Study Tour Paling Menegangkan di Gunung Salak

 


Study Tour Paling Menegangkan di Gunung Salak

 M. Sabrar Fadhila & Rehan Shofil Fu’ad

Siswa SMP. Plus Maulana Malik Ibrahim Bojonegoro


Dari semua ide study tour yang pernah ada, ini yang paling aneh. Tahun lalu kami ke kebun teh, aman. Dua tahun lalu ke museum, adem. Tapi tahun ini, entah kenapa, guru IPS kami—Pak Taufik—memutuskan kami harus naik Gunung Salak. Katanya, “Biar kalian belajar langsung tentang geografi, iklim pegunungan, dan vegetasi khas tropis.”

Kedengarannya sih keren… kalau saja Gunung Salak tidak terkenal sebagai gunung yang angker, misterius, dan penuh cerita hilang orang.

Pagi itu kami berangkat jam lima subuh dari sekolah. Bus tua kami yang sudah lebih pantas jadi museum berjalan tersendat-sendat melewati jalan berliku. Saya duduk di kursi tengah bersama Hilman, sahabat saya yang hobinya aneh: bawa termos teh ke mana pun.

“Kalau ketemu makhluk halus, kita kasih teh. Biar adem,” katanya, dengan serius seperti sedang menjelaskan teori fisika kuantum.

Perjalanan awalnya menyenangkan. Udara makin dingin, kabut mulai turun tipis. Di kiri-kanan jalan, pepohonan pinus menjulang seperti pagar raksasa. Lalu bus berhenti di sebuah rest area kecil. Di situ sudah menunggu seorang pemandu lokal—Pak Rudi—pria berkulit legam, memakai topi lebar, dan mata yang entah kenapa terasa terlalu tajam untuk ukuran orang biasa.

“Anak-anak, di sini terkenal angker. Jadi jangan sombong, jangan pisah dari rombongan. Kalau dengar ada yang manggil nama kalian dari hutan… jangan dijawab,” katanya sambil menatap kami satu-satu.

Kami tertawa kecil, tapi dalam hati mulai muncul rasa tak enak.

Pendakian dimulai. Jalurnya licin karena semalam hujan. Saya berjalan di barisan tengah. Hilman tetap dengan termos tehnya, kadang menawari teman-teman. Kabut makin tebal, membuat pepohonan di depan terlihat seperti bayangan besar yang bergerak.

Setengah jam berjalan, kami melewati sebuah sungai kecil dengan batu-batu licin. Pak Rudi bercerita bahwa dulu, di masa penjajahan Belanda, jalur ini sering dipakai serdadu untuk mengintai desa-desa sekitar. Bahkan, katanya, ada pos rahasia di salah satu lereng Gunung Salak tempat mereka menyimpan logistik dan mengintai pergerakan pejuang. Cerita itu membuat saya sedikit merinding—bukan karena hantunya, tapi membayangkan di tempat yang sunyi ini dulu pernah ada suara senapan dan teriakan.

Sekitar satu jam kemudian, kami sampai di sebuah lapangan kecil. Katanya ini bekas pos penjagaan Belanda yang ditinggalkan sejak awal 1940-an. Batu-batu berlumut tersusun membentuk dinding setinggi pinggang. Di salah satu sudut, ada sumur tua yang ditutup papan kayu. Pak Rudi memperingatkan kami agar tidak mendekat. Katanya, air sumur itu pernah digunakan untuk menyiksa tawanan—dan sejak itu, siapa pun yang mencoba membuka tutupnya selalu jatuh sakit.

Kami duduk beristirahat. Guru kami mengajak foto bersama. Semua berkumpul di tengah lapangan. Saya berdiri agak di belakang, sambil mengatur kamera. Klik. Selesai.

Tapi saat saya melihat hasil foto… jantung saya seperti berhenti sebentar. Di pojok kanan belakang, ada bayangan samar. Tinggi, kurus, seperti memakai kain panjang yang menjuntai ke tanah. Wajahnya kabur, tapi posisinya jelas—tepat di antara batu berlumut dan pohon besar.

Saya tunjukkan ke Hilman. Dia melihat, lalu mengangkat alis.

“Santai, bro. Mungkin itu turis dari dimensi lain. Yang penting nggak minta teh.”

Saya ingin tertawa, tapi tidak bisa. Rasanya dingin merayap di punggung.

Turun gunung, suasana agak hening. Angin sore membawa aroma tanah basah bercampur dedaunan. Beberapa teman bilang mereka sempat mendengar suara langkah di belakang rombongan, tapi setiap menoleh, tidak ada siapa-siapa.

Kami kembali ke bus. Sebagian besar tertidur, lelah. Tapi saya tidak bisa memejamkan mata. Bayangan itu masih terpatri di kepala saya. Bahkan, saat saya memperbesar foto di kamera… saya baru sadar sesuatu. Bayangan itu berdiri persis di sebelah saya. Dan di zoom terakhir, saya bisa melihat… tangannya menggantung di samping tubuh, jari-jarinya panjang, terlalu panjang untuk ukuran manusia biasa.

Saya menutup kamera.

Entah kenapa, saya merasa rombongan kami pulang bukan dengan jumlah yang sama seperti berangkat.

Selesai.

Comments

Popular posts from this blog

Terjemah Tausyeh Ibnu Qosim

Bisikan di Kamar Mandi

Sang Jenderal telah Menikah