Kerajaan di Balik Kabut
Kerajaan di Balik Kabut
M. Sabrar Fadhila & Rehan Shofil Fu’ad
Siswa SMP. Plus Maulana Malik Ibrahim Bojonegoro
Di kaki Gunung Lawu, ada sebuah desa kecil
bernama Desa Sumberjati. Letaknya terpencil, diapit hutan pinus dan kebun bambu
yang lebat. Rumah-rumah panggungnya berjajar rapi, dindingnya dari anyaman
bambu, atapnya dari seng yang sudah berkarat di beberapa bagian.
Warga desa hidup sederhana: bertani, beternak,
dan sebagian kecil berdagang di pasar. Tidak ada listrik yang menyala terang di
malam hari, hanya lampu minyak yang menggantung di depan rumah.
Meski tampak damai, desa ini menyimpan cerita
yang diwariskan turun-temurun. Orang-orang tua selalu berkata,
“Jangan pernah berjalan sendirian saat kabut
turun, apalagi di bulan Safar. Batas dunia kita dan dunia lain menjadi sangat
tipis.”
Banyak anak muda menganggapnya mitos untuk
menakut-nakuti. Tapi ada sebagian warga yang benar-benar percaya—terutama
mereka yang pernah kehilangan seseorang tanpa jejak.
……………………
Pak Rafi adalah seorang petani berusia empat
puluh tahun. Tubuhnya tegap, kulitnya legam terbakar matahari. Sehari-hari ia
bekerja di sawah, menanam singkong dan jagung. Ia tidak pernah terlalu
memikirkan cerita-cerita ghaib… sampai hari itu.
Sore itu, hujan deras baru saja berhenti. Udara
terasa berat, aroma tanah basah menguar dari segala arah. Pak Rafi memanggul
sekarung singkong di pundaknya. Jalan setapak menuju rumahnya licin, membuatnya
berjalan perlahan.
Saat ia melewati kebun bambu di ujung desa, kabut
tebal tiba-tiba turun begitu cepat, seperti gumpalan awan jatuh dari langit.
Pandangannya hanya beberapa meter ke depan.
Dari balik kabut, terdengar suara gamelan—merdu,
lembut, seolah dimainkan oleh puluhan penabuh yang sangat terlatih. Ada suara
sinden perempuan, tinggi namun halus, mengalun dengan bahasa yang tak ia
mengerti.
Pak Rafi berhenti. Bulunya meremang. Namun ada
sesuatu dalam musik itu yang membuat langkahnya tertarik maju. Ia merasa
seperti anak kecil yang mengikuti aroma kue dari dapur ibunya.
……………………
Cahaya keemasan muncul di antara pepohonan bambu.
Semakin ia dekati, semakin terang dan hangat, mengalahkan dinginnya kabut.
Tiba-tiba, kabut itu tersibak… dan di hadapannya
berdiri sebuah gerbang raksasa dari batu hitam. Tingginya mungkin sepuluh
meter, dihiasi ukiran rumit berbentuk naga, burung garuda, dan bunga teratai.
Ukirannya berkilau seperti baru dipahat, meski jelas ini bukan buatan zaman
sekarang.
Di balik gerbang, terbentang pemandangan yang tak
pernah ia lihat seumur hidup:
• Sebuah istana megah dengan atap bertingkat, ujungnya melengkung
indah seperti sayap burung.
• Taman luas dengan bunga berwarna biru, ungu, dan emas.
• Air sungai jernih yang berkilau seperti kaca cair, mengalir
mengitari istana.
Yang paling membuatnya terperangah adalah pasukan
yang berbaris di halaman istana—mereka mengenakan baju zirah keemasan, membawa
tombak, tapi tubuh mereka memancarkan cahaya samar. Kaki mereka tidak menyentuh
tanah.
……………………
Ketika Pak Rafi terpaku memandangi istana itu,
seseorang muncul di hadapannya. Lelaki tinggi, wajahnya tegas, kulitnya bersih,
matanya seperti memandang sekaligus menembus dirinya. Ia mengenakan jubah hijau
panjang, sorban putih, dan di pinggangnya terselip keris berukir emas.
“Kau manusia… bagaimana bisa kau masuk ke wilayah
ini?” suaranya berat, namun tidak marah.
Pak Rafi menelan ludah, suaranya gemetar.
“Saya… hanya mengikuti cahaya dan suara. Mohon
maaf, saya tidak berniat mengganggu.”
Lelaki itu menatapnya lama.
“Tidak semua manusia bisa melihat kerajaan kami.
Hanya yang diizinkan… atau yang terpilih. Tapi ingat, manusia tidak boleh
tinggal di sini. Dunia kita berbeda, hukum kita berbeda.”
Pak Rafi memberanikan diri bertanya,
“Apakah ini… kerajaan jin?”
Sang penjaga tersenyum tipis.
“Kami adalah kaum ghaib yang memegang amanah
sejak ratusan tahun. Bukan semua jin itu jahat, tapi bukan semua pula
bersahabat dengan manusia. Pergilah sebelum batas waktu tertutup.”
……………………
Sebelum Pak Rafi sempat menjawab, sang penjaga
mengangkat tangannya. Seketika kabut kembali menelan pandangan. Suara gamelan
menghilang, cahaya padam.
Saat kabut menghilang, ia sudah kembali berdiri
di kebun bambu yang sama—sunyi, dingin, tanpa tanda-tanda kerajaan megah yang
baru saja ia lihat.
Tapi di tangannya, ia menggenggam daun biru
bercahaya. Tidak layu, tidak basah, dan aromanya harum seperti bunga melati.
……………………
Malam itu, Pak Rafi mencoba menceritakan
pengalamannya pada istrinya. Tapi setiap kali ia mencoba menyebut kata
“kerajaan” atau “istana”, lidahnya seperti kelu. Kata-kata yang keluar berubah
menjadi kalimat lain yang tidak ia maksudkan.
Akhirnya, ia hanya berkata pelan,
“Di dunia ini… banyak yang tak terlihat. Jangan
pernah meremehkannya.”
Sejak hari itu, Pak Rafi lebih rajin shalat dan
sering membaca Al-Qur’an setelah subuh. Ia merasa, apa yang ia lihat adalah
peringatan, bahwa manusia hanya tamu sementara di bumi—dan ada alam lain yang
berjalan berdampingan dengan kita, namun tidak untuk dimasuki tanpa izin.
Dan daun biru itu… sampai sekarang masih
tersimpan di kotak kayu di kamarnya, tidak pernah berubah warna.
Selesai.
Comments