Study Tour Paling Menegangkan di Gunung Salak
Study Tour Paling Menegangkan di
Gunung Salak
Dari semua ide study tour yang pernah ada, ini
yang paling aneh. Tahun lalu kami ke kebun teh, aman. Dua tahun lalu ke museum,
adem. Tapi tahun ini, entah kenapa, guru IPS kami—Pak Taufik—memutuskan kami
harus naik Gunung Salak. Katanya, “Biar kalian belajar langsung tentang
geografi, iklim pegunungan, dan vegetasi khas tropis.”
Kedengarannya sih keren… kalau saja Gunung Salak
tidak terkenal sebagai gunung yang angker, misterius, dan penuh cerita hilang
orang.
Pagi itu kami berangkat jam lima subuh dari
sekolah. Bus tua kami yang sudah lebih pantas jadi museum berjalan
tersendat-sendat melewati jalan berliku. Saya duduk di kursi tengah bersama
Hilman, sahabat saya yang hobinya aneh: bawa termos teh ke mana pun.
“Kalau ketemu makhluk halus, kita kasih teh. Biar
adem,” katanya, dengan serius seperti sedang menjelaskan teori fisika kuantum.
Perjalanan awalnya menyenangkan. Udara makin
dingin, kabut mulai turun tipis. Di kiri-kanan jalan, pepohonan pinus menjulang
seperti pagar raksasa. Lalu bus berhenti di sebuah rest area kecil. Di situ
sudah menunggu seorang pemandu lokal—Pak Rudi—pria berkulit legam, memakai topi
lebar, dan mata yang entah kenapa terasa terlalu tajam untuk ukuran orang
biasa.
“Anak-anak, di sini terkenal angker. Jadi jangan
sombong, jangan pisah dari rombongan. Kalau dengar ada yang manggil nama kalian
dari hutan… jangan dijawab,” katanya sambil menatap kami satu-satu.
Kami tertawa kecil, tapi dalam hati mulai muncul
rasa tak enak.
Pendakian dimulai. Jalurnya licin karena semalam
hujan. Saya berjalan di barisan tengah. Hilman tetap dengan termos tehnya,
kadang menawari teman-teman. Kabut makin tebal, membuat pepohonan di depan
terlihat seperti bayangan besar yang bergerak.
Setengah jam berjalan, kami melewati sebuah
sungai kecil dengan batu-batu licin. Pak Rudi bercerita bahwa dulu, di masa
penjajahan Belanda, jalur ini sering dipakai serdadu untuk mengintai desa-desa
sekitar. Bahkan, katanya, ada pos rahasia di salah satu lereng Gunung Salak
tempat mereka menyimpan logistik dan mengintai pergerakan pejuang. Cerita itu
membuat saya sedikit merinding—bukan karena hantunya, tapi membayangkan di
tempat yang sunyi ini dulu pernah ada suara senapan dan teriakan.
Sekitar satu jam kemudian, kami sampai di sebuah
lapangan kecil. Katanya ini bekas pos penjagaan Belanda yang ditinggalkan sejak
awal 1940-an. Batu-batu berlumut tersusun membentuk dinding setinggi pinggang.
Di salah satu sudut, ada sumur tua yang ditutup papan kayu. Pak Rudi
memperingatkan kami agar tidak mendekat. Katanya, air sumur itu pernah
digunakan untuk menyiksa tawanan—dan sejak itu, siapa pun yang mencoba membuka
tutupnya selalu jatuh sakit.
Kami duduk beristirahat. Guru kami mengajak foto
bersama. Semua berkumpul di tengah lapangan. Saya berdiri agak di belakang,
sambil mengatur kamera. Klik. Selesai.
Tapi saat saya melihat hasil foto… jantung saya
seperti berhenti sebentar. Di pojok kanan belakang, ada bayangan samar. Tinggi,
kurus, seperti memakai kain panjang yang menjuntai ke tanah. Wajahnya kabur,
tapi posisinya jelas—tepat di antara batu berlumut dan pohon besar.
Saya tunjukkan ke Hilman. Dia melihat, lalu
mengangkat alis.
“Santai, bro. Mungkin itu turis dari dimensi
lain. Yang penting nggak minta teh.”
Saya ingin tertawa, tapi tidak bisa. Rasanya
dingin merayap di punggung.
Turun gunung, suasana agak hening. Angin sore
membawa aroma tanah basah bercampur dedaunan. Beberapa teman bilang mereka
sempat mendengar suara langkah di belakang rombongan, tapi setiap menoleh,
tidak ada siapa-siapa.
Kami kembali ke bus. Sebagian besar tertidur,
lelah. Tapi saya tidak bisa memejamkan mata. Bayangan itu masih terpatri di
kepala saya. Bahkan, saat saya memperbesar foto di kamera… saya baru sadar
sesuatu. Bayangan itu berdiri persis di sebelah saya. Dan di zoom terakhir,
saya bisa melihat… tangannya menggantung di samping tubuh, jari-jarinya
panjang, terlalu panjang untuk ukuran manusia biasa.
Saya menutup kamera.
Entah kenapa, saya merasa rombongan kami pulang
bukan dengan jumlah yang sama seperti berangkat.
Selesai.

Comments