Mangkuk yang Tidak Pernah Kosong

 

Mangkuk yang Tidak Pernah Kosong

 M. Sabrar Fadhila & Rehan Shofil Fu’ad

Siswa SMP. Plus Maulana Malik Ibrahim Bojonegoro

 

Perempatan Jalan Ngemplak sore itu lengang. Hanya satu benda yang mencolok di sana: sebuah gerobak mie ayam tua, catnya terkelupas, kaca depannya buram, dan papan namanya nyaris lepas. Anehnya, gerobak itu selalu ada di tempat yang sama sejak dulu, tapi tak ada yang berjualan. Warga bilang, kalau kamu membuka tutup panci kuahnya saat malam Jumat Kliwon, kamu akan mencium aroma mie ayam segar… dan suara seseorang memanggil pelan dari dalam.

……………………

Aku, Raka, pendatang baru di desa ini. Orangtuaku pindah karena urusan pekerjaan. Awalnya aku tak begitu tertarik dengan cerita-cerita kampung. Tapi suatu malam, aku melihat gerobak itu dari jauh. Bulan separuh, jalan sepi, tapi aku bersumpah melihat asap tipis keluar dari panci besar di gerobak.

Besoknya, aku tanya ke tetangga sebelah rumah, Pak Mardi.

“Oh, itu gerobaknya Pak Sarman,” katanya lirih. “Dulu terkenal sekali mie ayamnya. Tapi sejak dia hilang, nggak ada yang berani mindahin. Banyak yang percaya… ada tumbal di situ.”

Aku kira itu cuma cerita nakut-nakutin anak kecil. Tapi rasa penasaran membuatku mencari tahu lebih jauh. Dan dari cerita orang-orang tua, aku mulai mengenal nama Bima.

……………………

Bima adalah anak semata wayang Pak Sarman, pedagang mie ayam yang rajin tapi rezekinya pas-pasan. Ibunya sakit-sakitan, dan pengobatan menghabiskan semua tabungan. Setiap hari, Bima membantu ayahnya mendorong gerobak, mencuci mangkuk, bahkan ikut melayani pembeli.

Namun diam-diam, Pak Sarman mulai putus asa. Suatu malam, ia mendatangi seorang dukun tua di ujung desa. Dukun itu memberi tawaran: pesugihan. Awalnya, tumbalnya ringan—seekor ayam hitam tiap malam Jumat Kliwon. Benar saja, dagangan laris, rezeki mengalir. Tapi setahun kemudian, permintaan berubah.

“Kalau mau tetap laris,” kata dukun itu, “kau harus beri tumbal manusia. Darah keluarga lebih manjur.”

Pak Sarman pulang dengan wajah pucat. Ia berhari-hari tak tidur. Sampai suatu malam, ia memanggil Bima di kamar.

“Bim… kalau Bapak minta tolong… kamu mau bantu?” tanya ayahnya.

Bima menatap ayahnya yang matanya berkaca-kaca. “Mau, Pak.”

“Kamu nggak tanya dulu mau bantu apa?”

“Bima percaya Bapak nggak akan nyakitin Bima,” jawabnya polos.

Pak Sarman menunduk. Kata-kata itu menusuk, tapi ia sudah terlalu dalam terjerat.

……………………

Cerita itu kudapat dari beberapa orang. Tapi ada satu hal yang belum jelas: bagaimana sebenarnya Bima menghilang? Aku mulai mengunjungi rumah tua yang katanya dulu ditinggali keluarga itu. Kosong. Penuh debu. Di meja dapur, aku menemukan mangkuk mie ayam retak—di dalamnya masih ada bekas kuah yang sudah mengering seperti noda kecokelatan.

Malamnya, aku iseng pergi ke perempatan, membawa senter. Aku berdiri di depan gerobak tua itu. Entah kenapa, panci kuahnya terasa hangat. Saat kubuka tutupnya, aroma kaldu ayam langsung menyeruak—terlalu nyata untuk sesuatu yang sudah bertahun-tahun tak dipakai.

Dan di sela uap panas itu, ada suara lirih:

“Panas, Pak… jangan lama-lama…”

Aku langsung menutup panci itu, keringat dingin mengalir di leher.

……………………

Malam Jumat Kliwon itu, Bima diajak ke perempatan. Tidak ada gerobak, hanya tikar hitam, dupa menyala, dan lelaki berpakaian hitam menunggu di sana.

Bima duduk di tengah tikar. Lelaki itu mulai melafalkan mantra. Angin bertiup kencang, lampu jalan mati satu per satu. Pak Sarman menutup mata, tak sanggup melihat.

Sampai… senyap.

Ketika ia membuka mata, tikar itu kosong. Tidak ada Bima, tidak ada suara. Hanya panci kuah mie ayam yang entah dari mana muncul di hadapannya—panas mengepul, dan di dalamnya, ada sehelai rambut anak kecil.

……………………

Setelah malam itu, aku tak pernah mendekati gerobak itu lagi. Tapi setiap kali aku lewat perempatan, aku selalu merasa ada sepasang mata memperhatikan dari balik kaca buram gerobak.

Warga bilang, selama gerobak itu ada di situ, usaha mie ayam siapa pun di desa ini tak akan pernah laris—karena semua “pelanggan” sudah milik pemiliknya yang lama. Dan selama mangkuk itu tetap penuh di dunia sana, Bima akan terus duduk di sisi perempatan… menunggu ayahnya datang menjemput.

Selesai.

Comments

Popular posts from this blog

Terjemah Tausyeh Ibnu Qosim

Bisikan di Kamar Mandi

Sang Jenderal telah Menikah