Posts

Gadis dari Leiden

Image
  Gadis dari Leiden Khalila Alkyra Zaahid Siswi SMP. Plus Maulana Malik Ibrahim Bojonegoro   Bogor, 1939 Suara gamelan dari desa Sukasari mengalun pelan dibawa angin pagi. Embun belum sepenuhnya surut dari rerumputan, dan langit masih menyimpan sisa-sisa cahaya malam. Di teras belakang rumah Residen Belanda, seorang gadis muda berdiri memandang perbukitan jauh, mengusap lehernya yang mulai berkeringat. Anna van der Meer , 19 tahun, baru dua minggu menginjakkan kaki di tanah Hindia—negeri yang selama ini hanya hidup dalam dongeng ibunya dan catatan ilmiah ayahnya. Di tangannya ada buku puisi Belanda kuno, terbuka tapi tak dibaca. Ada sesuatu yang lebih menarik baginya daripada bait-bait pujangga: dunia baru yang belum ia mengerti, namun memikat seperti misteri musim panas yang belum datang. Hari itu ia mengenakan gaun putih polos, rambutnya dikepang sederhana, dan wajahnya mengandung sesuatu yang belum pernah ia kenali sebelumnya—rindu yang belum sempat tumbuh. “A...

Jejak Peluru di Senja

Image
  Jejak Peluru di Senja Syauqi Muhammad Siswa SMP. Plus Maulana Malik Ibrahim Bojonegoro   Senja mulai turun perlahan, menyirami hutan bambu di pinggiran desa dengan warna emas yang merona. Angin lembut menggesek dedaunan, membawa aroma tanah basah dan cerita lama yang tersimpan di balik setiap batang bambu. Di antara pepohonan, sekelompok tentara Indonesia merayap perlahan. Mereka mengenakan seragam lusuh, membawa senjata yang sederhana, dan wajah-wajah mereka menyimpan harapan yang tak pernah padam. Di antara mereka, berdiri seorang pemuda bernama Jaya, matanya tajam memandang ke depan, hati penuh semangat perjuangan. Pak Rahman, pemimpin kelompok itu, menghentikan langkahnya dan berbisik, “Jaya, kita harus waspada. Pos Jepang itu bukan sekadar tempat, tapi pintu neraka bagi kita.” Jaya mengangguk, napasnya berat, tapi tekadnya lebih berat lagi. “Aku tahu, Pak. Tapi kita tidak bisa diam saja, bukan?” Mereka menyelinap lebih dekat, suara alam menjadi saksi b...

Bambu, Peluru, dan Pengkhianatan

Image
  Bambu, Peluru, dan Pengkhianatan A. Farel Azzamy Siswa SMP. Plus Maulana Malik Ibrahim Bojonegoro   Pagi hari di lereng Gunung Gede selalu memberi kedamaian. Kabut tipis melayang di antara pohon-pohon damar, dan angin membawa aroma tanah basah dan kayu bakar. Di jalan kecil yang melintasi desa Pasirwangi, seorang pemuda berambut hitam lurus, mengenakan baju lengan panjang dan celana kain abu-abu, menuruni jalan dengan langkah ringan. Namanya Shong Hujou , 24 tahun, keturunan Tionghoa-Indo, lahir dan besar di Batavia. Ia bukan tentara, bukan pula pegawai pemerintah. Ia hanya seorang pengamat, penulis, pencatat dunia. Hari itu, ia berniat menjelajahi desa-desa di kaki gunung, mencari cerita rakyat dan tradisi yang masih hidup. “Indah sekali di sini,” gumamnya sambil mengusap peluh dari kening. “Seperti tempat yang lupa pada dunia.” Namun, saat ia baru menapakkan kaki di jembatan bambu menuju desa, seorang anak kecil berlari dengan napas tersengal-sengal. “ Kakak!...

Seragam Merah Putih

Image
  Seragam Merah Putih Rado Satriya Putra   Langit desa Karangjati masih diselimuti kabut tipis saat suara ayam jantan berkokok memecah sunyi. Di dapur, aroma nasi liwet dan tempe goreng mengepul dari tungku tanah liat. Seorang bocah laki-laki, Prawira , duduk di lantai sambil mengikat tali sepatu lusuh miliknya. Seragam merah putihnya, yang telah memudar warnanya, tampak rapi disetrika meski dengan bara dari besi gosok tua. “Nak, ini... Ibu jahitkan lencana kecil,” ujar Ibu Prawira , sambil menyematkan kain flanel merah-putih di dada seragam anaknya. “Lambang ini... meskipun kecil, lebih berat dari ransel tentara.” Prawira mengangguk. Ia belum sepenuhnya mengerti, tapi hatinya terasa hangat. Ia bangga mengenakan seragam itu, sekalipun sekolah rakyatnya kadang tutup mendadak karena patroli tentara Jepang. “Bu,” katanya sambil mengunyah tempe, “Kalau ketemu tentara Jepang, aku harus bagaimana?” “Jangan banyak bicara. Jangan lari. Tapi kalau mereka mulai marah... la...

Bayangan di Pagi Buta

Image
  Bayangan di Pagi Buta Azka Nurfi Abdillah Pratama Siswa SMP. Plus Maulana Malik Ibrahim Bojonegoro   Fajar baru saja mengangkat kabut dari atas sawah ketika suara sepatu bot menghantam tanah berulang kali di barak militer Jepang di pinggir kota. Barak itu berbau logam dan pelumas senjata. Di serambi, berdiri seorang pria berwajah keras—Xin Liyu, komandan yang selalu berbicara seperlunya, namun setiap katanya membawa bayangan maut. “ Kaigi ! ” panggilnya singkat kepada bawahannya. Beberapa perwira muda segera berlutut di depannya. “Sekolah Rakyat di kampung sebelah… saya dengar di sana ada guru yang mengajari muridnya membaca naskah terlarang,” ucap Xin Liyu dengan nada datar. “Hari ini, kalian serbu. Siapa pun yang melawan… korosu ! .” Sersan Ito menunduk, “ Hai ! Kami akan bertindak cepat, Taishō . ” “ Tidak cepat saja, ” tambah Xin Liyu, “ Pastikan semua orang tahu, melawan Dai Nippon hanya berujung pada kematian. ” ………….. Sementara itu, di sebuah rumah pa...

Gugurnya Janji di Ujung Senja

Image
  Gugurnya Janji di Ujung Senja Aldo Zakaria   Siswa SMP. Plus Maulana Malik Ibrahim Bojonegoro  Tahun 1939. Desa Kramat Laut di pesisir utara Jawa adalah dunia yang bergerak pelan. Jalan tanah berdebu di musim kemarau, becek penuh lumpur di musim hujan. Pagi hari selalu diawali suara ayam jantan bersahutan, aroma nasi jagung mengepul dari dapur, dan suara gemericik sungai yang mengalir di tepi kampung. Di bawah pohon waru tua yang condong ke arah air, seorang gadis duduk menenun tikar pandan. Kulitnya bersih kecokelatan, rambutnya tergerai dikepang sederhana. Itulah Sari—anak satu-satunya Pak Wiryo, pedagang beras yang disegani di kampung. Dari kejauhan, terdengar derap sepatu lars tak…tak…tak… mendekat. Warga yang sedang mencuci di pinggir sungai spontan menoleh. Seorang lelaki tinggi berseragam cokelat kehijauan muncul, topi baja di lengannya, bahunya tegap. Kapten Willem van Dijk, tentara Belanda yang sering mondar-mandir ke desa untuk patroli. Ia berhen...