menggantung di langit-langit. Di luar, ia bisa mendengar suara pensil kakaknya
menggores kertas di meja belajar.
Langkahnya membawanya ke pintu kamar Langit. Di
sana, ia melihat kakaknya sibuk menulis, di sampingnya berderet hadiah dan
piagam yang Ibu letakkan minggu lalu.
Awan: “Kak… kenapa Ibu nggak pernah kasih aku
hadiah sebanyak itu?”
Langit: (menoleh, tersenyum tipis) “Karena kamu
belum berusaha sekeras itu, Wan.”
Kalimat itu seperti meneteskan bensin pada api
kecil yang selama ini bersemayam di hatinya. Ia mundur, kembali ke kamarnya. Di
meja, ada pisau lipat kecil—hadiah ulang tahunnya tahun lalu dari paman.
Di tengah suara hujan, bisikan itu muncul di
kepalanya: “Kalau Kakak nggak ada, semua perhatian Ibu akan jadi milikmu.”
Langkahnya kembali ke kamar Langit. Segalanya
terasa lambat, tapi juga cepat. Bayangan tubuhnya menutupi cahaya lampu di
meja. Sebuah gerakan singkat… dan teriakan tertahan memenuhi udara.
Langit terjatuh dari kursinya, matanya membulat
menatap adiknya. Tidak ada kata-kata keluar dari mulutnya—hanya napas yang
memburu, lalu pelan-pelan hilang.
Awan berdiri terpaku, baru sadar tangannya
berlumuran darah. Saat itu juga, semua bisikan yang tadi terdengar meyakinkan
berubah menjadi gema yang memekakkan telinga.
Teriakan Ibu memecah malam. Ia berlari dari ruang
tengah, matanya membesar melihat pemandangan itu. Tangannya menutup mulut, lalu
jatuh berlutut memeluk tubuh Langit.
Ibu: “Langit… bangun, Nak… bangun…”
Awan berdiri di sudut ruangan, tubuhnya bergetar.
Awan: “Aku cuma… mau Ibu sayang sama aku…”
Ibu menoleh, wajahnya basah oleh air mata.
Ibu: “Wan… sejak kalian lahir, Ibu tak pernah
membedakan. Ibu sayang sama kalian… sama besar. Kenapa kamu nggak percaya?”
Kata-kata itu menghantam Awan seperti badai.
Seluruh alasan, seluruh amarah, seluruh bisikan yang ia dengar… hancur begitu
saja. Tapi semuanya sudah terlambat.
Di luar, hujan terus turun, membasuh tanah,
membasuh atap rumah itu. Tapi tidak ada hujan yang cukup deras untuk membasuh
noda yang sudah ia buat malam itu.
Selesai.
Comments