Janji di Malam Jumat Kliwon
Janji di Malam Jumat Kliwon
M. Faizullah Setiya Hayyu, A. Nabhan Nur Alfian & Bintang Wijaya Kusuma
Danu adalah pemuda desa yang
hidupnya serba pas-pasan. Sawahnya tak pernah menghasilkan banyak, dan
pekerjaannya sebagai buruh tani tak mampu mengangkat keluarganya dari
kemiskinan. Dalam hati kecilnya, ia selalu berharap mendapatkan kekayaan dengan
cara instan.
Suatu malam Jumat Kliwon, Danu
duduk termenung di pinggir sungai dekat makam tua desa. Angin malam membawa
aroma tanah basah dan kemenyan yang terbakar, sementara suara jangkrik menemani
sunyi yang pekat.
Tiba-tiba, dari balik rerimbunan
pohon randu, muncul sosok lelaki tua berkumis panjang, mengenakan jubah hitam
dan topi blangkon lusuh. Matanya tajam, menatap Danu dalam-dalam.
“Danu,” suara itu dalam dan
serak. “Kau ingin kaya? Kekayaan yang tak akan habis?”
Danu mengangguk pelan, hatinya
berdegup kencang.
“Datanglah ke pusara tua di
ujung desa, tengah malam ini. Hanya pada malam Jumat Kliwon, pesugihan bisa kau
raih, tapi ingat… setiap hadiah ada harga yang harus dibayar.”
Dengan rasa penasaran dan
sedikit rasa takut, Danu menyepakati janji itu.
Malam itu, saat jam menunjukkan
tengah malam, Danu tiba di makam tua, membawa sesajen berupa ayam jantan,
minyak wangi, dan segelas air putih.
Dia berlutut, membaca mantra
yang diajarkan lelaki tua itu, dan tiba-tiba angin kencang berputar, suara
gamelan halus terdengar dari balik kabut.
Dari tanah makam muncul sosok
bayangan hitam besar—makhluk gaib yang tak berbentuk jelas, hanya seperti asap
pekat yang berputar dan menggeram.
“Pesugihan telah kau terima.
Kekayaan akan datang dalam hitungan bulan,” suara itu mengaum. “Namun, ingat…
jangan sampai kau lupa membayar utang jiwamu.”
Waktu berlalu. Danu mulai
mendapatkan rejeki tak terduga—hasil panen melimpah, uang mengalir deras,
bahkan usaha kecil-kecilan yang ia mulai berkembang pesat.
Namun lambat laun, mimpi buruk
menghantui tidurnya. Ia sering bermimpi diseret oleh tangan gelap ke dalam
pusara tua. Tubuhnya melemah, wajahnya pucat, dan ia mulai kehilangan semangat
hidup.
Suatu malam Jumat Kliwon
berikutnya, Danu kembali ke makam tua, berniat membayar utangnya. Tapi tak ada
sosok lelaki tua, hanya kabut tebal dan suara tawa menyeramkan.
Danu sadar, pesugihan bukan
hadiah, melainkan jebakan. Janji kekayaan datang dengan harga kehilangan bagian
dari jiwanya.
Ia berdoa, memohon ampun dan
meminta dilepaskan dari ikatan gaib itu. Sejak itu, meski hidupnya tak semulus
dulu, Danu memilih jalan jujur, dan perlahan hatinya mulai menemukan kedamaian.
Selesai.

Comments