Bayang-Bayang di Balik Mihrab
Bayang-Bayang di Balik Mihrab Embun pagi masih menggantung di dedaunan pohon bambu ketika suara azan subuh mengalun dari masjid Pondok Pesantren Putri Darul Hikmah. Suara merdu Gus Fahri—putra sulung Kyai Hasyim—memecah keheningan fajar dengan lantunan yang begitu menyentuh kalbu. Di balik jendela kayu asrama, puluhan pasang mata santri putri mengintip dengan wajah bersemu merah. Sari menghela napas panjang sambil menatap bayangan tinggi yang bergerak di balik kaca masjid. Sudah tiga tahun ia mondok di sini, namun setiap kali mendengar suara Gus Fahri, jantungnya masih berdebar seperti burung yang ingin terbang. Gadis berusia tujuh belas tahun itu tidak pernah menyangka bahwa perasaan yang selama ini ia pendam rapat-rapat ternyata juga dirasakan oleh santri lain. "Subhanallah, suaranya hari ini lebih merdu dari biasanya," bisik Dewi, teman sekamarnya, sambil mengelus dada. Sari hanya tersenyum tipis. Ia tahu Dewi juga mengagumi Gus Fahri, tapi sejauh ini mereka berdua mas...