Wajah di Cermin

Wajah di Cermin

 M. Faizullah Setiya Hayyu, A. Nabhan Nur Alfian & Bintang Wijaya Kusuma

Siswa SMP. Plus Maulana Malik Ibrahim Bojonegoro


Aldo adalah mahasiswa seni rupa yang sedang menyelesaikan tugas akhir berupa lukisan potret ekspresif. Ia tinggal sendiri di rumah kontrakan tua dekat kampus, rumah peninggalan seorang pensiunan guru yang katanya sudah lama kosong sebelum disewakan.

Malam itu hujan turun deras. Aldo masih berkutat di depan kanvasnya, mencoba menyelesaikan sketsa wajah seseorang dari imajinasinya. Tapi setiap ia mulai menggambar bagian wajah—mata, hidung, mulut—semuanya terasa salah. Seolah ada yang menolak digambar.

Frustrasi, ia menatap pantulan dirinya di cermin tua yang menempel di dinding. Namun tiba-tiba—pantulan itu tak punya wajah.

Aldo mundur panik. Ia menatap lagi. Wajahnya kembali normal.

"Ah, capek," gumamnya. Ia memutuskan tidur.

Namun malam-malam berikutnya, kejadian aneh mulai terjadi. Ia sering terbangun pukul 2 pagi, selalu dalam keadaan cermin tertutup kain hitam—padahal ia tidak pernah menutupnya. Kadang, ia mendengar suara langkah pelan di lorong rumah. Saat dicek, tak ada siapa pun.

Puncaknya terjadi saat ia mulai melihat sosok perempuan berdiri di sudut kamarnya. Tinggi, rambut panjang, mengenakan baju putih kusam. Tapi yang membuat darahnya membeku: perempuan itu tidak punya wajah—hanya kulit polos membentang dari dahi hingga dagu.

Aldo berteriak. Tapi perempuan itu tidak bergerak, hanya menunduk… lalu hilang begitu saja.

Keesokan harinya, Aldo menceritakan semuanya pada dosennya, Pak Gilang, yang kebetulan juga menyukai sejarah dan cerita mistis lokal. Pak Gilang terdiam sejenak, lalu berkata:

“Kamu tahu gak, rumah itu dulunya tempat tinggal seorang guru yang konon bunuh diri setelah kehilangan anak gadisnya. Katanya, anaknya mengalami kelainan wajah sejak lahir… tanpa fitur wajah. Warga menyebutnya anak muka rata.”

Aldo merasa dingin merambat ke tulang punggungnya.

Malam itu, ia mencoba memberanikan diri menggambar kembali sosok yang sering muncul. Kali ini, ia tak menambahkan mata, hidung, atau mulut—hanya bentuk kepala dan rambut panjang.

Begitu ia menyelesaikan gambar itu, cermin di dinding bergetar sendiri, dan dari balik pantulannya, muncul sosok perempuan muka rata itu—tersenyum… entah bagaimana caranya.

Sejak saat itu, sosok itu tak pernah muncul lagi. Tapi setiap Aldo menatap cermin, ia tahu: ada yang memperhatikannya dari balik bayangan.

Selesai.


Comments

Popular posts from this blog

Terjemah Tausyeh Ibnu Qosim

Bisikan di Kamar Mandi

Sang Jenderal telah Menikah