Desa dalam Bayang-Bayang Lampor
Desa dalam Bayang-Bayang Lampor
Siswa SMP. Plus Maulana Malik Ibrahim Bojonegoro
Desa Panggingan, sebuah desa
kecil yang dulu damai, kini berubah menjadi tempat penuh ketakutan. Warga mulai
mengunci pintu rumah lebih awal, anak-anak tak berani bermain hingga malam, dan
penduduk yang biasa ramah jadi tertutup dan waspada.
Semuanya bermula ketika seorang
warga, Pak Mulyono, pulang dari ladang lewat jalan pintas melewati hutan kecil
di pinggir desa. Ia menceritakan sesuatu yang membuat bulu kuduk merinding.
“Waktu itu aku lihat ada sosok
putih, tinggi dan kerempeng, mukanya merah berapi-api, dengan rambut panjang
acak-acakan. Matanya besar dan menatap tajam. Aku rasa itu… Lampor,” katanya
sambil gemetar.
Lampor, makhluk halus yang
dikenal suka menampakkan diri dalam berbagai wujud menakutkan, sering dikaitkan
dengan kejadian aneh dan musibah.
Keesokan harinya, desas-desus
makin menjadi. Orang-orang mulai melaporkan kejadian aneh: suara tawa serak di
tengah malam, bayangan putih melayang di sawah, dan bahkan beberapa ternak
ditemukan mati dengan kondisi yang tak wajar.
Kepala desa mengadakan pertemuan
dengan para tetua dan paranormal untuk mencari solusi. Namun tak ada yang
berani mendekati hutan malam hari untuk mengusir makhluk itu.
Di tengah ketakutan yang
menggunung, muncul keberanian dari seorang pemuda bernama Jaka, yang dikenal
pemberani dan tak percaya tahayul. Ia yakin ada penjelasan logis dibalik semua
teror itu.
Bersama beberapa temannya, Jaka
menyusuri hutan pada malam gelap tanpa bulan. Mereka membawa dupa, kayu suci,
dan pisau pusaka warisan leluhur.
Setelah berjam-jam berjalan,
tiba-tiba suasana berubah mencekam. Dari balik pepohonan muncul sosok tinggi,
berwajah merah menyala, rambut kusut, dan tubuh kurus—Lampor itu nyata.
Jaka tak lari. Dengan suara
tenang, ia membaca mantra dan membakar dupa. Lampor itu melolong,
berputar-putar sambil berusaha mendekat, namun perlahan ia menghilang dalam
kabut malam.
Pagi harinya, desa terasa lebih
tenang. Warga kembali beraktivitas dengan hati sedikit lega.
Namun Jaka tahu, Lampor bukan
hanya makhluk yang bisa diusir dengan mantra semata. Ia adalah cermin dari
ketakutan yang tertanam dalam jiwa manusia desa itu. Selama ketakutan itu
hidup, Lampor akan selalu ada, menunggu untuk menampakkan diri kembali.
Selesai.

Comments