Yang Berdiri di Bawah Pohon Sawo
Yang Berdiri di Bawah Pohon Sawo
Siswa SMP. Plus Maulana Malik Ibrahim Bojonegoro
Namanya Naila. Usianya sebelas tahun, duduk di
kelas lima dan tinggal di sebuah rumah sederhana bersama ibunya di pinggiran
kampung. Ayahnya sudah lama wafat. Rumah mereka dikelilingi kebun kecil dan
satu pohon sawo tua yang tumbuh di sudut halaman.
Ibu Naila sering mengingatkannya,
“Kalau malam, jangan keluar. Apalagi kalau dengar
suara yang manggil dari luar jendela.”
Naila selalu mengangguk, meski dalam hati ia
bertanya-tanya—kenapa? Siapa yang bisa memanggil dari luar?
Sampai suatu malam, ia tahu sendiri jawabannya.
……………..
Malam itu, listrik di rumah sempat padam. Naila
sedang duduk di dekat jendela kamarnya, menggambar dengan senter kecil. Udara
luar senyap. Angin hanya terdengar lewat sela ventilasi kayu.
Tiba-tiba… ada suara kecil dari arah luar
jendela.
“Nai… laaa…”
Pelan. Seperti suara ibu—tapi terlalu lambat.
Terlalu dingin.
Naila menegang. Jantungnya mulai memukul-mukul
dadanya. Ia tahu ibunya sedang di dapur… dan suara itu bukan dari dalam rumah.
Perlahan, rasa penasaran mendorongnya menoleh ke
arah jendela.
Saat itulah ia melihatnya.
Di bawah pohon sawo, ada sesuatu berdiri.
Putih.
Diam.
Tinggi. Terbungkus kain. Wajahnya pucat dan
kosong, seperti tidak sepenuhnya terbentuk. Tapi ia tahu betul apa yang sedang
dilihatnya.
Pocong.
Kakinya terikat kain, tapi ia berdiri… tegak.
Seolah tak butuh melompat. Matanya kosong, tapi entah bagaimana terasa sedang
melihat langsung ke arah Naila.
Naila ingin berteriak… tapi suaranya hilang.
……………..
Ketika ibunya masuk ke kamar, Naila sudah
meringkuk di pojok tempat tidur. Tubuhnya gemetar. Tangannya menunjuk ke arah
jendela.
“Ibu… di bawah pohon…”
Ibunya buru-buru keluar rumah. Tapi… tidak ada
siapa-siapa.
Hanya pohon sawo yang bergoyang perlahan.
……………..
Keesokan harinya, nenek tetangga yang mendengar
cerita Naila hanya menghela napas.
“Pohon sawo itu memang sudah lama minta dipindah…
Tapi siapa yang berani nebang? Dulu, katanya ada yang dimakamkan dekat situ
waktu kampung ini masih hutan…”
“Kadang, kalau malam, arwahnya balik. Bukan untuk
menakut-nakuti. Tapi karena… dia belum bisa pergi.”
Selesai.

Comments