Kuli Kecil untuk Ibu
Kuli Kecil untuk Ibu
M. Sabrar Fadhila & Rehan Shofil Fu’ad
Siswa SMP. Plus Maulana Malik Ibrahim Bojonegoro
Pagi itu, suara ayam jantan di kampung sudah tiga
kali berkokok. Embun masih menggantung di ujung daun singkong, dan udara pagi
membawa aroma tanah basah. Di sebuah rumah kayu sederhana, Rafi terbangun lebih
awal dari biasanya. Usianya baru lima belas tahun, tapi wajahnya jauh lebih tua
dari anak-anak sebayanya.
Ia duduk menatap ibunya yang masih terbaring di
kasur tipis. Sejak terserang stroke tiga bulan lalu, separuh tubuh ibunya
lumpuh. Wajahnya kaku, bibirnya sulit digerakkan, dan setiap kata yang keluar
terdengar terbata. Namun di balik kelemahan itu, matanya masih penuh kasih,
menatap anak tunggal yang kini menjadi satu-satunya harapannya.
“Rafi…” suara lirih itu terdengar pelan, “sarapan
dulu, Nak…”
Rafi menggeleng. “Ibu jangan mikir Rafi dulu. Ibu
minum air hangat, ya. Rafi mau berangkat kerja.”
Wanita itu terdiam. Ia tahu anaknya kini bekerja
sebagai kuli bangunan di proyek perumahan yang jaraknya hampir dua kilometer
dari rumah. Pekerjaan yang jelas bukan untuk anak seusianya. Tapi apa daya?
Setelah ayah Rafi meninggal dua tahun lalu karena kecelakaan, keluarga kecil
itu hanya mengandalkan warung sederhana yang kini tak lagi berjalan. Sakit
stroke membuat ibunya tak bisa mengurus apa pun.
Rafi bangkit, mengambil karung kecil berisi nasi
bungkus—satu-satunya bekal untuk seharian. Ia melangkah keluar rumah, menutup
pintu kayu yang mulai lapuk.
……………………
Di Proyek Bangunan
“Cepat, Dek! Bawa batanya ke sebelah sana!”
teriak seorang mandor begitu Rafi datang.
Anak itu mengangguk tanpa kata. Tangannya segera
meraih bata merah, menumpuk hingga sepuluh buah di pelukannya. Punggungnya
menunduk, lututnya bergetar, tapi ia terus melangkah. Matahari baru saja naik,
tapi panasnya sudah mulai menusuk kulit.
Para pekerja lain sempat menoleh. Beberapa merasa
iba, melihat anak sekecil itu harus bersaing dengan kuli dewasa.
“Kasihan bocah itu. Tapi ya… demi ibunya, dia
kuat juga,” gumam seorang kuli tua, menggelengkan kepala.
Rafi tak peduli. Setiap kali tangannya
memindahkan bata, ia selalu membayangkan wajah ibunya. Setiap butir keringat
yang jatuh, ia bayangkan berubah menjadi butir obat yang bisa memperpanjang
usia orang yang paling ia cintai.
Siang hari, panas semakin menyengat. Rafi duduk
di bawah pohon kecil, membuka bekal nasi bungkusnya. Nasi itu dingin, lauknya
hanya tempe goreng yang sudah alot. Ia menatapnya sebentar, lalu tersenyum
tipis.
“Yang penting bisa kenyang, bisa kuat kerja
lagi,” gumamnya, sebelum melahap dengan lahap.
……………………
Sore menjelang, pekerjaan dihentikan. Rafi
menunggu mandor yang sedang menghitung upah. Jantungnya berdegup lebih cepat.
Ia tahu, dari situlah harapan untuk membeli obat ibunya.
Mandor menyerahkan beberapa lembar uang lusuh ke
tangannya. Jumlahnya tak seberapa, tapi cukup membuat Rafi menggenggamnya erat
seakan takut hilang.
“Terima kasih, Pak,” katanya pelan.
Dengan langkah cepat, ia menuju apotek di dekat
terminal. Napasnya masih terengah, kakinya lelah, tapi semangatnya seakan
menyingkirkan semua rasa sakit.
“Bu, saya mau beli obat stroke… yang kemarin,”
ujarnya sambil menyerahkan uang.
Apoteker itu menatapnya sebentar, seakan ingin
bertanya banyak hal, tapi akhirnya hanya mengangguk dan mengambilkan obat.
“Ini, Dik. Jangan lupa diminum sesuai aturan,
ya.”
Rafi mengangguk cepat, lalu meraih plastik obat
itu seolah sedang memegang permata.
……………………
Senja turun perlahan ketika Rafi sampai di rumah.
Langkahnya bergegas menuju kamar. Ibunya menoleh pelan begitu melihat anaknya
datang.
“Rafi… dari mana, Nak?” suara itu lirih, nyaris
tak terdengar.
Rafi duduk di sampingnya, membuka kantong plastik
kecil dan meletakkannya di meja kayu.
“Dari kerja, Bu. Ini obatnya. Ibu harus minum
biar cepat sembuh.”
Mata wanita itu berkaca-kaca. Tangannya yang
masih bisa bergerak meraih kepala anaknya, mengusapnya dengan lembut.
“Anakku… harusnya bukan kamu yang menanggung
semua ini.”
Rafi tersenyum, meski ada air yang menggenang di
pelupuknya.
“Tidak apa-apa, Bu. Rafi kuat. Selama Rafi bisa
kerja, Ibu jangan khawatir. Rafi janji… suatu hari nanti Ibu pasti sembuh.”
Wanita itu meneteskan air mata, kali ini tak bisa
ditahan. Bukan karena sakit yang ia rasakan, tapi karena melihat ketulusan
anaknya.
……………………
Di luar, langit mulai berwarna jingga, cahaya
senja menembus celah dinding bambu. Rafi duduk di samping ibunya, menggenggam
tangannya erat. Dalam hatinya, ia berdoa pelan:
“Ya Allah, jangan biarkan aku kehilangan Ibu.
Biarkan aku jadi kuat, biarkan aku kerja apa pun… asal Ibu tetap ada di
sisiku.”
Hari itu berakhir dengan sederhana, tanpa
kemewahan, tanpa perayaan. Hanya ada seorang anak kecil yang rela menjadi kuli
bangunan demi sebuah harapan—agar ibunya tetap bisa tersenyum, meski di tengah
sakit yang melumpuhkan.
Dan senja menjadi saksi, bahwa cinta seorang anak
bisa lebih kokoh dari bangunan apa pun yang ia dirikan.
Selesai.
Comments