Posts

Bayang-Bayang di Balik Mihrab

Image
Bayang-Bayang di Balik Mihrab Embun pagi masih menggantung di dedaunan pohon bambu ketika suara azan subuh mengalun dari masjid Pondok Pesantren Putri Darul Hikmah. Suara merdu Gus Fahri—putra sulung Kyai Hasyim—memecah keheningan fajar dengan lantunan yang begitu menyentuh kalbu. Di balik jendela kayu asrama, puluhan pasang mata santri putri mengintip dengan wajah bersemu merah. Sari menghela napas panjang sambil menatap bayangan tinggi yang bergerak di balik kaca masjid. Sudah tiga tahun ia mondok di sini, namun setiap kali mendengar suara Gus Fahri, jantungnya masih berdebar seperti burung yang ingin terbang. Gadis berusia tujuh belas tahun itu tidak pernah menyangka bahwa perasaan yang selama ini ia pendam rapat-rapat ternyata juga dirasakan oleh santri lain. "Subhanallah, suaranya hari ini lebih merdu dari biasanya," bisik Dewi, teman sekamarnya, sambil mengelus dada. Sari hanya tersenyum tipis. Ia tahu Dewi juga mengagumi Gus Fahri, tapi sejauh ini mereka berdua mas...

Rahasia di Balik Lemari Kayu

Image
Rahasia di Balik Lemari Kayu Subuh masih menyisakan keheningan di koridor Pondok Pesantren Nurul Hidayah ketika Bu Nyai Siti Khadijah melangkah pelan menuju kamar santri putri blok C. Langkahnya terhenti di depan pintu kamar 7, tempat lima santri putri menimba ilmu. Aroma tak sedap menyeruak dari celah pintu, membuatnya mengernyitkan dahi. "Astaga, bau apa ini?" gumamnya sambil mengetuk pintu dengan keras. Dari dalam terdengar kegaduhan. Suara-suara terburu-buru, seperti orang yang sedang menyembunyikan sesuatu. Kamilah yang membuka pintu, wajahnya pucat pasi. "Assalamu'alaikum, Bu Nyai," sapanya dengan suara bergetar. "Wa'alaikumussalam. Bau apa ini, Nak?" Bu Nyai melangkah masuk, hidungnya semakin mencium aroma asam yang menyengat. Kamar itu tampak rapi, terlalu rapi untuk ukuran kamar lima santri putri remaja. Sprei dikencangkan dengan sempurna, buku-buku tertata dengan presisi militer, dan tidak ada sedikitpun sampah yang berserakan. Namu...

Misteri Sandal yang Menghilang

Image
  Misteri Sandal yang Menghilang Subuh itu terasa berbeda bagi Khadijah. Bukan karena embun yang lebih tebal dari biasanya, atau karena suara adzan yang bergema dari menara masjid pesantren Al-Hikmah yang terdengar lebih khusyuk. Tetapi karena sesuatu yang hilang—sepasang sandal jepit biru muda kesayangannya. "Astaghfirullah... kemana ya sandalku?" gumam Khadijah sambil menggaruk kepalanya yang tertutup kerudung putih. Matanya yang jernih itu menyapu seluruh area depan kamar nomor 15, asrama putri lantai dua. Khadijah ingat betul, tadi pagi setelah subuh ia meletakkan sandal itu tepat di depan pintu kamarnya sebelum masuk untuk mengambil Al-Qur'an yang tertinggal. Hanya lima menit ia tinggalkan, tapi ketika keluar, sandal itu sudah lenyap bagai ditelan bumi. "Dijah, kenapa masih di sini? Kajian Ustadzah Maryam sudah mau mulai," tegur Aisyah, teman sekamarnya yang baru keluar dari kamar. "Sandalku hilang, Ais. Yang biru muda itu lho," jawab Khadij...

