Penjaga Tak Kasat Mata di Sosrodilogo
Penjaga Tak Kasat Mata di Sosrodilogo
M. Sabrar Fadhila & Rehan Shofil Fu’ad
Siswa SMP. Plus Maulana Malik Ibrahim Bojonegoro
Bagi warga Bojonegoro, Jembatan Sosrodilogo
adalah nadi kota. Panjangnya membentang gagah di atas Bengawan Solo,
menghubungkan dua sisi yang dulunya hanya dihubungkan rakit sederhana.
Namun, di balik konstruksi baja dan beton, ada
satu hal yang tetap hidup dari masa lalu: cerita tentang “penjaga tak kasat
mata”.
Konon, jauh sebelum jembatan ini dibangun, daerah
itu menjadi jalur strategis perdagangan kayu jati dan hasil bumi.
Di masa Mataram, seorang prajurit bernama Ki
Sosro dilabuhkan tugas menjaga titik penyeberangan.
Ia dikenal setia, tidak pernah meninggalkan
posnya meski perang berkecamuk.
Namun, suatu malam saat air Bengawan meluap dan
perahu-perahu karam, Ki Sosro ikut terseret arus ketika menolong warga.
Mayatnya tak pernah ditemukan. Orang-orang
percaya, arwahnya tetap berada di sana, menjaga jalur itu agar orang yang
melintas aman—asal mereka menghormati tempat itu.
Darma, seorang sopir truk pasir, tahu kisah ini
dari kakeknya. Waktu kecil, ia sering duduk di pangkuan sang kakek sambil
mendengarkan cerita tentang sosok tinggi bersorban hitam yang kadang terlihat
di ujung jembatan saat fajar atau tengah malam.
“Kalau lewat sana, jangan bicara sembarangan.
Jangan buang sampah ke sungai. Salam dulu dalam hati, biar nggak ganggu
penjaganya,” pesan kakeknya.
Suatu malam di musim hujan, Darma mendapat
pesanan pasir yang harus diantar ke proyek di kota sebelum subuh. Hujan baru
saja reda, tapi Bengawan Solo sedang tinggi, airnya keruh, berputar-putar di
bawah jembatan. Lampu jalan sebagian mati, membuat bayangan baja jembatan
seperti rangka raksasa di tengah kabut.
Darma menyalakan radio kecil di kabin, mencoba
mengusir sepi. Tapi ketika truknya memasuki jembatan, ia melihat sesuatu di
spion: bayangan hitam tinggi, berdiri tegak di pagar jembatan sisi kiri.
Bayangan itu tidak bergerak, tapi matanya memantulkan cahaya lampu seperti kaca
basah.
Ia mencoba fokus, tapi di tengah jembatan,
mesinnya tiba-tiba mati. Lampu truk padam. Radio berhenti. Hanya suara Bengawan
yang mengalir deras, diselingi bunyi angin yang menggesek tiang baja.
Lalu terdengar suara berat namun tenang, seakan
berasal dari segala arah:
“Jaga ucapanmu… jangan langgar batas.”
Darma merinding. Ia menoleh ke kanan—kosong. Ke
kiri—kosong. Tapi rasa seperti sedang diawasi begitu kuat, sampai-sampai
napasnya menjadi pendek.
Ingat pesan kakeknya, Darma mengucap salam pelan
dan membaca doa. Detik berikutnya, lampu truk menyala kembali, mesin hidup, dan
ia bisa melanjutkan perjalanan.
Keesokan harinya, ia menceritakan kejadian itu di
warung kopi dekat pasar. Beberapa orang hanya tersenyum, tapi seorang nelayan
tua menanggapi serius.
“Berarti kamu diingatkan. Banyak yang sombong
kalau lewat sini. Ada yang buang puntung rokok ke sungai, ada yang
teriak-teriak tengah malam. Besoknya, ada saja musibah—ban pecah di tengah
jembatan, atau malah nyemplung ke Bengawan.”
Nelayan itu lalu bercerita tentang kejadian lima
tahun lalu, saat seorang pemuda mengendarai motor sambil memutar musik keras
dan tertawa-tawa di tengah malam. Di tengah jembatan, ia melihat sosok tinggi
bersorban hitam berdiri di jalurnya. Ia banting setang ke kiri… dan terjun ke
sungai. Mayatnya ditemukan tiga hari kemudian.
Darma mendengarkan dengan saksama. Sejak malam
itu, setiap kali melintas di Sosrodilogo, ia selalu menundukkan sedikit kepala,
mengucap salam dalam hati.
Bagi sebagian orang, legenda penjaga itu hanyalah
mitos kampung. Tapi bagi Darma, ia tahu satu hal pasti: di atas Bengawan Solo,
di antara hembusan angin dan deru air, ada mata yang selalu mengawasi—bukan
untuk menakut-nakuti, tapi untuk memastikan manusia tak lupa pada adabnya.
Dan selama Bengawan Solo terus mengalir, legenda
itu akan tetap hidup.
Selesai.
Comments