Posts

Pocong naik Dokar

Image
Moh. Kholil Mughofar “Hei kang! Sudah dengar kabar tentang hantu pocong yang belakangan ini mulai meneror warga kampung?” Pak Parjo memulai obrolan malam itu. Bersama kang Amin dan kang Majid santri ponpes al Kholiliy yang kebetulan juga sedang ngopi di warung kang Manto depan pondok. “Ya… sekedar dengar, Pak. Aku kira cuma kabar bohong… biar rame saja…” Kang Amin menanggapi santai pertanyaan orang kampung yang sering diajak tindakan [1] Abah Yai itu. Memang kyai Kholilketika tindakan selain mengajak santrinya sendiri juga sering mengajak serta orang kampung yang akrab dengan beliau. Kang Manto keluar dengan membawa 3 cangkir kopi pesanan ke 3 pelanggannya. “Itu beneran kang!” Lalu dia ikut nimbrung dalam obrolan itu. “Mbah Dirman yang jualan lontong di perempatan desa Bangilan melihatnyadengan mata kepalanya sendiri sampai-sampai dia ngompol di celana!” “Ah… masa’ to, Kang??” “wong dia cerita langsung kesaya kok. Sudah banyak yang jadi saksi!” “Sampai daerah sini atau tid...

Sayonara

Image
( Cerita ini adalah 2 tahun yang lalu saat aku masih MTS ) Oleh: Beit La_Fieda Hari demi hari tak terasa silih berganti. UN yang begitu menegangkan telah usai. Meskipun begitu, tetap saja kami masih merasakannya. (huh…) Setelah satu bulan menunggu… kini tibalah hasil UN dibagikan. Seluruh siswa masuk ke ruang kelas masing-masing. Beribu perasaan yang tak menentu membuat badan kami dingin dan berkeringat. (Dag-dig-dug-der!) Detak jantung berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Entah apa yang sedang kami fikirkan saat itu? Gosip miringpun sampai ke telinga kami… “Ada 3 murid yang tak lulus”. Aku jadi gelisah… entah dengan perasaan teman-teman? Tepat pukul 11:00 amplop-amplop yang berisi selembar kertas yang tertera lulus-tidaknya siswa terlihat siap untuk dibagikan. Memang, sih… kelulusan sudah tidak ditentukan oleh Negara, tapi oleh pihak sekolah sendiri. Tapi, tetap saja hatiku mulai menggantung.  Aku tak kuasa melihat guru yang akan membagikan amplop itu berdiri...

Mencoba Bertahan Di Sini

Image
Oleh: Intan E. N. A. “Tilawah itu selalu membuatku harus tersedu” Dulu ceritanya awal aku pergi teng pondok karena dari tekad dan keinginanku sendiri. Sebab kedua orang tua tidak mau memaksa saya terkait pendidikan. Entah itu formal ataupun non formal. Dan alhamdulillah akhirnya saya diikutkan mondok mbak Susi (sekarang istri ustadz Muharrom) di PP. Adnan Al Charish. Terkait keluarga saya ,,, orang tua saya hanya pekerja tani. Bapak di samping tani punya tanggungan ngurusi masjid meskipun beliau tidak lulusan pondok dan tidak pula lulusan madrasah. Bapak dulu hanya ikut ngaji tiap sore. Dan setiap hari jumat atau ketika PHBI, malam takbiran untuk prepare sholat ied bapak bertugas membersihkan mulai halaman dan masjid sendiri. Dan ibu sayapun bukan lulusan pondok. Latar pendidikan keluarga saya benar-benar sangat biasa. Punya keinginan mondok sebenarnya ingin pondok pesantren yang ada hadrahnya, sebab saya merasa senang dan ayem setiap melihat hadrah. Dulu sempat saya pun...

