Teman di Bawah Ranjang
Teman di Bawah Ranjang
Siswa SMP. Plus Maulana Malik Ibrahim Bojonegoro
Rumah itu kecil, sederhana, berada di pinggir
kota. Ditempati oleh seorang janda muda bernama Bu Rika dan anak semata
wayangnya yang berusia delapan tahun, Revan.
Sejak pindah ke rumah itu tiga bulan lalu, Revan
sering bermain sendiri. Bu Rika mengira itu hal biasa. Tapi belakangan, ia
mulai memperhatikan sesuatu yang membuat bulu kuduknya berdiri.
Setiap sore, Revan duduk di lantai kamar,
menghadap ke bawah ranjang. Ia tertawa, kadang berbisik, dan sesekali tampak
serius seperti sedang berdebat.
“Revan ngobrol sama siapa, Nak?” tanya Bu Rika,
setengah bercanda.
Revan menjawab ringan.
“Sama Kakak Hitam.”
Bu Rika terdiam. “Kakak… siapa?”
“Kakak yang suka duduk di bawah ranjang. Dia gak
suka lampu dinyalain.”
……………..
Awalnya Bu Rika mengira Revan hanya berimajinasi.
Tapi malam-malam berikutnya, ia mulai mendengar sendiri suara berbisik dari
kamar Revan. Kadang terdengar Revan tertawa… padahal ia tidur sendirian. Kadang
suara kursi bergeser sendiri, meski tidak ada yang masuk.
Puncaknya, pada malam Jumat, saat Bu Rika
terbangun karena suara ketukan dari arah lemari.
Saat membuka pintu kamar Revan, anak itu sedang
duduk tegak di tempat tidur, menghadap tembok… dan berbicara pelan:
“Jangan marah. Mama cuma mau lihat…”
Suara Revan tenang, tapi nadanya seperti
menenangkan seseorang yang tak terlihat.
Dan tepat saat Bu Rika mendekat…
lampu kamar padam sendiri.
Dalam gelap, hanya terdengar suara nafas… satu…
dua… lalu suara berat dari arah bawah ranjang:
“Ibu… tidak boleh di sini…”
……………..
Besoknya, Bu Rika memanggil seorang ustadz muda
dari masjid sekitar. Bukan untuk ruqyah—ia hanya ingin mencari tahu, apakah
rumah ini memang “berpenghuni”?
Ustadz itu membaca surah Al-Baqarah dengan pelan
di ruang tengah. Baru sampai ayat 2:17, Revan keluar dari kamarnya—tapi matanya
kosong, dan ia berkata dengan suara yang bukan miliknya:
“Berhenti. Ini bukan urusanmu.”
Tubuh Revan gemetar, lalu jatuh pingsan. Setelah
sadar, ia menangis dan berkata:
“Kakak Hitam marah… katanya aku udah ingkar. Aku
janji gak akan kasih tahu Mama…”
……………..
Menurut Ustadz, bisa jadi “teman” Revan adalah
makhluk dari golongan jin yang masuk karena dulu rumah ini tidak pernah
dibacakan doa ketika ditempati. Anak-anak yang masih polos kadang menjadi
sasaran “pertemanan” dari makhluk yang ingin diperhatikan.
Pagi harinya, rumah dibersihkan. Setiap sudut
dibacakan surah Al-Baqarah, Al-Falaq, An-Naas, dan Ayat Kursi. Selama
pembacaan, beberapa kali terdengar suara dari kamar Revan—seperti seseorang
merangkak di bawah ranjang.
Tapi tak ada yang ditemukan, kecuali bekas tangan
hitam di dinding, yang perlahan memudar sendiri setelah ayat-ayat suci
dibacakan.
……………..
Sejak hari itu, Revan tidak pernah lagi berbicara
sendiri.
Ia kembali bermain seperti biasa.
Tapi Bu Rika tidak pernah membiarkannya tidur
sendiri dalam gelap.
Dan dari bawah ranjang… tak pernah lagi terdengar
suara.
Namun kadang, pada malam-malam yang sepi, pintu
kamar masih berdecit sendiri.
Pelan.
Seperti ada yang belum sepenuhnya pergi.
Selesai.

Comments