Pondok Langit Senja


 Pondok Langit Senja

 Aldo Zakaria

Siswa SMP. Plus Maulana Malik Ibrahim Bojonegoro

Pondok itu bernama Langit Senja. Letaknya di kaki bukit, jauh dari pusat desa. Dikelilingi sawah, dan di belakangnya—hutan kecil yang tua dan jarang dimasuki siapa pun.

Saat bulan Safar tiba, angin mulai berubah. Siang terasa lebih gerah, malam lebih lembab, dan suara adzan kadang terdengar seperti dua kali, meskipun muadzinnya cuma satu.

Saat itu juga, gangguan mulai datang.

Hari pertama, seorang santri bernama Hilma tiba-tiba berteriak saat sedang tahfidz di serambi masjid. Ia menangis sambil memegangi kepala, lalu berkata dengan suara berat:

“Jangan dibangun di atas kami… jangan ganggu kami…”

Hari kedua, seorang anak kelas 7 pingsan di kamar mandi. Saat sadar, ia tidak mengenali siapa pun. Bahkan tidak ingat siapa namanya sendiri.

Hari ketiga, yang kesurupan dua orang sekaligus, dan salah satunya berbicara dalam bahasa yang tidak dikenal siapa pun—seperti bahasa Arab, tapi kacau dan asing.

Dan itu terus berlanjut.

Setiap hari, selalu ada satu, dua, atau bahkan tiga anak yang kesurupan. Seperti giliran. Seperti sudah ada daftar nama yang dipegang sesuatu dari dimensi lain.

……………..

Kiai pesantren, Kiai Mahbub, adalah sosok alim yang sabar. Beliau tak cepat memvonis, tapi juga tidak menyepelekan.

Suatu malam, ia mengajak beberapa ustadz untuk membaca surah Al-Baqarah di seluruh area pondok, terutama di satu tempat yang sejak dulu tidak pernah ditembok: ruangan bekas gudang lama di ujung belakang pondok.

Ruangan itu lembap. Udara di dalamnya berbeda. Tidak ada hembusan angin, dan setiap orang yang masuk merasa berat di dada.

Saat ayat 255—Ayat Kursi—dikumandangkan di dalam ruangan itu, tiba-tiba suara dari luar meledak:

"Berhenti! Ini bukan urusan kalian!"

Suaranya tidak dari manusia.

Lampu-lampu tiba-tiba padam. Salah satu santri—yang ikut membantu membaca—jatuh pingsan, dan dari mulutnya keluar tawa yang bukan tawa manusia.

……………..

Setelah beberapa hari melakukan ruqyah dan pembacaan Qur’an setiap malam, gangguan mulai berkurang.

Namun, suatu malam Kiai Mahbub bermimpi. Dalam mimpinya, ia melihat pondok itu berdiri di atas tanah yang dulu adalah makam tua, yang dipindahkan secara tidak sempurna puluhan tahun silam.

Bukan kesalahan pondok ini, tapi ada ruh-ruh yang terganggu, dan jin-jin liar yang menempati bekas makam yang dilanggar tanpa disucikan.

“Mereka tidak marah... Mereka hanya tersesat dan belum tenang,” kata Kiai Mahbub.

Sejak saat itu, setiap malam Jumat, pondok mengadakan khataman Al-Qur’an dan dzikir jama’i, memohon perlindungan Allah, dan mengirimkan doa kepada siapa pun yang pernah bersemayam di tanah itu.

Perlahan-lahan, gangguan mulai hilang.

Kesurupan tak lagi terjadi setiap hari.

Tapi… kadang, pada malam-malam tertentu… suara tangis masih terdengar dari gudang lama.

Bukan teriakan.

Bukan ancaman.

Hanya tangisan lirih, seolah minta didoakan lagi.

Selesai.

Comments

Popular posts from this blog

Terjemah Tausyeh Ibnu Qosim

Bisikan di Kamar Mandi

Sang Jenderal telah Menikah