Menjadi Santriyat

Image
Oleh: Mbak Tuta “Waktu awal-awal jadi santri itu ...” Nami kulo Siti Barrotut Taqiyah saking Bojonegoro. Kalau nama beken kulo yang biasa diperkenalkan oleh bapak; Mbak Tuta. Heee. Dan berikut adalah sekilas cerita mondokku ... Tahun 2008 tamat MI saya dikirim ke pondok Adnan Al Charish. Perasaanku kemudian? Sedih. Merasa tidak punya teman. Pengen mantuk kangen ibuk (heee). Gak karu-karuan pokoke. Itu berjalan sampai kira-kira satu tahun. Selama itu aku sering pulang. Kelas 6 ibtida’ terasa sangat berat karena faktor belum kerasan. Sampai-sampai pas tamrin karena aku sering mantuk kitabku bolong-bolong. Akhirnya bapak memintakan keringanan pada panitia (isin aku) agar aku tetap bisa mengikuti tamrin. Hmm perjuangan orang tua. Untuk kelas selanjutnya insyaallah baik-baik saja. Saat sudah tamat diniyah rasanya sedih dan ada rasa kecewa. Kecewa sebab kurang puas sebenarnya. Baru menyesal. Suram pokoknya. Yah memang penyesalan selalu di akhirkan. Bapak yang termasuk tenaga...

Rain & Rainbow

Image
Oleh: Setangkai Mawar “Dan akhirnya kuputuskan juga” Pada akhirnya, saya memutuskan melanjutkan study kesini, ditempat ini, PP Alcha. Bojonegoro city *meski ini bukan keinginsaya* saya hanya percaya pilihan mama dan papa adalah yang terbaik. Berjalan di tempat baru, suasana baru, cerita baru, kawan baru. eaaa semuanya serba  baru. Tangis demi tangis, tawa demi tawa, mengalir kujalani *ini baru awal*. Meski sempat berniat bunuh diri dipohon tomat *sayangnya tidak ada* bahkan boyong *bahasa orang sini*, gimanapun caranya saya harus tetap disini. Gak mau putus asa sama keadaan, nyerah dengan semua problematika *ohh no.no.no. itu bukan saya banget*. Kasihan kan cita citsaya. *Cinta menjadikanku kuat *ehhmmm…eaa* Semua berawal dari cinta *Power Of Love* Cinta dari mama dan papa Cinta dari brother and sister Cinta dari sanak family Cinta dari teman dan sahabat Cinta dari ustad dan ustadzah Cinta dari…..????ummm Cinta dari…????emmmm ahaa”DIA” Kepergianku...

Waktu Preparing FBM

Image
Oleh: Iin “Mustahiq dan murid-muridnya” Pak Sahal masuk kelas dengan menenteng kitab Kifayatul akhyar birunya. Segera Ulya dan kawan-kawannya ambil posisi tapal kuda dengan semanis mungkin. Salam pembuka terucap dengan balasan seperti biasa. Selanjutnya pak Sahal memulai kelas malam itu dengan satu pertanyaan: “Piye persiapane?”

Kita Jadi Rival!

Image
Oleh: Immeyra_Angel Aku suka sekali menulis. Aku pikir jadi penulis adalah cita-cita yang keren. Aku sangat senang ketika ceritaku muncul di THALIBAN, walaupun bukan karya utuhku. Ada sahabat-sahabat setiaku yang membantuku, Atul dan Dinda. Dan dari saat itulah semua dimulai. Entah karena apa Mala selalu sinis padaku. Mungkinkah dia iri atau gak suka dengan sikapku? Saat Dinda bilang suaraku lumayan, Mala sahabatku dulu itu terus-terusan menyanyi. Aku akui suaranya bagus. Bagus banget, malah. Tapi sayang tidak ada yang pernah memujinya. “Kebanyakan orang yang bisa nyanyi itu pinter” Ngendikan’ ipun [1] ustadz Aziz waktu ngajar diniyah sore itu. Seusai diniyah Mala membuat heboh seisi kamar. “Hey… seneng, deh dipuji sama ustadz Aziz. Katanya orang yang pandai nyanyi dan suaranya bagus itu pinter… wah, berarti aku pinter, dong, ya?” Kata Mala. “Yang bener, mbak La ustadz Aziz ngendika gitu?” Tanya Ria. “Iya-lah… bagus, kan!!!” “Perasaan ustadz Aziz gak ngarahkan kat...