Sepotong Rezeki untuk Si Belang
Sepotong Rezeki untuk Si Belang
Siswa SMP. Plus Maulana Malik Ibrahim Bojonegoro
Pagi itu, awan kelabu menggantung rendah di
langit Jakarta. Jalanan gang dipenuhi genangan air sisa hujan semalam. Bau
tanah basah bercampur dengan aroma gorengan dari warung ujung gang. Di tengah
udara dingin yang menusuk, seekor kucing kecil berbulu belang duduk meringkuk di
sudut trotoar.
Bulunya kotor, penuh lumpur, dan sebagian rontok.
Matanya yang bulat tampak sayu, seolah sudah kehilangan cahaya kehidupan. Ia
berjalan pelan, langkahnya gontai. Kadang berhenti untuk mencium kantong
plastik yang dibawa pejalan kaki, berharap ada remah nasi atau potongan ikan
yang jatuh. Tapi berkali-kali ia diusir.
“Hus! Pergi sana!”
“Jangan deket-deket, najis!”
Si Belang sudah terbiasa dengan hardikan itu. Ia
hanya menunduk dan pergi, menahan rasa lapar yang sudah membakar perutnya sejak
kemarin siang.
……………………
Dulu, Si Belang bukanlah kucing liar. Ia lahir di
belakang sebuah warung makan sederhana, bersama dua ekor saudaranya. Ibunya
selalu berburu sisa nasi dan ikan dari tempat sampah untuk mereka. Namun, suatu
malam, ibunya tertabrak motor saat menyeberang jalan. Sejak saat itu, Si Belang
harus bertahan hidup sendirian.
Kedua saudaranya hilang entah ke mana, mungkin
diambil orang, mungkin juga tak selamat. Si Belang memilih bertahan di sekitar
gang ini, berharap ada yang memberinya makan. Tapi di sini, orang lebih sering
menendang daripada mengelus.
……………………
Hari itu, ia sudah mencari makan hampir tiga jam,
dari ujung gang sampai ke pinggir pasar kecil. Semua tempat yang ia datangi tak
memberi hasil. Ia menemukan tulang ayam, tapi sudah kering dan berdebu. Ia
mencoba menjilatnya, tapi hanya rasa pasir yang terasa di lidahnya.
Perutnya berbunyi keras. Kakinya yang mungil
mulai goyah. Ia lalu berhenti di depan sebuah rumah tua bercat putih, duduk di
atas keset yang basah. Hujan gerimis mulai turun, membuat bulunya semakin basah
dan berat.
Di titik itu, Si Belang hampir menyerah. Ia
memejamkan mata, mencoba tidur untuk mengusir lapar, walau tubuhnya gemetar.
……………………
Pintu rumah tua itu berderit terbuka. Keluar
seorang ibu paruh baya, mengenakan daster sederhana dan kerudung lusuh. Ia
dikenal di kampung sebagai Bu Siti, seorang janda yang hidup dari berjualan
gorengan di depan rumah. Orang-orang sering bilang, meskipun hidup pas-pasan,
Bu Siti tak pernah pelit berbagi.
Di tangannya ada piring berisi nasi putih dan
potongan ikan goreng. Awalnya, makanan itu ia sisihkan untuk makan siang.
Namun, pandangannya tertuju pada kucing kecil di kesetnya.
Bu Siti mendekat dan berjongkok.
“Astaghfirullah… kamu belum makan ya, Nak?”
katanya lembut, seolah berbicara pada anak kecil.
……………………
Ia meletakkan piring itu di depan kucing. Si
Belang awalnya hanya menatap, seperti tak percaya bahwa makanan itu benar-benar
untuknya. Bau ikan goreng hangat membuat air liurnya menetes. Perlahan, ia
maju, menjilat nasi, lalu mencabik sedikit daging ikan.
Begitu mencicipinya, ia langsung makan lahap,
tanpa henti. Nafasnya terengah, tapi ia terus mengunyah, seolah takut makanan
itu akan hilang kalau ia berhenti.
Bu Siti tersenyum, lalu mengelus kepala kucing
itu.
“Makan yang banyak, ya. Rezeki itu nggak cuma
buat manusia. Tuhan juga kirim rezeki buat kamu.”
……………………
Seorang tetangga, Bu Yayah, lewat sambil membawa
belanjaan. Ia melirik Bu Siti yang sedang memberi makan kucing jalanan.
“Bu Siti, mending makanan itu buat manusia, bukan
kucing liar. Nanti dia bawa penyakit,” katanya ketus.
Bu Siti hanya tersenyum tipis.
“Kalau saya kasih makan dia, insyaAllah nggak
rugi, Bu. Rezeki itu milik Allah, dan siapa pun berhak merasakannya.”
Si Belang tak mengerti pembicaraan itu. Yang ia
tahu, perutnya mulai terasa hangat dan kenyang.
……………………
Setelah piring itu kosong, Si Belang duduk di
dekat kaki Bu Siti. Ia menggosokkan kepalanya ke kain rok ibu itu, seolah
mengucapkan “terima kasih”.
Bu Siti menghela napas, lalu mengangkat tubuh
kecil itu ke pelukannya.
“Mulai hari ini, kamu tinggal di sini saja. Nggak
usah keliling jalan lagi nyari makan.”
Kucing itu meringkuk, matanya setengah terpejam.
Di tengah hujan gerimis, ia merasakan hangat yang tak pernah ia rasakan
sebelumnya. Untuk pertama kalinya sejak ibunya tiada, ia merasa aman.
……………………
Sejak hari itu, Si Belang selalu duduk di depan
warung gorengan Bu Siti, menyambut pembeli dengan tatapan polosnya. Orang-orang
yang dulu menendangnya, kini mulai tersenyum saat melihatnya.
Di dunia yang kadang keras dan dingin, sepotong
rezeki dan seulas kasih sayang bisa menjadi keajaiban yang menyelamatkan nyawa.
Selesai.
Comments