Sepatu Impian untuk Aira

 

Sepatu Impian untuk Aira

 M. Sabrar Fadhila & Rehan Shofil Fu’ad

Siswa SMP. Plus Maulana Malik Ibrahim Bojonegoro

 

Jam lima pagi di Jakarta selalu punya suasana yang berbeda. Jalanan belum ramai, udara masih dingin, dan lampu-lampu jalan memancarkan cahaya kuning pucat. Di sebuah kontrakan sempit di pinggir kota, Pak Hadi sudah duduk di tepi ranjang, menatap jaket ojek online yang tergantung di dinding. Warnanya sudah mulai pudar, resletingnya agak macet, tapi itulah pelindungnya dari panas, hujan, dan debu jalanan.

Di ruang tengah, suara langkah kecil terdengar. Aira, putri semata wayangnya, keluar sambil mengucek mata. Rambutnya berantakan, tapi senyum tipisnya selalu memberi semangat.

“Ayah berangkat lagi pagi-pagi?” tanyanya, duduk di pangkuan.

“Iya, Nak. Kalau pagi, rejekinya lebih banyak,” jawab Pak Hadi sambil mencium kening putrinya.

Aira tidak pernah minta banyak. Tapi beberapa minggu lalu, ia bilang di sekolah teman-temannya punya sepatu olahraga baru, dan ia ingin punya yang sama. Bukan untuk pamer, tapi sepatunya sekarang sudah bolong di ujung, dan solnya mengelupas. Pak Hadi hanya mengangguk waktu itu, menyembunyikan fakta bahwa uang di dompetnya bahkan belum cukup untuk belanja seminggu.

……………………

Jam 05.15, Pak Hadi memutar kunci motor tua. Suara mesin terdengar kasar, knalpotnya berasap tipis. Ia melaju menyusuri jalan sempit, menembus embun pagi.

Di lampu merah dekat pasar, ia berhenti. Di sebelahnya ada Bang Roni, sesama driver yang merokok sambil menunggu orderan.

“Pagi banget, Had.”

“Iya, biar dapat penumpang pertama,” jawab Pak Hadi sambil tersenyum.

“Buat nabung beli apa lagi nih? Kemarin kan buat bayar kontrakan.”

“Buat sepatu Aira,” jawabnya pelan.

Bang Roni hanya mengangguk, lalu mereka kembali melaju ke arah masing-masing.

Siang hari, matahari terasa seperti menempel di kepala. Keringat mengalir di punggungnya, bajunya basah. Terkadang ia hanya minum air putih dan menahan lapar, karena setiap rupiah yang ia hemat bisa menambah isi kaleng bekas biskuit di bawah ranjangnya.

Malam hari, hujan deras memaksa Pak Hadi tetap di jalan. Helmnya basah kuyup, jaketnya berat oleh air, tapi ia tidak berhenti. Ada pesanan makanan yang harus diantar ke pelanggan di apartemen mewah. Begitu orderan selesai, ia hanya mendapat tips lima ribu rupiah. Kecil, tapi bagi Pak Hadi, itu satu langkah lebih dekat ke sepatu impian Aira.

……………………

Setiap malam, setelah pulang, ia menghitung uang di meja makan.

“Dua puluh ribu… lima puluh ribu… seratus…”

Uang untuk makan dan kebutuhan rumah disisihkan. Sisanya, berapapun itu, masuk ke kaleng biskuit di bawah ranjang.

Kadang, rasa lelah membuatnya ingin menyerah. Pernah suatu malam, hujan tak berhenti dan motornya mogok di tengah jalan. Ia mendorongnya sejauh hampir dua kilometer ke bengkel. Saat duduk di kursi bengkel yang reyot, ia menutup mata dan bertanya pada diri sendiri:

“Apa sepatu ini benar-benar sepadan dengan semua ini?”

Tapi setiap kali pulang dan melihat Aira tidur nyenyak, wajahnya seperti jawaban paling jelas.

……………………

Butuh dua bulan penuh untuk mengumpulkan cukup uang. Hari itu, ia sengaja pulang lebih awal. Di tangannya, kantong plastik putih dari toko sepatu di pusat kota.

Aira sedang mengerjakan PR ketika ayahnya masuk.

“Aira… sini, Ayah punya sesuatu,” katanya sambil tersenyum.

Aira membuka kantong itu, matanya membesar.

“Ya Allah… Ayah! Ini sepatu yang Aira mau!” teriaknya sambil memeluk erat sang ayah.

Pak Hadi mengusap kepala putrinya. “Ayah cuma ingin lihat kamu bahagia, Nak. Itu saja cukup.”

……………………

Keesokan harinya, Aira berangkat sekolah dengan sepatu barunya. Ia berjalan pelan, takut sepatu itu kotor. Sampai di gerbang, ia menoleh, melihat ayahnya berdiri di pinggir jalan dengan motor tuanya.

“Ayah!” teriaknya. “Aira janji… nanti kalau besar, Aira gantian beliin Ayah sepatu!”

Pak Hadi tertawa kecil. “Ayah nggak butuh sepatu, Nak. Ayah cuma butuh kamu selalu ingat, semua yang Ayah lakukan, Ayah lakukan karena cinta.”

Motor itu pun melaju, membelah keramaian pagi. Dan entah kenapa, semua rasa lelah yang menumpuk di punggungnya berubah jadi rasa syukur yang hangat.

Selesai.

Comments

Popular posts from this blog

Terjemah Tausyeh Ibnu Qosim

Bisikan di Kamar Mandi

Sang Jenderal telah Menikah