Pindah Tanpa Jejak
Pindah Tanpa Jejak
Aldo Zakaria
Siswa SMP. Plus Maulana Malik Ibrahim Bojonegoro
Namanya Fahri. Usianya baru tiga belas tahun,
santri kelas tujuh di sebuah pesantren yang terletak di ujung desa, berbatasan
dengan sawah dan hutan kecil.
Malam itu, listrik sempat padam. Karena suasana
di asrama terlalu pengap, Fahri memutuskan membawa sajadah dan bantal kecil ke
mushola yang letaknya persis di samping bangunan utama pondok.
“Cuma sebentar, sampe listrik nyala lagi…”
gumamnya pelan.
Ia berbaring di pojok ruangan, dekat rak
Al-Qur’an. Udara malam terasa lebih sejuk di sana. Lantunan ngaji dari santri
kakak kelas di ruang sebelah masih terdengar samar, lalu lama-lama hilang
ditelan kantuk.
Fahri pun tertidur dan kemudian, semuanya gelap.
……………..
Ia terbangun karena tubuhnya terasa dingin—bukan
dingin biasa. Tapi dingin basah, seperti tidur di atas lantai yang baru
disiram.
Matanya terbuka pelan. Di atasnya bukan
langit-langit mushola, tapi… atap kamar mandi, yang catnya mengelupas di
sana-sini.
“Lho…” gumamnya bingung.
Fahri segera bangkit. Ia terduduk di lantai kamar
mandi santri. Lantai itu basah, lampu menyala redup, dan semua pintu bilik
terbuka, seperti baru saja ditinggal seseorang.
Ia panik.
Mukena, sajadah, bahkan bantal kecilnya ada di
pojok kamar mandi. Persis seperti posisi ia tidur tadi di mushola.
Jantung Fahri mulai berdebar.
Bagaimana bisa?
Ia mengingat jelas: ia tidur di mushola,
menghadap rak Qur’an, berselimut sarungnya sendiri.
Sekarang, ia ada di kamar mandi, sendirian, pada
jam yang… ia tak tahu pasti. Tak ada jam di tempat itu. Dan suara jangkrik di
luar terlalu ramai, seperti menutupi sesuatu.
Fahri buru-buru keluar, tapi saat membuka pintu…
Lorong ke arah mushola terasa lebih panjang dari
biasanya. Lampu-lampunya redup. Seolah mushola dan kamar mandi tak lagi berada
di dunia yang sama seperti sebelum ia tertidur.
……………..
Keesokan harinya, Fahri bercerita pada Pak
Ustadz.
“Tidur di mushola, bangun di kamar mandi?” tanya
Pak Ustadz, alisnya naik.
“Iya, Pak. Dan saya gak mimpi.”
Pak Ustadz tidak menghardiknya. Justru menatap
dengan tatapan yang aneh—seperti pernah mendengar hal itu sebelumnya.
Ia pun hanya berkata singkat, “Kalau malam,
jangan tidur di mushola sendirian. Itu tempat baik, tapi kadang… ada yang juga
merasa betah di sana.”
Fahri menunduk. Tapi sebelum keluar ruangan, Pak
Ustadz sempat berkata pelan, hampir tak terdengar:
“Dulu… pernah ada yang begitu juga. Dan waktu
bangun, dia gak cuma pindah tempat. Tapi juga kehilangan satu surat dalam
hafalannya. Lenyap begitu saja…”
Selesai.

Comments