Sang Pengabdi

Image
  Sang Pengabdi Subuh masih menggantung di langit ketika Ahmad Fadhil bergegas menuju kamar Kyai Hasan. Langkahnya tergesa, seperti biasa, karena ia tahu betul bahwa sang kyai tidak suka menunggu. Di tangannya tergenggam segelas teh manis hangat dan sepiring pisang goreng yang masih mengepul. "Assalamu'alaikum, Kyai," sapanya sambil menunduk dalam. "Wa'alaikumussalam. Taruh saja di meja, Dhil." Kyai Hasan bahkan tidak mengangkat kepala dari kitab kuning yang sedang dibacanya. Fadhil menata hidangan dengan hati-hati. Sudah dua tahun ia melayani Kyai Hasan, sejak ia masuk pesantren ini. Statusnya memang istimewa—seorang santri pengabdi yang mendapat kepercayaan khusus untuk mengurus kebutuhan sehari-hari sang kyai. Posisi yang dipandang mulia oleh santri lainnya, namun juga yang membuat hidupnya... rumit. "Kyai, kulo nuwun permisi, mau ke kelas dulu," ujar Fadhil setelah memastikan semuanya tertata rapi. "Hmm." Kyai Hasan hanya mengan...

Jejak Kembar yang Hilang

Image
Jejak Kembar yang Hilang Senja itu terasa berbeda bagi Sari Dewananda. Gadis berusia dua puluh tahun itu duduk termangu di teras Pesantren Putri Al-Hikmah, menatap langit yang berubah dari jingga menjadi ungu kelam. Di tangannya tergenggam sebuah surat tua yang barusan diterimanya dari kampung halaman. "Sari, kenapa murung terus sejak tadi?" tanya Ustadzah Khadijah, pengasuh pesantren yang sudah seperti ibu sendiri baginya. "Ini, Ustadzah," Sari menyodorkan surat itu dengan tangan gemetar. "Simbah saya meninggal kemarin. Dan ini... wasiat terakhir beliau untuk saya." Ustadzah Khadijah membaca surat itu dengan alis berkerut. Tulisan tangan nenek Sari yang sudah gemetar itu menyampaikan sesuatu yang mengejutkan: Sari sayang, ketika kamu membaca surat ini, Simbah sudah tidak ada. Ada rahasia besar yang selama ini Simbah simpan. Kamu punya saudara kembar, namanya Fitri. Kalian dipisahkan sejak bayi karena keadaan yang sulit. Sekarang, waktunya kalian bert...

Rahasia di Balik Doa Tengah Malam

Image
Rahasia di Balik Doa Tengah Malam Kyai Hasan menatap langit malam yang bertabur bintang dari beranda pesantrennya. Usia tujuh puluh lima tahun membuatnya semakin merasakan beban waktu. Pondok Pesantren Al-Hidayah yang telah diasuhnya selama empat dekade membutuhkan penerus, tapi dia belum menemukan sosok yang tepat di antara santri-santrinya. "Gus Hasan," panggil Kyai Ahmad, sahabat lamanya yang datang berkunjung dari Pesantren Al-Nur Jombang. "Sampeyan katon mikir banget. Ana apa?" "Kang Ahmad," keluh Kyai Hasan sambil menghela napas panjang, "aku bingung golek penerus pesantren iki. Wes akeh santri sing pinter, nanging kok rasane durung ketemu sing bener-bener cocok." Kyai Ahmad mengangguk paham. Dia menghadapi masalah serupa di pesantrennya. "Pinter thok ora cukup, Gus. Sing dibutuhke iku jiwa kepemimpinan, keikhlasan, lan sing paling penting—barokah." "Lha iya. Makane aku pengen njaluk bantuan sampeyan. Kita bareng-bareng ...

Pelajaran Tersembunyi

Image
Pelajaran Tersembunyi Sebuah cerpen karya inspirasi Kyai Abdurrahim duduk termangu di teras rumahnya yang menghadap ke halaman pesantren Darul Hikmah. Matanya yang biasanya teduh kini dipenuhi kegelisahan. Sudah tiga hari putri semata wayangnya, Siti Aisyah, tidak pulang ke rumah. Gadis berusia tujuh belas tahun itu terakhir kali terlihat sedang berbelanja di pasar Madiun bersama temannya, Fitri. "Pak Kyai, ada tamu," ujar Gus Wahid, santri senior yang membantu mengurus administrasi pesantren. Kyai Abdurrahim menoleh. Di depannya berdiri seorang pria paruh baya dengan wajah kusut dan mata sembab. Itu Pak Sumardi, ayah Fitri. "Assalamu'alaikum, Pak Kyai," sapa Pak Sumardi sambil mencium tangan sang kyai. "Wa'alaikumussalam. Ada apa, Pak Sumardi? Wajahnya kok pucat begitu?" Pak Sumardi duduk di kursi rotan sambil mengelap keringat di dahinya. "Pak Kyai, Fitri sudah pulang tadi malam. Tapi dia cerita... cerita yang sangat aneh." Kya...