Langkah di Atas Genteng
Langkah di Atas Genteng
Aldo Zakaria
Kampung itu bernama Sendangjati, terletak jauh
dari keramaian kota. Di sana, ada satu rumah tua di ujung jalan buntu—rumah
panggung, berdinding kayu, beratap genteng merah kusam. Sudah lama kosong, tapi
masih sering dibicarakan.
Karena dulu, kata warga…
ada sesuatu yang tinggal di atas atapnya.
“Kalau malam, terdengar langkah berat… seperti
kaki raksasa menyusuri genteng satu per satu. Kadang, terdengar napas dari
cerobong dapur.”
Begitu kata Pak Darto, tetua kampung, dengan
suara rendah setiap kali cerita itu dibuka.
Mereka menyebutnya genderuwo.
Makhluk hitam besar, berbulu kasar, matanya
merah, dan baunya… menyengat seperti bangkai yang sudah lama tak dikubur.
……………..
Setelah puluhan tahun kosong, rumah itu akhirnya
dibeli oleh keluarga baru: sepasang suami istri dan anak laki-laki mereka yang
berumur 12 tahun, Rafa.
Orang-orang kampung sempat heran—kenapa rumah itu
yang dipilih? Tapi keluarga itu tak percaya takhayul. Menurut mereka, rumah tua
hanya butuh perbaikan dan doa.
Malam pertama mereka tidur di sana, semuanya
berjalan normal.
Tapi malam kedua…
"Tuk… tuk… tuk…"
Terdengar suara langkah berat di atas genteng.
Perlahan. Tidak terburu-buru, tapi pasti. Seperti seseorang—atau sesuatu—sedang
mengelilingi atap rumah.
Ayah Rafa keluar dengan senter. Tidak ada siapa
pun.
Tapi ketika masuk kembali ke rumah, lampu kamar
mati sendiri. Dan Rafa, yang sedang membaca Al-Qur’an di ruang tengah, berkata
pelan:
“Yah… aku dengar ada yang napas di balik plafon.”
……………..
Besoknya, mereka naik ke atap untuk memperbaiki
genteng yang bocor. Tapi yang mereka temukan justru jejak kaki aneh di atas
sana—besar, panjang, dan meninggalkan bekas hitam seperti arang terbakar.
Pak RT yang ikut melihat langsung bergidik.
“Persis seperti dulu…” gumamnya.
“Dulu, waktu rumah ini masih dihuni simbah Joyo,
tiap malam genteng seperti mau ambruk. Simbah sering bilang, ‘Dia numpang, tapi
lama-lama merasa berhak.’”
……………..
Malam Jumat, keluarga Rafa mengundang ustadz dari
pesantren terdekat. Malam itu mereka mengadakan pengajian kecil, membaca Yasin,
Al-Baqarah, dan dzikir bersama.
Saat ayat 255 dibacakan—Ayat Kursi—tiba-tiba
terdengar suara keras dari atas:
“BRUKK!!”
Seperti sesuatu jatuh dari langit. Lampu
berkedip. Genteng bergemeretak. Lalu terdengar raungan panjang, berat dan
marah… lalu hilang.
Setelah malam itu, suara langkah tak pernah
terdengar lagi.
……………..
Kini rumah itu tenang. Tapi tiap warga yang
melewati jalan buntu itu malam-malam, masih merasa ada yang memperhatikan dari
atas pohon di seberang rumah.
“Genderuwo itu mungkin sudah terusir… Tapi jin
seperti itu tak benar-benar pergi. Ia hanya menunggu… rumah yang kosong, atau
hati yang lemah.”
Begitu kata Pak Darto, sambil menatap ke atap
rumah yang kini sudah diganti baru. Selesai.

Comments