Pondok Langit Senja
Pondok Langit Senja
Pondok itu bernama Langit Senja. Letaknya di kaki
bukit, jauh dari pusat desa. Dikelilingi sawah, dan di belakangnya—hutan kecil
yang tua dan jarang dimasuki siapa pun.
Saat bulan Safar tiba, angin mulai berubah. Siang
terasa lebih gerah, malam lebih lembab, dan suara adzan kadang terdengar
seperti dua kali, meskipun muadzinnya cuma satu.
Saat itu juga, gangguan mulai datang.
Hari pertama, seorang santri bernama Hilma
tiba-tiba berteriak saat sedang tahfidz di serambi masjid. Ia menangis sambil
memegangi kepala, lalu berkata dengan suara berat:
“Jangan dibangun di atas kami… jangan ganggu
kami…”
Hari kedua, seorang anak kelas 7 pingsan di kamar
mandi. Saat sadar, ia tidak mengenali siapa pun. Bahkan tidak ingat siapa
namanya sendiri.
Hari ketiga, yang kesurupan dua orang sekaligus,
dan salah satunya berbicara dalam bahasa yang tidak dikenal siapa pun—seperti
bahasa Arab, tapi kacau dan asing.
Dan itu terus berlanjut.
Setiap hari, selalu ada satu, dua, atau bahkan
tiga anak yang kesurupan. Seperti giliran. Seperti sudah ada daftar nama yang
dipegang sesuatu dari dimensi lain.
……………..
Kiai pesantren, Kiai Mahbub, adalah sosok alim
yang sabar. Beliau tak cepat memvonis, tapi juga tidak menyepelekan.
Suatu malam, ia mengajak beberapa ustadz untuk
membaca surah Al-Baqarah di seluruh area pondok, terutama di satu tempat yang
sejak dulu tidak pernah ditembok: ruangan bekas gudang lama di ujung belakang
pondok.
Ruangan itu lembap. Udara di dalamnya berbeda.
Tidak ada hembusan angin, dan setiap orang yang masuk merasa berat di dada.
Saat ayat 255—Ayat Kursi—dikumandangkan di dalam
ruangan itu, tiba-tiba suara dari luar meledak:
"Berhenti! Ini bukan urusan kalian!"
Suaranya tidak dari manusia.
Lampu-lampu tiba-tiba padam. Salah satu
santri—yang ikut membantu membaca—jatuh pingsan, dan dari mulutnya keluar tawa
yang bukan tawa manusia.
……………..
Setelah beberapa hari melakukan ruqyah dan
pembacaan Qur’an setiap malam, gangguan mulai berkurang.
Namun, suatu malam Kiai Mahbub bermimpi. Dalam
mimpinya, ia melihat pondok itu berdiri di atas tanah yang dulu adalah makam
tua, yang dipindahkan secara tidak sempurna puluhan tahun silam.
Bukan kesalahan pondok ini, tapi ada ruh-ruh yang
terganggu, dan jin-jin liar yang menempati bekas makam yang dilanggar tanpa
disucikan.
“Mereka tidak marah... Mereka hanya tersesat dan
belum tenang,” kata Kiai Mahbub.
Sejak saat itu, setiap malam Jumat, pondok
mengadakan khataman Al-Qur’an dan dzikir jama’i, memohon perlindungan Allah,
dan mengirimkan doa kepada siapa pun yang pernah bersemayam di tanah itu.
Perlahan-lahan, gangguan mulai hilang.
Kesurupan tak lagi terjadi setiap hari.
Tapi… kadang, pada malam-malam tertentu… suara
tangis masih terdengar dari gudang lama.
Bukan teriakan.
Bukan ancaman.
Hanya tangisan lirih, seolah minta didoakan lagi.
Selesai.

Comments