Rumah yang Menelan Suara

 

Rumah yang Menelan Suara

  M. Sabrar Fadhila & Rehan Shofil Fu’ad

Siswa SMP. Plus Maulana Malik Ibrahim Bojonegoro


Di ujung gang kecil di Desa Karangjati, berdiri sebuah rumah tua yang sudah lama tak berpenghuni. Cat temboknya terkelupas seperti kulit kering, jendela-jendelanya retak, dan atapnya dipenuhi lumut tebal yang menggantung seperti rambut tua. Warga menyebutnya Rumah Prawiro—mengambil nama pemilik terakhirnya yang hilang entah ke mana.

Dari luar, rumah itu seperti bangunan biasa yang hanya dimakan usia. Tapi bagi warga desa, rumah itu adalah sesuatu yang lain—ia punya mata, telinga, dan mulut sendiri. Mereka percaya, rumah itu “memanggil” orang-orang yang kurang hati-hati, lalu menyimpannya di dalam, tak pernah mengembalikan.

……………………

Sore itu, udara terasa lengket oleh kelembapan setelah hujan siang. Anak-anak bermain di gang dengan tawa yang memantul di dinding rumah. Rafi, bocah sepuluh tahun yang energik dan tak kenal takut, sibuk menendang bola plastiknya sendirian.

Teman-temannya sudah pulang karena magrib sebentar lagi, tapi Rafi belum puas. Ia menendang bola keras-keras—terlalu keras—hingga bola itu memantul ke pagar berkarat rumah Prawiro. Bola itu berguling, melewati celah pagar yang terbuka, lalu berhenti di teras yang dinaungi pintu tua.

Rafi berdiri di depan pagar, menatap bola itu. Angin sore berembus pelan, tapi entah kenapa, terasa seperti ada yang memanggilnya pelan-pelan.

“Ambil sebentar aja… terus pulang,” bisiknya pada diri sendiri.

Ia melangkah masuk, kakinya menjejak tanah lembap yang dipenuhi daun jati kering. Pintu rumah Prawiro terbuka sedikit, seperti sengaja menunggu. Rafi mendorongnya. Engsel berdecit panjang, udara dingin menyergap, dan bau lembap yang tua memenuhi paru-parunya.

……………………

Seorang ibu di seberang jalan—Bu Marni—melihat Rafi masuk. Ia hendak memanggil, tapi pikirnya, bocah itu pasti cuma ambil bola lalu keluar.

Satu menit… sunyi.

Lima menit… tetap sunyi.

Sepuluh menit… masih tak ada tanda Rafi.

Bu Marni mulai gelisah. Ia memanggil tetangga terdekat.

“Mas, itu anak Rafi tadi masuk ke rumah Prawiro. Kok nggak keluar-keluar?”

Dalam waktu singkat, tiga orang pria datang membawa senter. Mereka mengetuk pintu sambil memanggil,

“Rafi! Nak, keluar! Magrib sebentar lagi!”

Tak ada jawaban. Mereka mencoba mendorong pintu—anehnya, pintu itu sekarang terkunci rapat dari dalam. Padahal tadi terbuka.

……………………

Orang-orang memanggil lebih banyak warga. Seorang bapak membawa linggis, dan butuh hampir lima belas menit untuk mendobrak pintu itu. Begitu terbuka, mereka masuk dengan hati-hati.

Sinar senter menembus debu tebal di udara. Lantai dipenuhi sarang laba-laba, dan… kosong. Tak ada Rafi. Tak ada bola. Tak ada jejak kaki sama sekali di debu, padahal semua yakin Rafi baru saja masuk.

Salah satu pria bergidik. “Nggak mungkin… kita lihat sendiri dia masuk.”

……………………

Malam itu, warga berkumpul di musholla. Di antara mereka, ada Pak Wiryo, lelaki tua yang sudah puluhan tahun tinggal di Karangjati. Ia duduk bersandar di tiang, lalu berkata pelan,

“Kalau kalian mau tahu… rumah itu memang nggak suka didatangi tanpa izin.”

Orang-orang menatapnya, menunggu kelanjutan cerita.

“Dulu, sebelum kosong, rumah itu milik Prawiro. Dia orang kaya, punya banyak tanah. Tapi sifatnya keras, dan katanya… dia menyimpan sesuatu di rumah itu. Bukan emas atau perhiasan—tapi azimat dari zaman penjajahan.”

Menurut cerita, azimat itu konon bisa melindungi rumah dan penghuninya dari gangguan, tapi ada syarat: rumah itu harus selalu hidup, harus selalu ada orang di dalamnya. Jika rumah itu kosong, azimat akan menarik jiwa yang lewat untuk mengisinya.

Ketika Prawiro meninggal secara misterius, keluarganya pergi dan rumah itu kosong. Sejak itu, beberapa orang pernah menghilang di sana. Semuanya anak-anak. Semuanya terjadi menjelang magrib.

……………………

Pencarian Rafi dilakukan sampai tengah malam. Polisi dipanggil, anjing pelacak dikerahkan, tapi jejaknya berhenti tepat di teras rumah.

Setiap azan dikumandangkan, nama Rafi selalu disebut, berharap ia mendengar dari tempat entah di mana. Tapi hingga bertahun-tahun kemudian, ia tak pernah kembali.

Rumah Prawiro tetap berdiri di ujung gang, dengan pintu yang kadang terbuka sedikit pada sore hari, seolah mengundang.

Dan bagi warga Karangjati, pesan itu jelas: jangan biarkan anak-anak bermain di dekat rumah yang menelan suara.

Comments

Popular posts from this blog

Terjemah Tausyeh Ibnu Qosim

Bisikan di Kamar Mandi

Sang Jenderal telah Menikah