Rambut di Barisan Ketujuh
Rambut di Barisan Ketujuh
Malam itu, langit di atas pondok begitu pekat.
Hujan belum turun, tapi angin membawa aroma tanah yang basah sebelum waktunya.
Di masjid kecil pesantren putri, shalat Isya baru saja selesai. Lantunan doa
perlahan mereda, berganti suara sandal yang diseret pelan menuju asrama.
Di antara para santri yang berjalan pelan itu,
ada seorang santri kelas 7 bernama Laras. Ia pendiam. Dikenal rapi, dan lebih
sering duduk di pojok ruangan sambil membaca atau menulis. Malam itu, ia
menjadi yang terakhir keluar dari masjid, karena lupa mukena-nya tertinggal di
dalam.
“Larasss, cepetan, jangan sendirian…” bisik Aina,
teman sekamarnya, setengah berlari menuju asrama.
Laras hanya mengangguk, lalu berbalik masuk ke
masjid. Ruangan itu kini sepi dan gelap, hanya diterangi cahaya bulan dari
kisi-kisi jendela tinggi. Suara angin terdengar jelas menyusup lewat sela kayu
tua.
Ketika ia menemukan mukena-nya, tiba-tiba
langkahnya terhenti.
Di saf ketujuh—tempat para santri jarang duduk
karena jauh dari kipas dan agak lembap—ia melihat sesuatu.
Seseorang sedang duduk.
Laras mengerutkan kening. Semua teman-temannya
sudah keluar. Tapi punggung itu ada di sana, membelakanginya. Yang terlihat
hanya rambut panjang sekali, hitam legam, tergerai liar menutupi hampir seluruh
punggung sosok itu.
Samar, tapi nyata.
“Teh…?” Laras mencoba menyapa, siapa tahu itu
salah satu kakak kelas. Tapi suara angin seperti menelan suaranya sendiri.
Sosok itu tak bergerak. Hanya diam, dan rambutnya
berkibar pelan-pelan, meski tak ada kipas menyala.
Jantung Laras berdetak lebih cepat. Ia
menggenggam mukena-nya erat-erat.
Ketika ia melangkah satu tapak lebih dekat,
tiba-tiba sosok itu… menghilang.
Begitu saja. Tanpa suara. Tanpa gerakan. Rambut
itu seperti menyusut ke dalam lantai dan lenyap. Ruangan kembali kosong.
Laras terdiam. Tubuhnya kaku. Tapi entah
bagaimana, kakinya tetap membawanya keluar, hampir setengah berlari menuju
asrama.
……………..
“Di shaf ketujuh?!” Aina menatapnya, setengah
takut, setengah tak percaya.
Laras mengangguk, masih duduk di pinggir
ranjangnya. Tangannya memeluk sajadah, seolah butuh sesuatu untuk digenggam.
“Katanya… itu saf yang dulu pernah ada kejadian,
Ra. Tapi aku pikir cuma cerita buat nakut-nakutin santri baru,” bisik Aina,
lirih.
Laras tak menjawab. Tapi hatinya terasa penuh.
Malam itu ia tidur dengan lampu menyala. Tapi
tepat sebelum ia tertidur, suara sesuatu terdengar dari langit-langit. Seperti
rambut diseret… pelan sekali.
Selesai.

Comments