Rio yang Tak Pernah Membalas
Rio yang Tak Pernah Membalas
Di kelas 8B SMP Nusantara, hampir semua siswa
punya ciri khas. Ada yang selalu jadi juara kelas, ada yang jago bola, ada yang
selalu jadi pusat perhatian karena tingkah lucunya. Rio… tidak masuk kategori
mana pun. Dia duduk di pojok dekat jendela, biasanya dengan buku tulis yang
penuh coretan kecil di sudut halaman. Wajahnya selalu datar, jarang bicara
kecuali diminta guru.
Di rumah, Rio tinggal bersama ibunya yang
menjahit pakaian tetangga untuk mencukupi kebutuhan. Ayahnya sudah lama
meninggal. Sebelum meninggal, ayahnya pernah berpesan sambil memegang bahu Rio,
“Nak, kalau ada orang jahat sama kamu, jangan
balas dengan kejahatan. Biar Allah yang membalas. Tapi ingat, sabar itu bukan
berarti diam saja. Tetap jaga diri, ya.”
Rio mengingat kata-kata itu, seperti catatan yang
ia simpan di hatinya.
Namun, di sekolah, prinsip itu sulit dijalani.
Hampir setiap hari, ada saja ulah Bima, Dani, dan Riko—trio yang terkenal
bandel dan suka bikin ribut. Kadang mereka menyembunyikan sepatu Rio di
belakang WC sekolah, kadang mengoleskan lem di pegangan tasnya, kadang menarik
kerah bajunya sambil tertawa.
Pernah, suatu siang di kantin, Bima tiba-tiba
menarik kotak bekal Rio.
Bima: “Eh, liat nih! Bekalnya Rio. Isinya pasti…
roti tawar sama gula lagi.”
Riko: “Kaya orang kampung yang mau piknik di
sawah.”
Dani: “Hahaha, mungkin roti itu udah dia simpen
seminggu.”
Tawa mereka memenuhi kantin. Rio hanya diam,
menunduk, berusaha menelan rasa panas di dadanya. Teman-teman lain hanya
menatap sekilas lalu melanjutkan makan.
Hari demi hari, perlakuan itu semakin menjadi.
Rio kadang pulang dengan baju lusuh atau buku pelajaran yang kusut. Ibunya
sempat bertanya, tapi Rio selalu menjawab,
“Tadi kehujanan, Bu.”
atau
“Buku ketindihan tas temen.”
Ia tidak ingin membuat ibunya khawatir.
Suatu Jumat pagi, sekolah mengadakan kerja bakti
membersihkan musholla. Semua siswa membawa peralatan masing-masing. Udara
segar, tapi suasana agak ribut karena sebagian anak malah bercanda sambil
menyapu. Trio bandel itu sibuk mendorong-dorong gerobak rumput sambil tertawa.
Rio memilih menyapu halaman belakang musholla,
tempat rumputnya sudah tinggi. Ia melihat pecahan kaca kecil di antara rumput,
lalu mengambilnya dan membuang ke tempat sampah. Tapi beberapa meter dari situ,
ia melihat Bima berjalan mundur sambil bercanda, tidak melihat ke belakang.
Kakinya menginjak pecahan kaca yang belum sempat dibersihkan.
Teriakan Bima langsung terdengar.
Bima: “Aduh! Sakit banget!”
Darah mulai keluar dari telapak kakinya. Dani dan
Riko panik, tapi mereka tidak tahu harus berbuat apa. Anak-anak lain hanya
saling pandang.
Tanpa pikir panjang, Rio berlari ke dalam
musholla, mengambil kotak P3K, lalu kembali ke Bima.
Rio: “Duduk dulu, biar aku bersihin.”
Bima: “Ngg… nggak usah, nanti—”
Rio: “Kalau nggak dibersihin, lukanya bisa
infeksi.”
Rio berjongkok, membersihkan luka itu dengan
kapas dan cairan antiseptik. Tangannya sedikit gemetar, tapi gerakannya
hati-hati. Setelah membalut luka dengan perban, ia berkata pelan,
“Jangan banyak gerak dulu, nanti makin parah.”
Bima terdiam. Dani dan Riko juga terdiam. Mereka
saling pandang, seolah baru menyadari sesuatu.
Sejak hari itu, perlakuan mereka berubah. Tidak
ada lagi tas Rio yang disembunyikan, tidak ada lagi ejekan di kantin. Bahkan,
suatu hari Bima duduk di bangku sebelah Rio saat pelajaran matematika.
Bima: “Eh… kalau soal ini, caranya gimana?”
Rio hanya menunjuk langkah-langkah di buku, tanpa
banyak bicara. Tapi di matanya ada sedikit cahaya—cahaya yang lahir dari
keyakinan bahwa sabar, bila ditemani kebaikan, mampu mengubah hati orang.
Di rumah, Rio tidak bercerita pada ibunya tentang
perubahan itu. Ia hanya membantu merapikan kain jahitan sambil tersenyum kecil.
Dalam hatinya, ia tahu, ayahnya pasti akan bangga.
Selesai.
Comments