Malam Ketindihan
Malam Ketindihan
Siswa SMP. Plus Maulana Malik Ibrahim Bojonegoro
Faiz, Bintang, dan Fiyan adalah
tiga sahabat yang baru saja menginap di rumah Bintang, sebuah rumah tua yang
berada di pinggiran desa. Mereka sengaja menghabiskan malam bersama untuk
merayakan liburan sekolah.
Malam pertama terasa biasa saja.
Mereka tertawa, bercerita, dan memainkan permainan kartu hingga larut malam.
Namun saat mereka tertidur, Faiz merasakan sesuatu yang aneh.
Di tengah tidur lelap, tubuh
Faiz terasa berat, seolah ada yang menindihnya. Ia mencoba membuka mata, tapi
terasa seperti ada tekanan kuat di dada dan punggungnya. Suara bisikan pelan
mengisi ruang gelap kamarnya.
“Faiz… Faiz…”
Rasa takut merayap masuk, namun
ia tak bisa bergerak. Tubuhnya lumpuh, hanya matanya yang bisa bergerak.
Sesosok bayangan hitam berwujud manusia berdiri di ujung ranjang, dengan mata
merah menyala menatap tajam.
Faiz berusaha berteriak, namun
suara tak keluar. Hanya bisikan dingin yang semakin mendekat.
Keesokan paginya, Faiz bercerita
pada Bintang dan Fiyan tentang pengalamannya. Mereka percaya itu adalah
ketindihan, gangguan makhluk halus yang sering terjadi di rumah tua.
Malam kedua, giliran Bintang
yang ketindihan. Dia merasakan sosok yang sama, hanya kali ini bayangan itu
lebih agresif, bahkan mencakar udara di atas wajahnya.
Fiyan, yang belum mengalami,
semakin takut. Ia memutuskan mencari bantuan ke tetua desa.
Tetua desa memberi mereka mantra
dan nasihat untuk membersihkan rumah dari energi negatif.
Malam ketiga, dengan ritual dan
doa bersama, ketindihan itu tak muncul lagi. Namun Faiz, Bintang, dan Fiyan
tahu, pengalaman itu akan selalu melekat dalam ingatan mereka sebagai malam
penuh ketakutan yang menguji persahabatan dan keberanian.
Selesai.

Comments