Penunggu Pohon Randu
Penunggu Pohon Randu
Siswa SMP. Plus Maulana Malik Ibrahim Bojonegoro
Di Dusun Wringin Asri, ada satu
larangan tak tertulis: jangan berani mendekati pohon randu tua di pinggir hutan
saat matahari mulai tenggelam. Konon katanya, pohon itu ditunggui oleh makhluk
tinggi besar berbulu lebat yang hanya muncul ketika malam menjelang—Genderuwo.
Tapi larangan itu tak pernah
dianggap serius oleh Iwan dan sahabatnya, Salam. Dua pemuda dusun itu merasa
semua cerita mistis hanyalah cara orang tua menakut-nakuti agar anak muda tak
keluyuran malam-malam.
“Kalau memang ada genderuwo,
kenapa nggak ada yang pernah lihat langsung?” tantang Iwan suatu malam sambil
ngopi di gardu ronda.
Salam tertawa. “Mungkin karena
yang lihat udah gak sempat cerita.”
Obrolan mereka mengarah ke
taruhan: siapa yang berani bermalam di dekat pohon randu, dianggap paling
jantan di dusun.
Dan begitulah, malam Jumat
Kliwon itu, mereka berdua membawa tikar, kopi, dan senter menuju pohon randu.
Angin malam menyusup lewat celah-celah daun. Pohon randu menjulang gelap,
siluetnya seperti bayangan raksasa di bawah cahaya bulan.
Awalnya biasa saja. Mereka
mengobrol, tertawa-tawa, bahkan sempat merekam video untuk konten media sosial.
Tapi saat jarum jam melewati pukul 01.00, suasana mulai berubah.
Udara menjadi sangat dingin,
padahal musim kemarau. Pepohonan di sekitar seperti diam. Tak ada suara
serangga, tak ada suara angin.
Tiba-tiba, Salam mencium bau
anyir, seperti darah dan bangkai.
“Wan… lo cium bau itu nggak?”
Iwan mengangguk, matanya menyapu
sekitar.
Dan di saat itulah, mereka
mendengar suara langkah berat. Tanah bergetar pelan. Dari arah belakang pohon,
muncul sosok besar… sangat besar. Tingginya lebih dari dua meter, tubuhnya
berbulu lebat, matanya merah menyala, dan giginya runcing menyeringai.
Genderuwo.
Salam membeku. Iwan mencoba
meraih senter, tapi tangannya gemetar.
Makhluk itu tidak menyerang. Ia
hanya berdiri, mengamati mereka—seperti mengukur rasa takut yang menguap dari
tubuh mereka. Lalu, dari mulutnya keluar suara berat seperti geraman… dan satu
kata lirih:
"PERGI…"
Tanpa berpikir, Iwan dan Salam
lari terbirit-birit menembus kebun, tak peduli ranting atau duri melukai kaki
mereka.
Keesokan paginya, warga
menemukannya tergeletak di depan mushola dengan badan penuh luka, mata sayu,
dan tubuh menggigil.
Mereka tak banyak bicara setelah
kejadian itu. Tapi satu hal yang selalu mereka peringatkan ke anak-anak muda di
dusun:
"Jangan macam-macam dengan
tempat yang bukan milik kita. Apalagi pohon randu di pinggir hutan itu.
Penunggunya bukan cuma legenda."
Selesai.

Comments