Kekuatan Hati yang Diam
Kekuatan Hati yang Diam Mu’izzatin Nufus Bidzikrillah (Siswa SMP. Plus Maulana Malik Ibrahim Bojonegoro) Matahari belum sepenuhnya terbit ketika bel sahur berbunyi di Pesantren Maulana Malik Ibrahim Bojonegoro. Para santri putri bergegas bangun untuk menjalankan puasa Senin-Kamis yang dianjurkan oleh Kyai Ihsanuddin. Di antara kerumunan santri putri yang mengantri untuk mengambil sahur di kantin, seorang gadis berkerudung biru muda berdiri sendirian di ujung barisan. "Itu dia si pendiam," bisik Ulfa cukup keras pada Rizka yang berdiri di sampingnya. "Anak ustadz yang sok suci." Iza, gadis berkerudung biru muda itu, pura-pura tidak mendengar. Ia hanya menundukkan kepala, menggenggam nampan makannya sedikit lebih erat. Di usianya yang baru lima belas tahun, ia sudah terbiasa menjadi bahan gunjingan dan ejekan selama enam bulan tinggal di pesantren. "Eh, Iza!" panggil Rizka dengan nada dibuat-buat. "Nanti coba tanya Ustadz Nusa ya, kenapa...